Martapura

Lebaran kali ini, seperti biasa, aku mudik ke kota kelahiranku: Martapura. Bukan Kota Martapura di tanah Borneo yang kesohor sebagai penghasil batu mulia kelas dunia itu, melainkan Desa Martapura, sebuah desa yang sekarang sudah layak disebut sebagai kota kecil. Letaknya di tepian timur Sumatera Selatan, enam jam perjalanan dari Palembang dan berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung.

Sudah delapan tahun aku meninggalkan kota kecil ini, hanya pulang saat lebaran dan tidak sampai satu minggu setelahnya, aku sudah harus kembali berada di Palembang. Namun begitu, di setiap sudut kota tempat kuhabiskan 15 tahun pertama dalam hidupku ini tentu saja berserakan kenangan-kenangan masa kecil, yang kita sama-sama sepakat, tak akan pernah terlupakan.

Seingatku, delapan tahun yang lalu saat pertama kali aku pergi dari Martapura, semuanya masih asri, masih lestari. Padi-padi di petak-petak sawah pinggir jalan sudah mulai menguning, sudah siap dipanen. Berbeda dengan hari ini, sawah-sawah yang dahulu menjadi tempat bermain favoritku sepulang sekolah, telah menjelma lapangan futsal dan ruko-ruko.

Mungkin bagi pemilik sawah-sawah itu, membangun ruko dan lapangan futsal lebih menguntungkan daripada harus terus menanam padi di tengah cuaca yang tak bisa lagi tertebak saat ini. Dan sepertinya sawah-sawah yang semakin banyak beralih fungsi menjadi mesin penghasil uang jenis lain itu adalah salah satu penyebab mengapa bangsa yang tenar dengan swasembada berasnya pada tahun 1980-an, sekarang malah menjadi negara yang bergantung kepada impor beras dari negara lain.

Selain sawah, yang berubah dari Martapura adalah tata kotanya yang kini lebih modern, jalan raya yang dahulu hanya cukup dilalui dua mobil besar, kini sudah lebih lebar, lampu-lampu jalan beragam bentuk pun menjadi pemanisnya. Jalan-jalan desa yang dahulu masih berupa tanah merah pun, kini telah dilapisi aspal, meskipun setiap tahun harus diperbaiki karena kualitas aspal yang digunakan tidak berbanding lurus dengan dana yang dikeluarkan untuk proyek pembangunan jalan itu.

Ah, rasanya tak akan cukup menuliskan semua perubahan yang telah terjadi selama delapan tahun ini dalam sekali duduk. Ternyata delapan tahun bukan waktu yang sebentar untuk perubahan. Mungkin aku harus lebih sering pulang agar kota ini tidak menjadi semakin asing bagiku.

__________________________________

#TantanganNulis Setting oleh @JiaEffendie

Iklan

2 komentar

  1. waaa.. itu kenapa udah 15 agustus aje sih kak…. -__- masih tanggal 7 inih….

    1. tapi kan ini bulan september, kaaaaaak T_T

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: