Baris Terakhir

Courtesy Pribadi

Sumber gambar: Courtesy Pribadi

“Udah siap?”

“Masih deg-degan.”

“Semangat, dong!” ucap Zul berapi-api.

“Tapi, Zul…, aku–”

“Udah, sana, samperin.” Zul mendorong bahu Bayu agar cepat-cepat menghampiri Tiara.

Bayu menarik napas dalam-dalam, berusaha mengisi paru-parunya dengan keberanian. Lalu dia tegapkan badannya, seolah semua keberanian itu sudah benar-benar penuh dalam dadanya. Dia melangkah dengan mantap.

Tiara hanya berjarak 20 meter di hadapannya, duduk di kursi panjang tempat siswa-siswi biasa menunggu jemputan sepulang sekolah. Dia sedang asyik mengobrol dengan Nina, sahabatnya. Sesekali dia tertawa kecil sambil merapikan rambut hitamnya yang bergerak-gerak tertiup angin. Ah, betapa anggun wanita ini, batin Bayu. Wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sejak kali pertama bertatap mata di pagi hari saat Masa Orientasi Siswa satu tahun yang lalu.

Kaki Bayu seperti tertimpa beban 100 kilogram ketika jaraknya dengan Tiara hanya tersisa dua langkah. Semua keberanian dalam rongga dadanya seketika menciut saat Tiara menoleh ke arahnya. Melempar satu senyum manis, lengkap dengan lesung pipinya.

“Hai, Bay!” sapa Tiara.

Bayu balas tersenyum. Susah payah dia mengatur senyumnya itu agar terlihat biasa saja. “Hai, Tiara. Aku boleh duduk di sini?” tanya Bayu dengan nada yang terdengar kaku.

“Boleh, boleh.” Tiara dan Nina bergeser ke kanan beberapa jengkal. “Nunggu jemputan juga?” Tiara membuka percakapan.

“Nggak kok, aku bawa motor.”

Bayu menggenggam jemarinya sendiri erat-erat, berusaha menyembunyikan gemetar yang tiba-tiba saja menyerangnya. Degup jantungnya kini berkejar-kejaran. Bayu berusaha mengingat-ingat apa yang telah dia hafalkan selama seminggu ini.

“Mmm, Tiara… aku mau ngomong sesuatu.”

“Mau ngomong apa, Bay?” Tiara dan Nina menoleh ke arah Bayu berbarengan.

Wajah Bayu berubah kemerahan. Menatap mata Tiara sedekat ini membuat semua kalimat manis yang sudah satu minggu dia latih berulang-ulang seketika hilang begitu saja. Rasanya ingin sekali dia mengambil kertas berisi tulisan-tulisan yang dia rancang untuk diucapkan di hadapan Tiara itu dari saku kemejanya.

“Mmm… Tiara…”

“Kenapa, Bay?” Tiara dan Nina kompak mengernyitkan dahi melihat Bayu salah tingkah.

“Aku… mmm… aku suka sama kamu. Aku sayang kamu, Ra.” Hanya kalimat itu yang dia ingat, baris terakhir dari tulisan di kertas yang dia simpan di saku kemejanya.

Mata Tiara membola, pipinya juga ikut-ikutan kemerahan, kemudian menunduk. Nina yang sadar kalau dia tidak terlibat dalam percakapan itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain, pura-pura tidak mendengar.

Setelah dua menit tenggelam dalam pikiran masing-masing, akhirnya Tiara menanggapi.

“Bay…, mmm… aku–”

“Nggak usah dijawab,” sergah Bayu dalam napas yang tak teratur. Dia semakin erat menggenggam jemarinya sendiri. “Aku cuma mau bilang itu aja, kamu nggak perlu jawab apa-apa.”

Lalu Bayu beranjak, kembali ke tempat Zul dengan langkah yang cepat. Meninggalkan Tiara dan Nina begitu saja.

“Gimana, Bay? Diterima?” sambut Zul.

“Dia nggak jawab.”

“Lho, kenapa?” tanya Zul kecewa.

“Aku yang minta. Mending nggak dijawab daripada ditolak.”

“Tahu dari mana bakal ditolak?”

“Aku sadar diri aja. Dia cewek yang disukai semua cowok. Lah, aku siapa? Aku cuma satu dari sekian banyak cowok yang suka sama dia itu.”

“Jadi buat apa seminggu ini kamu susah-susah latihan nembak dia?”

“Percuma juga, Zul, langsung lupa semua pas aku lihat matanya.” Lalu Bayu mengeluarkan secarik kertas dari saku kemejanya, memandanginya agak lama. “Yang penting dia sudah tahu. Itu aja, sih,” katanya lirih.

***

“Kenapa kamu biarin dia pergi, Ra?” tanya Nina.

“Entahlah, Nin,” jawab Tiara sambil mengambil kertas dari saku kemejanya. Kertas berisi tulisan-tulisan yang sudah dia rancang untuk diucapkan di hadapan Bayu, pria yang telah membuatnya jatuh cinta sejak kali pertama bertatap mata di pagi hari saat Masa Orientasi Siswa satu tahun yang lalu.

Aku sayang kamu, Bay, dibacanya dalam hati baris terakhir dari tulisan di kertas itu.

____________________

Flash-fiction ini diikutsertakan dalam #ProyekCinta oleh @bintangberkisah

//

Iklan

18 komentar

  1. keprett.. itu kenapa gak bilang,, ihss

    1. ya… kadang ada yang gak perlu katakan, hahaha :p

      1. padahalkan,,,,

          1. kembang tahu :p

            1. hari ini ga ada kembang tahu 😦

  2. I love you too!! Eh

  3. A. Abdul Muiz · · Balas

    Duh, sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Manisnyaaa. 🙂

    1. yang penting nggak jatuh cinta pada pandangan terakhir 😀

  4. Makanetalah… Jangan pake asumsiii >,<

    1. iyaaa mbak nina >,<
      ini mbak nina yg duduk di samping tiara, ya? #ehh

      1. Ahahaha iyaaa :”)
        *pilin2 ujung jilbab*

        1. titip salam ya buat tiara :”)
          *tarik2 ujung kemeja*

  5. ealah, nyesel2 deh. mestinya dicoba aja diomongin ><

    1. mungkin karena Bayu masih remaja, jadinya dia agak sok tahu 😦

  6. huehehe.. jadi berasa abege lagi baca ini :”)

    1. kalo aku emang masih abege, mas :p

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: