Karena Percaya

“Aku nggak lulus, Kak,” ujar Elma dalam nada kecewa. Ditutupnya jendela penjelajah laman internet yang memuat hasil SBMPTN, tes masuk perguruan tinggi negeri.

“Nggak apa-apa, El, ini bukan satu-satunya jalan. Masih banyak kesempatan lain, kan? Kamu masih sangat muda, dan masa depan kamu bukan cuma ada di universitas negeri,” Sandy memberi semangat sambil mengusap lembut punggung adiknya itu.

“Tapi, Kak, gimana mau bilang sama ayah ibu? Aku sudah dua kali nggak lulus tes di negeri, aku takut ibu kecewa, aku takut ayah marah, Kak,” suaranya bergetar.

Sandy tahu Elma akan menitikkan air mata, maka cepat-cepat dia rangkul adik kesayangannya itu. “El, dengerin kakak. Ayah sama ibu memang maunya kamu masuk negeri, tapi nggak semua kemauan harus dituruti. Bisa jadi kalau kamu masuk negeri, kamu malah jadi pemalas dan nggak serius kuliahnya karena nggak sesuai sama apa yang kamu suka. Begitu juga sebaliknya, di mana pun nanti kamu kuliah, asalkan kamu menikmatinya, kamu pasti bisa jadi yang terbaik di sana. Kamu pilih mana, jadi yang biasa-biasa aja di universitas terkenal, atau jadi the best di universitas biasa?”

Pelan-pelan Elma menghapus genangan kesedihan di balik kacamatanya. “Iya, kak, aku ngerti masalah itu. Aku lebih milih jadi yang the best di universitas biasa. Tapi, kan, ayah nggak setuju sama keinginanku, ayah maunya aku kuliah akuntansi, padahal aku maunya kuliah tata boga,” lagi-lagi suaranya bergetar.

“Hei, walaupun kamu nggak kuliah di tata boga, kamu tetap bisa ambil kursus, kan?”

“Iya, sih, kak. Tapi–”

“Kamu ingat nggak,” Sandy memotong kalimat Elma sebelum dia sempat memberi alasan yang akan meredupkan semangatnya sendiri. “Dulu waktu ayah nggak kasih izin ke kakak buat ikutan program au pair ke Jerman, kamu pasti mikir kalau kakak buang mimpi itu, kan?”

Elma mengangguk.

“Nggak, El. Kakak masih simpan mimpi itu di dasar terdalam di hati kakak, dan kakak pupuk terus mimpi itu supaya makin besar. Nah, kamu juga harus begitu, El. Yang penting kamu jaga semangat kamu untuk mencapai apa yang kamu cita-citakan itu. Dan letakkan kepercayaan penuh sama diri kamu sendiri, sama kemampuan kamu.” Suara Sandy yang teduh dan lembut membuat Elma menjadi tenang. Kemudian dipeluknya kakak perempuannya itu. Erat sekali.

“Terima kasih, ya, Kak,” bisik Elma.

Deru mesin mobil Citroen tahun 70an dari arah garasi mengagetkan mereka, buru-buru Sandy menuju pintu samping yang menghubungkan garasi dan ruang keluarga, memutar kunci lalu membukanya. Elma mengikutinya di belakang.

“Assalamualaikum,” ucap orangtua mereka hampir bersamaan.

“Wa alaikum salam,” Elma dan Sandy pun menjawab berbarengan.

Setelah bergantian mencium tangan orangtua mereka, Elma dan Sandy segera menuju sofa di depan televisi, tempat ayah mereka biasa istirahat sejenak sepulang kerja. Sedangkan ibu mereka langsung menuju kamar.

“Jadi gimana, El? Udah keluar pengumumannya?” tanya ayah mereka sembari meraih remote televisi dari atas meja.

“Udah, Yah…” Elma menoleh ke arah kakaknya. Sandy mengangguk, memberi isyarat agar Elma meneruskan kata-katanya. “Aku… aku nggak lulus, Yah,” jawab Elma pelan. Kemudian menunduk.

Ayah mereka tak menanggapi, air mukanya datar tanpa ekspresi. Dia seperti sedang sibuk mengganti-ganti saluran televisi, tapi entah acara apa yang ingin ditontonnya.

“Kamu nanti kuliah di kampus punya temen ayah aja, ya. STIE di Jogja. Nanti biar ayah yang urus semuanya,” ucapnya tanpa menoleh. Diletakkannya kembali remote televisi di atas meja, lalu beranjak menuju ke kamarnya.

Tanpa menunggu, Sandy segera merangkul Elma yang pipinya sudah basah oleh air mata. “Jangan nangis. Ingat kata-kata kakak tadi, El!” seru Sandy setengah berbisik.

“Tuh, kan, ayah marah, Kak,” sahut Elma berjeda isak.

“Ayah nggak marah, El. Mungkin dia cuma kecapekan. Udah, udah. Pokoknya kamu genggam kuat-kuat cita-cita kamu, jangan pernah kamu lepas apa pun yang terjadi. Oke?”

Elma mengangguk cepat. Kata-kata Sandy kembali membakar semangatnya.

***

“Eeeeeel!” Sandy berjalan cepat ke arah adik kesayangannya yang sudah lama tidak dia jumpai.

“Kak Saaaaan!” Elma pun segera menyambut Sandy tak kalah ceria.

Mereka saling mendekap begitu erat, rasa nyaman yang hadir membuat mereka seolah tak ingin melepaskan dekapan itu selamanya. Semua kerinduan yang telah menumpuk bertahun-tahun pun tumpah ruah dalam pelukan hangat itu.

Sudah beberapa tahun Sandy tak bertemu dengan keluarganya. Sejak meraih gelar Sarjana Psikologi lima tahun lalu, Sandy benar-benar membuktikan mimpinya. Dia melanjutkan studinya ke Jerman, dan sekarang dia telah menjadi pengajar di universitas kenamaan dan tertua di Heidelberg, dia juga menjadi motivator di sela-sela waktu mengajarnya. Sehingga sangat sulit baginya mencari waktu untuk pulang ke Indonesia.

Kini, saat waktu untuk pulang itu dia dapatkan, tak sedetik pun disia-siakannya. Setelah menghabiskan hari pertamanya di Indonesia bersama ayah dan ibunya di Tangerang, hari ini Sandy telah berada di Jogja, menemui Elma.

Setelah melepas rindu cukup lama, mereka pun masuk ke dalam restoran mewah yang menjadi titik pertemuan mereka.

“Jadi ini restoran yang suka kamu ceritakan di telepon itu, ya?” tanya Sandy sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan, memperhatikan detail-detail yang menambah cantik suasana restoran bernuansa Prancis ini.

“Gimana menurut Kakak? Hasil jerih payahku selama dua tahun, nih,” katanya semringah.

“Kakak bangga sama kamu, El.” Sandy tersenyum tulus.

“Terima kasih, ya, Kak. Aku nggak akan mencapai ini semua kalau bukan karena kata-kata kakak yang selalu membakar semangatku.”

“Nggak kok, El. Semua karena kamu telah meletakkan kepercayaan penuh sama diri kamu sendiri, sama kemampuan kamu. Itu kuncinya.”

Karena percaya yang mereka tanam bertahun-tahun lalu, hari ini Elma dan Sandy telah meraih mimpi-mimpi mereka. Karena percaya, semuanya menjadi mungkin terjadi.

Mereka pun kembali melepas butir-butir rindu ke udara sore itu. Menceritakan semua hal yang belum sempat mereka ceritakan sambil menyesap Thé au Lait hangat. Menertawakan kejailan-kejailan masa kecil mereka sembari mengudap setangkup Galette des Rois. Lalu menghabiskan waktu dalam pendar-pendar cahaya kenangan sewarna senja.

Iklan

15 komentar

  1. Indah · · Balas

    Sany & Ellya suruh baca ini. 😀

    1. jangan2 mereka udah baca 😮

    2. tuh mbak, orangnya komen dibawah :O

  2. wahh…. keren nih put.. orang nya harus baca…:D

    1. yang mana tuh orangnya? :p

      1. hahaha yang ditulisan 😀

        1. ini kan cerita fiksi, yaz 😐

          1. hahahha… 😀 tapi kan yah… ya udahlah.. 😀

  3. Teguh Puja · · Balas

    Iya, terinspirasi oleh dua orang itu. Asyik ceritanya, Put. 😉

    1. mungkin orangnya inspiratif, mas 😐

      1. Teguh Puja · · Balas

        Hihi. Request mas dulu masih belum terjawab. :p

        1. yang itu berat mas 😦
          nanti jadiin tema aja, siapa tau jd dapet ide 😀

          1. Teguh Puja · · Balas

            Okidoki, nanti mas jadikan tema juga. Masih ada 10 hari lagi ini. 😉

            1. Sipp mas 😀

  4. hallo, kak indaaaaah~ akyu disiniii :*

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: