Pilihan

Siang ini Elma, Sandy, dan kedua orangtuanya baru saja sampai di bandar udara Adi Sutjipto. Sebenarnya yang akan berkuliah di Jogjakarta hanya Elma, namun semua anggota keluarga sengaja menemaninya karena anak bungsu mereka itu baru kali ini akan dilepas di tempat yang jauh dari rumahnya di Tangerang.

Beberapa minggu yang lalu, ayahnya telah mengurus semua keperluan untuk Elma, mulai dari hal-hal akademis hingga mencarikan indekos sebagai tempatnya tinggal selama menempuh pendidikan di Kota Pelajar tersebut.

Dengan taksi mereka menuju daerah Catur Tunggal di Sleman, hanya sekitar 10 menit perjalanan dari bandara ke tempat indekos yang telah ayahnya pilihkan untuk Elma. Tempatnya pun tak jauh dari STIE YKPN yang akan menjadi kampus Elma hingga ia meraih gelar Sarjana Ekonomi di sana, Elma hanya perlu berjalan kaki beberapa menit untuk sampai ke kampusnya.

“Yah, kenapa harus ngekos, sih? Tante Dzalika, kan, rumahnya di Jogja,” tanya Elma.

“Supaya kamu mandiri. Lagian rumah dia jauh dari kampus kamu,” tegas ayahnya yang duduk di samping sopir.

“Udah, jangan takut. Santai aja, El,” bisik Sandy.

“Tapi nanti aku sendirian, Kak,” Elma balas berbisik.

“Nggak, lah. Emangnya kamu sendiri yang kuliah di sana? Kamu harus pintar-pintar bergaul, El. Banyakin teman. Tapi harus tetap fokus kuliah.”

Elma menghela cukup panjang. Kalimat terakhir kakak perempuannya itu kembali mengingatkannya bahwa program studi yang akan dia tempuh selama beberapa tahun ke depan adalah Akuntansi, bukan Tata Boga seperti yang dia impikan sejak kecil.

Sepanjang perjalanan hingga sampai di depan indekosnya, Elma hanya diam. Dia terus memikirkan tentang masa depan pendidikannya yang tak sesuai dengan keinginannya. Dia takut tak akan mampu mengikuti perkuliahan dengan baik, dan banyak ketakutan lain yang menghinggapi hatinya.

Di pagar depan rumah yang berdinding kuning terang ini tergantung kertas yang dilaminasi dengan tulisan “TERIMA KOS KHUSUS PUTRI”. Rumah ini punya tiga kamar tidur dan masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Saat memasuki pintu utama, ruang tengah yang cukup luas namun terlihat rapi dan bersih menyambut mereka. Mungkin ini salah satu alasan pemilik rumah hanya menerima perempuan untuk indekos di sini, agar rumahnya lebih terawat dan lebih rapi. Bayangkan jika yang menyewa kamar adalah laki-laki yang lebih memilih menghabiskan waktu di luar daripada membereskan rumah.

“Halo! Selamat datang!” seorang wanita berwajah ceria menyambut mereka dengan senyum lebar. Lalu dia bergegas mencium tangan orangtua Elma juga mencium tangan Sandy penuh hormat, kemudian bersalaman dengan Elma.

“El, ini Seruni. Dia akan satu kamar dengan kamu,” ucap ayah Elma memperkenalkan.

“Salam kenal, ya, Elma. Kamu bisa panggil aku Uni, walaupun aku bukan orang Padang. Ha ha,” Seruni tertawa lepas diikuti oleh Elma sekeluarga. “Yuk, ke kamar,” ajaknya. Mereka pun beranjak mengikuti Seruni.

Hanya satu koper besar dan sebuah ransel yang dibawa Elma karena di dalam kamar semuanya sudah tersedia: lemari pakaian, tempat tidur, kipas angin, meja belajar. Sedangkan televisi dan dispenser ada di ruang tengah. Dapur dan dua kamar mandi terletak di bagian belakang rumah. Dari raut wajahnya Elma terlihat nyaman dengan kamar seluas 3×3 meter persegi tersebut.

Setelah membantu Elma membereskan kamar barunya serta memberikan wejangan-wejangan, Sandy dan orangtuanya segera kembali ke bandara dan pulang ke Tangerang.

***

“Uni, dua minggu pertama ini aku masih belum bisa nikmatin kuliahku. Aku takut nggak bisa ngikutin kuliah sampai lulus, aku takut ngecewain orangtuaku,” keluh Elma kepada Seruni.

“Ih, nggak boleh begitu, El. Baru mulai udah ngeluh. Jalanin dulu aja, nanti juga klik sendiri sama kuliahnya.”

“Tapi aku nggak suka Akuntansi, Uni, aku dulu jurusan IPA, tapi malah kuliah Akuntansi.”

“Jangan salah, El. Kebanyakan yang ambil prodi Akuntansi itu dari jurusan IPA, lho,” bela Seruni.

“Tapi bukan itu, sih, masalahnya. Sebenarnya passion aku di Tata Boga, tapi nggak pernah direstui ayah, dulu mau masuk SMK jurusan Tata Boga aja nggak diizinin.”

“Hmm… kamu ambil kursus aja, El. Di Budi Mulia Dua bagus tuh, nggak jauh juga dari sini.”

“Beneran, Uni? Ada kursus masak di dekat sini?” tanya Elma antusisas.

“Iya, ada. Di Wedomartani, 15 menitlah dari sini. Besok kita ke sana, deh.”

***

Elma dan Seruni keluar dari pintu kaca sebuah ruko bercat hijau pucat, di bagian atasnya terdapat plang bertuliskan “Budi Mulia Dua Cooking School”. Mereka berjalan ke bahu jalan, menunggu bus kota untuk pulang. Ada garis kecewa di wajah Elma, sedangkan Seruni berusaha menenangkannya.

“Mahal banget, Uni. Kalau aku minta duitnya sama ayah, pasti nggak akan dikasih.”

“Iya, sih, kemahalan kalau biayanya sejuta lebih, apalagi buat anak kos.”

Sebuah bus kota setop di hadapan mereka tanpa perlu memberi isyarat apa-apa. Sopir dan kondektur bus sepertinya telah paham betul kalau Elma dan Seruni tengah menantinya. Mereka pun naik ke dalam bus yang penumpangnya sudah hampir penuh itu.

“Kayaknya aku harus buang mimpi aku jauh-jauh deh, Uni,” ucap Elma bersahutan dengan raungan knalpot bus.

“Jangan begitu. Kamu nggak boleh nyerah!” Seruni harus sedikit berteriak agar suaranya tak kalah dengan deru mesin bus.

“Tapi gimana lagi? Biaya kursus pâtisserie di tempat lain pasti nggak jauh beda dengan biaya di sana tadi.”

“Kamu, kan, bisa belajar sendiri! Bisa belajar dari buku! Atau Youtube!” suara Seruni yang kecil membuatnya harus terus berteriak agar dapat terdengar. Elma diam, matanya menerawang. Dia mengangguk pelan tanda setuju dengan pernyataan Seruni.

Sesampainya di rumah, Elma dan Seruni pun segera membuka situs berbagi video Youtube dari laptop milik Elma. Jari-jarinya lincah mengetikkan kata kunci berbagai jenis masakan khas Prancis yang menjadi jenis masakan kesukaannya. Tak ayal matanya berbinar setelah mendapati ribuan kanal yang menayangkan tutorial-tutorial dalam meracik bahan-bahan mentah hingga menjadi kue-kue dan minuman-minuman favoritnya.

Sejak hari itu, Elma menjadi sering ke toko buku untuk mencari buku-buku resep masakan. Setiap hari sepulang kuliah dia selalu mencoba bereksperimen dengan resep-resep yang baru ditemukannya, dia juga membeli alat-alat dapur khusus pastry dengan uang tabungannya. Setelah beberapa bulan, dapur indekos telah berubah menjadi kitchen set pribadinya. Anak-anak indekos yang lain pun tak keberatan, karena Elma sering membuatkan kue-kue yang enak untuk mereka.

***

Hari ini, Icha—salah satu penghuni indekos—berulang tahun, dan dia meminta Elma untuk membuatkannya kue ulang tahun sekaligus kue-kue kecil lainnya. Rencananya siang ini Icha akan mengundang beberapa temannya untuk merayakan pesta kecil-kecilan di rumah mereka.

Sejak subuh, Elma sudah sibuk di dapur menyiapkan semua bahan yang akan disajikannya untuk pesta ulang tahun Icha. Dia dibantu Seruni, Icha dan penghuni indekos lainnya. Sekitar pukul delapan pagi, suasana dapur indekos sudah terasa seperti dapur-dapur di restoran mewah. Elma bertindak sebagai chef kepala memberi perintah kepada koki-koki lain yang mengikuti semua instruksinya. Elma terlihat begitu bahagia melakoni perannya pagi ini.

Pukul satu siang, teman-teman Icha mulai berdatangan. Ruang tengah telah disulap menjadi ruang pesta, Frasier Gâteaux dengan toping cokelat dan potongan strawberry yang menjadi kue utama telah tersaji di meja yang diletakkan ditengah-tengah ruangan. Sedangkan Foret-Noir berukuran mungil dihidangkan di meja lain sebagai kudapan bersama minuman ringan.

Setelah memastikan semua tamu undangan lengkap, ritual perayaan hari ulang tahun Icha pun dimulai. Seusai melakukan prosesi tiup lilin dan potong kue diiringi nyanyian khas ulang tahun, seluruh undangan yang hadir segera menyerbu kudapan buatan Elma yang menggugah selera itu.

Wajah-wajah puas tamu undangan tentu saja menggurat senyum bahagia di sudut bibir Elma, begitu sederhana bahagia baginya.

“Cha, kamu pesan kue-kue ini di bakery mana?” tanya Ilham penasaran.

“Nggak kok, Am, ini semua bikin sendiri. Tuh, chef-nya,” jawab Icha menunjuk ke arah Elma.

“Yang bener, Cha? Ini enak banget, rasanya kayak dari bakery mahal!” seru Ilham tak percaya.

Kemudian Icha dan Ilham segera mendekati Elma yang masih tersenyum menyaksikan kue-kue buatannya sudah tak bersisa.

“El, kenalin ini Ilham. Ilham, kenalin ini Elma, calon chef terkenal.” Elma dan Ilham bersalaman.

“Ini semua kamu yang bikin, ya, El? Bener kata Icha, kamu calon chef terkenal,” langsung saja Ilham mengungkapkan pujiannya.

“Ah, berlebihan kamu, Am. Aku suka aja bikin-bikin kue, dan kue-kue ini nggak bikin sendiri, tapi dibantuin teman-teman yang lain, kok. Tapi amin, deh, buat doanya,” pipi Elma merona merah.

“Aku serius, El. Kamu punya bakat, dan sadar nggak, bakat kamu bisa menghasilkan uang.”

“Maksudnya?”

“Kamu bisa mulai bisnis catering kecil-kecilan. Mulai dari sini dulu aja, jualnya bisa melalui Facebook atau Twitter,”

“Tapi kalau sendirian ngerjainnya, nanti gimana kuliahku?”

“Nggak sendirian, El, aku sama Icha bisa bantu buat marketing-nya, yang penting ada niat dulu, dan kamu harus berani memulainya.”

“Oke, deh, kupikir-pikir dulu, ya, Am.”

“Aku tunggu keputusan kamu secepatnya, ya. Nanti kita buat manajemen bisnisnya.”

***

Satu minggu setelah memikirkan tawaran Ilham matang-matang, akhirnya Elma setuju untuk memulai bisnis bakery catering rumahan. Ilham yang mengambil program studi Manajemen mengetahui betul bagaimana mengatur hal-hal mendetail mengenai bisnis yang akan dimulai oleh Elma ini. Diawali dengan membuat online-shop dari Facebook, akun Twitter untuk berpromosi, juga membuat selebaran-selebaran yang disebarkan di sekitaran kampus. Selain itu, mereka juga mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut.

Dua bulan pertama, Elma sudah dapat satu pelanggan yang rutin memesan kue-kue buatannya setiap akhir minggu. Saat ada acara-acara di kampusnya pun, anak-anak BEM yang telah mengetahui kualitas kue-kue buatannya selalu memesan snack kepada Elma.

Semakin hari, bisnis kue Elma kian berkembang, pesanan yang datang bukan hanya dari kota Jogjakarta, tapi sudah ada pesanan yang harus dikirim melalui jasa ekspedisi enam-jam-sampai. Meskipun biayanya mahal, namun pelanggan-pelanggannya terus bertambah. Pundi-pundi uang Elma pun terus terisi penuh. Kini penghasilannya dalam satu bulan sudah melebihi standar UMR.

Meskipun sudah terbilang sukses dengan bisnisnya, tapi Elma tak pernah memberi tahu orangtuanya, dia masih takut ayahnya akan marah. Namun begitu, dia selalu menceritakan kesuksesannya kepada Sandy yang kini tengah melanjutkan kuliah di Jerman melalui telepon. Sandy yang selalu mendukung adiknya itu merasa sangat bangga.

***

“Uniiii! IPK aku jelek banget!” Elma menangis melihat Indeks Prestasi Kumulatif-nya tidak seperti yang dia harapkan.

“Hmm… mungkin karena kamu terlalu sibuk sama bisnis kamu, El. Tapi aku nggak bisa nyalahin kamu juga, passion kamu memang di sana, dan kamu kuliah karena ngikutin kehendak ayah kamu. Tapi ini baru tahun pertama, masih bisa kamu perbaiki, kok,” Seruni mencoba menenangkan.

“Gimana aku mau jelasin sama ayah? Aku takut, Uni.”

“Menurutku, sih, kamu bilang aja kalau kamu punya bisnis yang sudah menghasilkan. Semoga ayah kamu bisa ngerti, deh.”

“Nggak mungkin, Uni, ayah itu orangnya keras. Kalau aku ngaku sama aja bunuh diri,” Elma kembali terisak.

“Ih, kamu banyak takutnya. Coba dulu, El, berani-berani aja. Nanti risiko apa pun yang akan kamu hadapi, ya, hadapi aja. Kamu udah gede, jadi harus tanggung jawab sama apa yang kamu jalani.”

Elma masih terisak, namun dia terus menimbang-nimbang keberaniannya untuk mengakui bahwa dia tidak serius kuliah, dan IPK-nya jelek. Kekhawatirannya dahulu terbukti sekarang, dia benar-benar tidak bisa serius menjalani kuliah.

Malamnya, keberanian yang sudah dihimpunnya sejak siang akan dia gunakan untuk menelepon ayahnya. Dia sudah memutuskan untuk memberi tahu semuanya kepada ayahnya, apa pun sikap ayahnya nanti, akan dia hadapi.

Tuuut… tuuut… tuuut…. Assalamualaikum, El,” suara ayahnya di ujung telepon membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Seruni di hadapannya memberi isyarat agar Elma tidak mengurungkan niatnya.

“Wa alaikum salam, Yah. Mmm… Yah, IPK-ku jelek,” langsung saja kata-kata itu terucap. Elma memejamkan mata, telah siap menerima kemarahan ayahnya.

Berapa?

“Dua koma sembilan belas, Yah,” Elma kembali memejamkan matanya.

Kenapa bisa begitu? Kamu nggak fokus kuliahnya?

“Mmm… aku… buka bisnis catering, Yah,” Elma seperti ingin berteriak tapi tak ada suara yang keluar.

Hening. Tak ada jawaban. Kemudian terdengar helaan napas bernada kecewa di ujung telepon. “Tut… tut… tut…,” ayahnya menutup telepon, meninggalkan pertanyaan yang menggantung di benak Elma.

“Tuh, kan, ayah marah, Uni,” kali ini Elma tak mampu menahan air matanya.

“Yang terpenting kamu udah berani mengakui kesalahan kamu. Ya, walaupun bisnis kamu sukses, tapi kesalahan kamu adalah nggak bilang dulu sama orangtua,” Uni merangkul Elma, berusaha meredakan kesedihannya.

Tak berapa lama ponsel Elma berbunyi. Elma buru-buru menghapus air matanya, dia berharap kali ini ayahnya mau memberi izin untuk bisnisnya. Cepat-cepat diangkatnya telepon tersebut.

Halo, El! Aku udah dapet gedung yang pas, nih!” bukan suara ayahnya yang terdengar di ujung telepon. Dilihatnya layar ponsel, ternyata Ilham yang menelepon.

“Berapa harga sewanya? Mahal nggak?”

Lumayan mahal! Tapi lokasinya bagus!” suara Ilham diselingi suara-suara kendaraan, sepertinya dia sedang berada di pinggir jalan saat menelepon.

“Nanti duitnya kurang kalau kemahalan, Am.”

Biar aku yang ngurusinnya! Kamu pikirinlah konsep buat restorannya aja! Udah dulu, ya! Aku pulang dulu!

“Iya, Am, hati-hati di jalan.” Diputuskannya sambungan telepon dari Ilham.

Elma dan Seruni saling menatap. Di mata Elma dengan jelas Seruni dapat melihat sebuah dilema besar. Dia harus memilih antara fokus kuliah, atau fokus dengan bisnisnya yang sedang berkembang pesat. Semua pilihan itu punya konsekuensinya masing-masing.

Ponsel Elma berbunyi kembali, tapi kali ini pesan singkat yang masuk. Elma masih berharap ayahnya yang mengirim pesan dan memberikan izin untuk bisnisnya. Mata Elma serius membaca pesan singkat yang masuk tersebut, kemudian raut wajahnya berubah semringah dengan senyum sangat lebar.

“Uniii! Ada pesanan dari DPRD, lima ratus kotak! Aaaaaaak!” dengan spontan Elma memeluk Seruni.

“Kayaknya kamu tahu pilihan mana yang harus kamu ambil,” bisik Seruni pelan.

***

Setelah merampungkan pesanan dari DPRD, tekad Elma telah bulat untuk benar-benar terjun dalam bisnis yang memang menjadi cita-citanya sejak kecil ini. Jika ingin berlari kencang, tidak bisa hanya dengan satu kaki. Dia mengajukan cuti kuliah selama satu tahun agar dia bisa dengan leluasa mengurusi restoran yang dia rintis bersama Ilham.

Pada hari pembukaan pertamanya saja sudah ramai pengunjung yang datang, pelanggan-pelanggan setia Elma juga diundang menjadi tamu khusus di hari itu. Karangan-karangan bunga yang sebagian besar datang dari anggota-anggota DPRD menghiasi bagian depan restoran. Gedung dengan lokasi yang strategis dan konsep yang unik pun menjadi nilai tambah dari restoran mereka.

Hari-hari berikutnya restoran mereka selalu ramai oleh pengunjung, omzetnya pun terus bertambah. Berkat manajemen yang baik dari Ilham dan resep-resep masakan yang berkualitas dari Elma, dalam waktu beberapa bulan saja restoran mereka telah diakui menjadi salah satu restoran ternama di Jogjakarta.

Satu tahun kemudian, setelah masa cuti kuliah Elma hampir berakhir, dia pun berniat melanjutkan kuliahnya yang telah lama dia tinggalkan. Kali ini dia tidak khawatir lagi dengan bisnisnya, karena pegawai yang dia miliki sudah mencapai puluhan orang.

“Halo, Kak. Kapan, sih, pulang ke Indonesia? Kayaknya betah banget di Jerman. Pokoknya Kakak harus lihat restoranku,” ucap Elma kepada kakaknya di ujung telepon.

Aduh, kakak lagi sibuk banget, El. Tapi tahun depan kakak usahain pulang, deh.

“Awas, ya, kalau tahun depan nggak pulang,” ancam Elma. “Eh, Kak, tahun ini aku mau nerusin kuliahku lagi.”

Hah? Beneran? Restoran kamu siapa yang ngurusin?

“Iya, serius, Kak. Restoranku sudah ada yang ngurusin. Aku cuma nerima laporan bulanan aja, dan paling ngecek seminggu sekali, jadi aku bisa lebih fokus kuliah. Aku mau banggain ayah, Kak.”

Wah, pilihan kamu benar-benar tepat, El. Dan apa yang dulu kamu tinggalin untuk pilihan itu, bisa kamu raih lagi. Bagus, deh, kalau begitu, El.

“Kalau bisa dapat dua-duanya, kenapa harus milih salah satu, kan, Kak? Ha ha.”

____________________

Tulisan ini diikutsertakan dalam event menulis #14DaysofInspiration #IWritetoInspire tema kedua: COURAGE.

Iklan

10 komentar

  1. aku jadi tante :/

    1. gak baca sampe abis :/

  2. baca kok. tapi kalau aku jadi seruni, suaraku gak kecil loh, tapi merdu ~

    1. wkwkwkwk iya sih, harusnya suara angkot yang kalah :p
      tapi ini kan cerita fiksi, uni~

  3. Aih, kereenn, suka dengan pilihan Elma, menekuni hobi, tetapi tetap membahagiakan ortu 🙂

    1. kadang ada pilihan yang harus dipilih semua, hehe 😀
      terima kasih sudah membaca 🙂

  4. Teguh Puja · · Balas

    Satu yang miss di tulisan ini, Put. Di Jogja, angkot itu gak ada. 😀 Yang ada bis-bis kecil yang beroperasi seperti angkutan kota di kota-kota lainnya.

    Di Jogja lebih banyak ojeg, becak dan becak bermotor. 😛

    Anyhow, when it comes to a hard decision, one thing that we have to think for sure. Will we decide something and make it to be the best of our effort or not? 😀

    Apa pun pilihannya, kalau setiap konsekuensinya dijalani dengan baik, apa pun bisa jadi berbuah baik. Cerita yang keren. Seperti biasa. 😉

    1. gitu ya mas? haha, maklum nggak pernah ke jogja 😦
      udah kuganti jadi bus mas 😀
      setuju mas 😉

      1. Teguh Puja · · Balas

        Well, semoga suatu hari berkesempatan ke jogja ya put. Rame rame di sini. 😉

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: