Cinta

Cinta: puisi yang lahir saat kata-kata tak mampu kuucap dalam doa.

Tentang apa yang sedang terjadi di kedalaman hatiku,
aku tak berani mengungkapkannya kepada Dia Yang Maha Mendengar.
Tentang apa yang mungkin terjadi di kedalaman hatimu,
aku tak berani mempertanyakannya kepada Dia Yang Maha Mengetahui.

Hanya di sepertiga malam terakhir,
saat pintu langit terbuka dan Dia turun langsung untuk mendengar doa-doa,
aku hanya sanggup merapalkan namamu, hanya namamu,
tanpa meminta apa-apa, tanpa menjelaskan tentang perasaan ini,
tanpa menceritakan tentang hati yang merindukan wajah teduhmu.

Aku tahu, Dia Mahatahu.
Aku mengerti, Dia yang menciptakan hati.
Dan aku paham, Dia yang menanam cinta hingga penuh seluruh rongga dada.
Jadi untuk apa kutanyakan lagi, untuk apa kumintakan lagi?
Cukup dengan namamu yang kuucap saat keningku menyentuh bumi
dan tanganku menengadah langit melantunkan puji-puji kepada Dia Yang Mahatinggi,
Dia pasti mendengar segenap doa yang tertahan di ujung lidahku,
yang semuanya tentang dirimu.

Tentang apa yang harus kulakukan setelah cinta ini menggenapi cintaku kepada-Nya,
aku tak berani menuntutnya kepada Dia Yang Maha Menetapkan.
Tentang apa yang akan terjadi setelah semua ini,
aku tak berani mendesak jawabannya kepada Dia Yang Mahaadil.

Hanya di sepertiga malam terakhir,
saat pintu langit terbuka dan Dia turun langsung untuk mendengar doa-doa,
aku hanya bisa menyebut namamu dalam diam, dengan kata yang tak terdengar,
cukuplah tetes-tetes hangat yang mengalir ini menjelma suara
yang mengungkapkan betapa cinta itu telah tumbuh atas kuasa-Nya.

Aku tahu, sepenuhnya tahu, belum waktunya cinta hadir.
Tapi semua yang kucari selama perjalanan ini telah kutemukan dalam dirimu.
Seorang bidadari bermata cerlang,
yang senyumnya menggetarkan,
yang suaranya begitu menenangkan,
yang membuka pintu surga bagi ayahnya,
yang kuharap akan melengkapi separuh agamaku,
yang kuharap ada surga di telapak kakinya, bagi anak-anakku kelak.

Aku mengerti bahwa hati manusia adalah lautan rahasia,
begitu juga hatimu, aku belum mampu menyelaminya,
apalagi untuk meletakkan cintaku di palung terdalamnya.
Karena mencintai Dia Yang Mahacinta pun aku masih belum pantas.

Lalu untuk apa aku memaksa Dia agar menjadikanku pantas untuk dicintai olehmu?
Dan untuk apa aku memaksa Dia agar aku pantas memilikimu
dan menjadikanmu bidadariku di dunia?
Sedangkan yang kuinginkan adalah menjadikanmu lebih mulia
daripada bidadari-bidadari surga.
Menjadikan kedudukanmu lebih tinggi dari mereka yang bertakhta di surga milik-Nya itu.

Maka dengan menjaga rasa ini tetap tumbuh hingga nanti aku mampu menghalalkanmu,
adalah satu-satunya cara untuk mengambilmu dari Dia Yang Maha Memiliki.
Sekarang biarkan aku tetap berdoa, tak henti-hentinya berdoa.
Semoga rasa ini berjalan lurus dalam koridor cinta yang diridhoi oleh-Nya.
Dan sembari menunggu hari itu tiba, izinkan aku mencintai Dia,
karena aku hanya ingin mencintaimu, atas nama-Nya.

Iklan

2 komentar

  1. Aku suka ini.. :’)

    1. makasih, kak :”)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: