Hukuman Mati

“… hukuman mati!” suara hakim menggema, diikuti dua kali ketukan palu.

Ruang sidang berubah riuh demi mendengar putusan hakim terhadap Parmin. Seperti ada kerumunan lebah yang sedang berdengung di atap ruangan, cibiran-cibiran merambat cepat di antara pengunjung sidang. Tapi yang paling terdengar adalah suara tangis yang meledak-ledak dari barisan keluarga Parmin, terutama ibunya.

Parmin masih tertunduk lesu di kursi pesakitan, baju lusuhnya sudah banjir oleh keringat, matanya pun basah. Tetes-tetes peluh dari keningnya bercampur dengan air mata di pipinya. Kemudian dua petugas kepolisian mencengkeram lengannya dan memaksanya berdiri, lalu menyeretnya untuk kembali ke balik jeruji besi yang dingin dan lembap. Ini seperti mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Parmin.

Sekarang sisa hidupnya tergantung kepada surat keputusan yang akan menuliskan tanggal eksekusi dirinya. Mungkin hari-hari setelah sidang ini akan dia gunakan untuk bertobat dan memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa selama hidupnya. Memang itulah yang akan dilakukan semua orang jika mendapat vonis hukuman mati. Mereka yang telah mencuri, merampok, memerkosa, bahkan membunuh itu akan mengenakan pakaian serba religius saat duduk di hadapan majelis hakim. Bisa jadi mereka memang sudah bertobat dan menyesali perbuatan mereka itu, mungkin juga Tuhan sudah mengampuni dosa mereka, tapi di mata hukum, tidak ada satu orang pun yang bisa mengelak. Semua pencuri, perampok, pemerkosa, dan pembunuh harus diganjar hukuman yang sesuai. Pun Parmin, dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan terhadap istrinya sendiri.

***

Hari itu matahari sedang marah besar, hawa panas tak henti-hentinya menjilat atap seng rumah Parmin. Tetangga-tetangga Parmin pun ikut marah, mereka berdesakan di depan teras sambil mengutuk, padahal mereka belum tahu apa yang terjadi di dalam. Mereka tertahan sebatas pintu karena ada pita plastik berwarna kuning yang melarang siapa pun melintas kecuali pihak berwajib. Desas-desus yang tertiup angin siang itu memberi kabar bahwa Parmin telah membunuh dan memotong-motong tubuh istrinya.

Di ruang tamu, Parmin menangis tersedu-sedu. Di hadapannya ada sebuah karung goni yang sedang dievakuasi petugas kepolisian, karung tebal berwarna coklat itu berisi potongan tubuh Yanti, istri Parmin yang telah menemani hidupnya lima tahun terakhir, tapi belum juga memberikan keturunan.

Bajunya penuh bercak merah, tanggannya juga bersimbah darah. Ada sebilah golok besar yang tergeletak di sampingnya. “Golok ini dari dalam karung, Man.” Parmin mencoba menjelaskan kepada Latiman, polisi yang juga tetangganya, tapi dia tidak semudah itu percaya dengan alibi Parmin.

“Percuma ngomong di sini, nanti di kantor polisi aja,” sergah Latiman sambil memborgol kedua tangan Parmin.

Parmin digiring keluar dari rumahnya, semua barang bukti yang ada di tempat kejadian ikut dibawa. Tetangga-tetangga yang sejak tadi berdesakan di depan pintu kini memberi jalan sambil memaki-maki Parmin, tapi dia hanya menunduk, tak mau merasai tatapan-tatapan sarat kebencian dari para tetangganya itu.

***

Ruang itu bersekat jaring besi. Di satu sisinya para tahanan duduk berhadapan dengan keluarga mereka yang membesuk di sisi lain ruangan. Ini kali pertama ibu Parmin datang sejak persidangan itu.

“Min, emak yakin kamu ndak mungkin melakukan perbuatan itu,” ucap ibu Parmin sambil menangis.

“Mak, putusan sudah turun, Parmin ndak bisa apa-apa lagi, kita juga ndak punya duit buat sewa pengacara. Walaupun ada pengacara yang mau bela Parmin ndak pakai duit, paling banter putusan hakim cuma turun jadi hukuman seumur hidup.”

“Mending dihukum seumur hidup, Min, daripada dihukum mati.”

“Ndak ada bedanya, Mak. Daripada Parmin habisin umur di penjara, dan dengerin cacian orang-orang tentang Parmin, mending Parmin dihukum mati aja nyusul Yanti,” ujarnya sambil menghela napas.

“Ndak boleh ngomong begitu, Min. Emak tahu kamu ndak mungkin bunuh Yanti, kamu ndak bersalah, Min.” Semua ibu pasti akan membela anaknya, tak peduli apakah sang anak bersalah atau tidak.

“Emak bisa aja bilang begitu, tapi polisi-polisi di sini, Mak, apalagi Latiman—”

“Waktu besuk sudah habis!” teriak petugas penjaga.

Semua tahanan dipaksa meninggalkan ruang besuk, begitu juga ibu Parmin dan para pembesuk lain. Sedikit sekali waktu yang diberikan untuk mereka melepas rindu. Dalam satu minggu hanya ada tiga hari keluarga tahanan diizinkan membesuk, dan hanya disediakan waktu beberapa menit saja dalam sekali besuk. Memang seperti itulah risiko menjadi tahanan, tak ada lagi kebebasan buat mereka, semuanya terenggut.

Di perjalanan pulang, kalimat yang belum selesai dari Parmin tadi masih berputar-putar di pikiran ibunya. Memang sejak Parmin dan Latiman masih sekolah, mereka sering sekali berselisih. Bahkan tak jarang sampai ada korban yang harus dilarikan ke puskesmas di antara mereka. Apalagi sejak Latiman menjadi polisi, semakin sombong saja dia di hadapan Parmin yang hanya seorang kuli bangunan. Tapi sejak itu pula keluarga Parmin selalu menghindari perselisihan dengan Latiman, sudah lebih dari tiga tahun tidak terjadi gesekan lagi di antara mereka.

***

Hari-hari terus bergulir, sudah enam tahun sejak hari persidangan Parmin, dan pagi ini dia akan dieksekusi mati. Parmin harus memilih akan dieksekusi dengan disuntik mati atau ditembak mati. Membayangkan ditembak saja sudah membuatnya gemetaran, dia khawatir kalau penembak jitu tidak tepat menembak jantungnya, dia pasti akan merasakan sakit yang luar biasa. Maka Parmin memutuskan untuk dieksekusi dengan cara disuntik mati, menurutnya cara itulah yang paling tidak sakit.

Di dalam ruang eksekusi, yang diizinkan masuk hanya petugas kepolisian, dokter yang akan mengeksekusi dan memastikan kematian Parmin, dan kiai yang telah dipilih Parmin untuk menguatkannya sebelum dihukum mati. Di depan ruangan itu ibu Parmin tak henti-hentinya menangis, dia masih belum bisa menerima bahwa anak sulungnya itu akan menemui ajal sebentar lagi. Adik-adik Parmin yang lebih tegar berusaha menguatkan ibunya. Tapi mana ada ibu yang bisa tahan dengan keadaan seperti ini, terlebih Parmin adalah tulang punggung keluarga.

Sesuai prosedur, sebelum dieksekusi mati Parmin dipersilakan menulis surat wasiat. Dia menulis di kertas yang telah disediakan pihak kepolisian, lalu memasukkannya ke dalam amplop. Surat wasiat itu dititipkan kepada pihak kepolisian untuk diserahkan kepada keluarganya.

Lima belas menit kemudian, pintu terbuka dan pihak kepolisian cepat-cepat membawa tubuh Parmin yang telah ditutupi selimut putih ke mobil ambulans. Tapi ibu dan adik-adik Parmin langsung menyerbu ingin melihat jasadnya. Tapi polisi hanya membuka selimut di bagian kepala. Melihat anaknya sudah tidak bernyawa lagi, ibu Parmin langsung histeris dan jatuh tak sadarkan diri.

***

Gerimis berdenting-denting di atap seng rumah parmin. Di ruang tamu, tangisan dan ratapan mengelilingi tubuh Parmin yang terbujur kaku dan telah dikafani itu. Ibu Parmin masih belum bisa mengendalikan emosinya, dia terus histeris dan meronta-ronta.

“Udah, Mak, jangan begitu, Mas Parmin udah tenang di alam sana,” adik Parmin yang tertua mencoba menenangkan ibunya. Tapi ibunya tetap saja tak bisa tenang, dia terus histeris di samping jasad Parmin. Butuh satu jam hingga tangisan ibu Parmin mereda, dia hanya meratap pelan, tapi gurat kesedihan begitu kentara dari wajah rentanya.

Adik tertua Parmin menyerahkan surat wasiat yang diberikan pihak kepolisian tadi pagi kepada ibunya untuk dibacakan. Tangan ibu Parmin bergetar saat membuka amplop itu. Setelah lipatan surat wasiat dibuka, ibu Parmin yang tak bisa membaca menyerahkannya lagi kepada pak RT yang juga hadir di situ.

Pak RT seperti sedikit bingung melihat tulisan Parmin yang sulit dibaca. Namun tak lama matanya mulai basah, raut kebingungannya berganti dengan kesedihan yang mendalam. Lalu dia berdiri dan semua orang yang hadir menjadi diam ingin mendengar wasiat dari Parmin.

“Untuk Emak… maafkan Parmin harus meninggalkan Emak dan menyusul Yanti. Untuk adik-adikku, tolong jaga emak baik-baik, ya, itu adalah harta kalian satu-satunya. Untuk Latiman…” pak RT menahan sejenak ucapannya.

Suasana mulai riuh, orang-orang yang hadir bertanya-tanya mengapa ada nama Latiman di surat wasiat Parmin. Mereka mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruang tamu mencari posisi duduk Latiman, tapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

“Ehem…” pak RT membuat suasana kembali tenang. “Untuk Latiman, terima kasih sudah membuatku menyusul Yanti, biarlah Gusti Allah yang membalasmu.” Kemudian pak RT kembali duduk, dan suasana kembali riuh, bisik-bisik nama Latiman mulai terdengar. Ibu Parmin kembali pingsan.

***

Pagi hari sebelum Parmin dimakamkan, halaman depan koran lokal memuat foto Parmin dan Latiman dengan tulisan besar di atasnya: Hukuman Mati dari Parmin untuk Latiman.

“… Latiman ditemukan gantung diri di gudang rumahnya yang hanya berjarak seratus meter dari rumah Parmin. Tangannya menggenggam sebuah kertas. Di kertas itu dia menuliskan bahwa selama bertahun-tahun dia terus dihantui Yanti, istri Parmin, yang ternyata adalah selingkuhan Latiman. Dia juga mengungkapkan fakta bahwa dia yang telah membunuh Yanti karena tidak mau menceraikan Parmin dan menikah dengan Latiman. Dia juga mengakui bahwa dia yang telah menjebak Parmin dan membuatnya harus dihukum mati.” Pak RT meneteskan air mata setelah membaca berita di koran pagi ini. Dia tidak pernah menyangka cinta segitiga yang menjadi penyebab kematian warga-warganya itu.

Tulisan ini terinspirasi dari berita di koran Tribun Sumsel edisi 13 Mei 2013.

kliping

Iklan

21 komentar

  1. bagus, pengen bisa nulis tulisan serius kayak gini, tapi nggak bakat hehe. salam kenal 🙂

    1. salam kenal jg, Mia 😀
      sebenernya tulisan apa pun sama aja, yang penting kita ngerti apa yang kita tulis, dan lebih bagus lagi kalau kita memang suka sama tema tulisan itu..

      nulis kan bukan masalah bakat, tapi kemauan mengembangkan kemampuan menulis 😀

      keep writing ya, tulisanmu bagus2 🙂

      1. hehe, iya juga sih. Setiap orang punya gaya nulisnya masing-masing, tapi karena spesialisasi sy bukan tulisan serius atau puitis sy suka kagum sm penulis ky gitu. Agak2 minder sebenernya kalo lebih jujur hahahaha… but it’s ok lah 😀

        thank’s juga Putra, sudah berkunjung ke blog geje sy 😀

        1. coba2 aja keluar dari zona nyaman kamu menulis,
          kalo gak dicoba kan gak tau bisa atau gak 😀

  2. aku ya pengen nulis bgni ajarin put.. *sungkemin putra*

  3. Untuk sampai pada eksekusi mati itu waktunya lama, lho. Hehehe…

    1. Iya, Mbak, terima kasih kritiknya 🙂
      Karena fiksi ini ditulisnya dua jam sebelum deadline, jadi nggak sempat riset.
      Selanjutnya akan selalu saya sempatkan riset sebelum menyelesaikan tulisan 😀

      1. iya kaak. di jawapos malah beritanya gini “20 tahun baru temui eksekusi mati.” gitu.__.
        anyway kakak nulis segini banyak berapa jam? nice! 🙂

        1. iya, Ruri, itu tadi, karena kurang riset 😀
          ini ditulisnya sekitar 2 jam, tapi idenya sudah ada, kok, jadi tinggal mindahin ide jadi tulisan aja 🙂

  4. […] hukuman mati – @poetrazaman […]

  5. aduh aku semakin ngefans sm bang putra!

    1. waduh uni, tulisan-tulisanku masih jauh dari bagus uni

  6. Wah kerennya pake banget!

    1. wah, terima kasih, Mbak Nina 🙂
      kenapa gak ikut tantangan kliping ini? 😀

      1. sedang malas baca *malu*

        1. Aku sih cuma baca judul beritanya aja, beritanya gak di baca sama sekali hihihi 😀

          1. ahahaha hebaaat…
            Sayah malah ndak kepikiran gitu T_T #TerlaluBanyakPertimbangan #GetokDiriSendiri

  7. Parmin orang Jawa tah? Orang Jawa manggil ‘Emak’? :))

    1. Parmin orang Indonesia, Mbak 😀

  8. keren, mas.
    salut! 🙂

    1. Terima kasih sudah menyempatkan membaca, Mas 😀
      Cerpen-cerpen Mas Andra juga gak kalah keren kok 😀
      Salam kenal ya, Mas 🙂

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: