Wajah

Aku berdiri di hadapan cermin persegi di bawah pijar lampu kamar indekosku. Rasanya sudah lama aku tak memperhatikan bayangan diriku sendiri seperti ini. Wajah yang sudah hampir 23 tahun bertengger di bagian muka kepalaku ini ternyata sudah mulai terlihat garis-garis penuaannya. Ah, seandainya saja krim-krim anti-penuaan yang bertebaran di iklan-iklan televisi itu juga dibuat untuk laki-laki, pasti sudah kuborong untuk stok selama beberapa bulan. Ya, aku tahu semua yang terjadi selama 30 detik di iklan itu hanyalah permainan efek visual agar yang menyaksikannya tertarik untuk membeli produk-produk tersebut. Tapi, aku tertarik. Siapa pula yang tidak ingin awet muda?

Tak terasa ujung rambut di sisi kepalaku sudah menyentuh daun telinga, poniku juga hampir menyentuh alis, menutupi dahiku yang sebenarnya tidak terlalu lebar. Padahal belum sampai satu bulan yang lalu kurapikan rambutku di Pangkas Rambut Priangan, tempat potong rambut bernuansa Sunda di kota Pempek. Entah apa sebutan untuk gaya rambut hitam lurusku ini. Setiap kali Kang Fery bertanya rambutku mau dipangkas seperti apa, alih-alih menjawab dengan nama-nama artis yang sedang naik daun, atau pemain sepak bola yang gaya rambutnya selalu menjadi tren anak muda masa kini, aku selalu mengeluarkan kalimat klise yang sebenarnya dia sudah hafal betul: dirapikan saja.

Aku memang tak pernah macam-macam soal potongan rambut, aku bahkan tak pernah menyisir rambutku, aku hanya menyugar seperlunya saja setiap hendak bepergian, tak peduli apakah untuk datang ke acara-acara formal atau sekadar hang-out bersama teman-temanku. Sebab itu aku tak pernah punya sisir, tak akan terpakai juga.

Sebenarnya kegiatan memangkas rambut cukup menguras isi dompetku, karena rambutku yang lebat selalu tumbuh lebih cepat dari rambut orang-orang kebanyakan sehingga semakin seringlah aku bertemu dengan Kang Ferry atau pegawainya. Sepertinya kelebatan rambutku berbanding lurus dengan tebalnya alisku. Tebal dan tidak rapi. Memang tak pernah kurapikan, kupikir hanya wanita saja yang suka merapikan alis mereka.

Hei mata itu menatap mataku! Mata yang terlalu sering dipaksa terjaga semalaman suntuk sambil menatap layar laptop. Tak heran lagi garis cekung di bawahnya begitu kentara. Tapi ada satu hal yang cukup unik dari mataku, ialah bulu mata yang terbilang lentik untuk mata seorang laki-laki. Selebihnya biasa saja. Seperti mata orang-orang Asia Tenggara kebanyakan.

Ah, iya, masih ada garis samar itu di sudut luar mata kananku. Bekas luka dua jahitan. Tak terputus dari kelopak mata bagian bawah hingga satu senti ke arah kanan bawah. Melihatnya aku jadi teringat hari pertama Ramadan tahun 2005.

Sore itu sudah hampir mendekati magrib, tapi aku masih melaju di atas sepeda motor, menyusuri jalanan di kota kecilku sembari menanti saat berbuka. Kemudian terdengar suara azan dari masjid yang kulewati. Mendengar panggilan salat tersebut, kukencangkan laju kuda besiku. Baiklah, sebenarnya bukan karena panggilan salat, tapi karena membayangkan kurma dan makanan berbuka yang pasti telah tersaji di atas meja makan.

Jalanan yang sepi membuatku semakin beringas melesatkan sepeda motor hingga aku tak dapat mengendalikannya. Dan terjadilah kecelakaan tunggal tepat di tikungan tajam yang kata orang ‘ada penunggunya’, membuatku harus berbuka puasa di ruang Unit Gawat Darurat di rumah sakit. Kecelakaan itulah yang meninggalkan kisahnya di sudut mata kananku ini, yang pernah membuat aku nyaris kehilangan sebelah penglihatanku.

Aku kembali memperhatikan wajahku sendiri, kuusap pipiku perlahan dan kurasakan tekstur yang kasar. Jerawat. Aku menghela napas dalam, masalah yang telah menerpaku sejak di bangku SMP. Tak peduli sabun antijerawat merk apa pun yang kupakai, jerawat-jerawat akan selalu bersemi dengan sukacita di pipiku. Hidungku yang tidak terlalu mancung ini pun tak luput dari gempuran jerawat. Kulitku memang termasuk kulit yang sensitif—begitu kata dokter kulit kepadaku, bahkan untuk mandi pun aku hanya boleh memakai sabun mandi untuk bayi. Miris.

Eh, apa yang sedang kulakukan? Tak biasanya aku berlama-lama di depan cermin, lazimnya hanya saat mencukur kumis tipis di atas bibir yang seperti milik perokok berat ini. Menurutku ini hal yang aneh, berada di dekat orang yang merokok saja aku bisa batuk-batuk tak keruan, namun bibir gelap ini tak pernah gagal membuat orang-orang yang baru kukenal menawarkan rokoknya kepadaku, dan dengan senyum yang dipaksakan aku akan selalu menolaknya.

Mumpung sedang di depan cermin sekalian sajalah kucukur kumis dan kurapikan sedikit janggut tipis yang tumbuh di daguku. Aku memang lebih memilih memelihara janggut daripada memelihara kumis. Menurutku kumis membuatku terlihat lebih tua, meskipun kebanyakan orang berpikir janggutlah yang bertanggung jawab saat seseorang terlihat lebih tua dari umurnya. Tapi apa pun alasannya, aku tak pernah nyaman memelihara kumis.

Setelah janggutku cukup rapi, aku tersenyum kepada bayanganku sendiri. Namun sedetik kemudian air mukaku berubah masam. Aku seringkali mengutuk lesung pipiku yang hanya akan tercipta di pipi kanan saat kusunggingkan senyum, membuat senyumku jadi tak seimbang. Seperti berat sebelah. Seandainya saja pipi kiriku juga punya lesung pipi, mungkin senyumku akan lebih menarik.

Tapi, bagaimanapun aku tak suka dengan beberapa bagiannya, wajah inilah yang dititipkan oleh penciptanya untuk kujaga, aku harus mensyukurinya. Karena wajah ini yang akan selalu kulihat, kapan pun aku berdiri di hadapan cermin. Seperti detik ini.

______________________

Tulisan ini diikutsertakan dalam #TantanganNulis oleh @JiaEffendie

Iklan

4 komentar

  1. Indah · · Balas

    Ooh bulu matanya lentik yah? You look beautiful, Put. 😀

    1. *kedipkedip*

  2. […] putra zaman – https://erasson.wordpress.com/2013/07/30/wajah/ […]

  3. […] 2. enny angelina, akan meneruskan kisah putra zaman:  https://erasson.wordpress.com/2013/07/30/wajah/ […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: