Serupa Kejutan

Matamu basah, tetes-tetes kepedihan begitu jelas menggenangi sudut-sudutnya. Aku menunggu tangismu reda, menantimu menyandarkan beban-beban itu ke pundakku. Tapi kamu tetap diam dalam isak-isak tangis, kamu belum juga memberikan alasan mengapa butir-butir hangat itu kamu tumpahkan begitu deras. Aku tak kuasa menyaksikanmu seperti ini.

“Dia nyakitin kamu lagi?” kucoba memancingmu bercerita. Tapi kamu semakin tenggelam dalam kesedihanmu sendiri. Hanya sebuah anggukan pelan yang kamu berikan. “Sudah, jangan menangis lagi. Kamu masih punya aku. Aku janji nggak akan pernah nyakitin kamu.”

Tangismu berhenti sejenak, lalu kamu tatap mataku begitu dalam. “Tapi… kamu bukan dia.”

Aku hanya tersenyum. Sebuah senyum yang kupaksakan, berusaha menutupi pedih yang baru saja menggores hatiku.

“Aku memang bukan dia,” aku berkata dengan lirih. “Dan aku takkan pernah bisa jadi seperti dia.”

Mendengar kata-kataku, sepertinya kamu merasa bahwa apa yang kamu ucapkan sebelumnya menyakiti hatiku. Kamu menghapus air matamu dengan kikuk. “Maaf, Za. Aku… aku nggak bermaksud….”

Lagi-lagi aku tersenyum, mencoba memaklumi kamu yang baik sengaja maupun tidak, berkali-kali membanding-bandingkan aku dengannya, orang yang kamu kagumi, namun tak bisa kamu miliki.

“Iya, nggak apa-apa, aku tahu perasaanmu,” ucapku tak ingin menambah kesedihanmu.

Cinta memang bisa datang tiba-tiba, seperti yang terjadi kepadaku sejak pertama melihat fotomu. Ironisnya foto itu di wall facebook sahabatku, orang yang membuatmu menangis malam ini. Tapi ternyata cinta saja tak cukup, bahkan perhatian yang selama ini kuberikan tak pernah bisa mengalihkan harapanmu dari cinta sahabatku itu.

Tak ada yang bisa kulakukan selain memberikanmu pundakku saat kamu anggap dia menyakiti hatimu. Sebenarnya aku masih belum mengerti mengapa kamu merasa tersakiti saat dia bersama wanita lain, kamu bahkan tak pernah menyatakan cinta kepadanya. Ah, aku terjebak dalam kisah yang aneh.

Kemudian kamu mulai ceritakan dengan terisak, hal yang membuatmu gundah. Tentang kemesraan yang ditunjukkan oleh pujaan hatimu. Kemesraan yang tentunya tidak ditujukan padamu, tapi pada kekasihnya.

“Sebenarnya dia nggak nyakitin kamu, kan? Dia memang mesra dengan kekasihnya. Dia nggak berbuat salah. Kamu yang terluka sendiri. Kamu harusnya tahu, risiko dari mencintai seperti ini,” kataku perlahan, setelah kamu bertutur. Mencoba membuka matamu yang terbutakan cinta satu arah.

“Aku tahu, tapi… katakan padaku, apakah kita bisa mengendalikan cinta yang datang? Aku jatuh hati padanya, begitu saja. Rasa itu datang sendiri, tanpa pernah kuundang kehadirannya. Apa aku salah karena telah mencintai seseorang?” sangkalmu.

Aku tersentak—hatiku luluh. Aku tahu persis rasanya, mengenai yang baru saja kamu katakan. Karena itu terjadi padaku. Perasaan yang hadir tanpa kuminta, kepadamu.

Aku menghela napas cukup panjang. Aku melihat ke dalam hatiku yang sebenarnya tak berbeda dengan hatimu. Ini benar-benar gila, tiga cinta yang tak pernah bertemu. Tapi bukankah cinta memang begitu? Tak perlu bertemu pada satu titik, cinta tetap ada.

“Kamu benar. Tapi jika cinta itu membuatmu sedih seperti ini, untuk apa kamu mencintai?”

Kamu terdiam, entah pikiran apa yang sedang melandamu. Kamu hanya menatapku kosong.  “Ya. Kurasa ini bukan cinta, ini hanya keegoisanku ingin memiliki dia,” kini matamu mulai terbuka. “Katakan. Apa yang harus kulakukan?” kamu bertanya lagi. Bulir-bulir baru mengalir lagi dari kedua matamu. Ah, aku sungguh tak tahan melihatnya—air mata yang kembali keluar itu.

Perlahan, kuusap lembut pipimu, menyingkirkan tetesan air yang membanjir. “Jauh dalam hatimu, kamu sebenarnya sudah tahu jawabannya. Masih mau memaksakan keegoisanmu ini, atau tidak? Masih mau menangisi keadaanmu ini, atau tidak?”

Kamu terisak. Tak mampu membalas kata-kataku. Jeda yang terbangun di antara kita dalam sekian menit itu terisi sepenuhnya oleh suara tangismu. Aku sengaja diam, ingin membiarkanmu berpikir, supaya kamu bisa melihat dengan jernih.

“Habiskanlah air matamu itu,” ucapku pelan. “Supaya setelah ini kamu nggak nangis-nangis lagi. Kalau satu saat nanti kamu harus menangis, menangislah karena kebahagiaan, bukan karena kesedihan,” kulemparkan senyum tulus untukmu.

Kamu membalas senyumku dengan begitu manis. Senyum di antara tetes-tetes air mata itu seperti senyum yang kamu paksakan, tapi aku tahu, ada kelegaan di sana. Mungkin saja beban-bebanmu telah habis kamu tumpahkan ke pundakku.

Aku menarik nafas panjang. Mengatakan hal yang selama ini ingin terucap. Mengeluarkan tutur kata yang selama ini tertahan. “Kamu pasti bisa merasakan, aku sudah nggak tulus lagi menjalani persahabatan ini. Aku… sayang kamu,” sekilas kulihat pupil matamu melebar, mungkin sedikit terkejut dengan apa yang akhirnya kuutarakan. Atau mungkin kamu sudah tahu, tapi hanya tidak menyangka, akhirnya aku berani mengungkapkan rasaku yang selama ini kukunci dalam diamku. “Jangan khawatir, aku nggak sedang meminta jawabanmu, atau ingin menjadikanmu pacarku. Aku nggak akan memaksakan perasaanku. Dan aku, nggak akan meminta apa-apa dari kamu,” aku menyergah cepat. “Yang pasti, aku sudah lega. Bisa mengatakan hal ini. Itu saja sudah cukup untukku.”

“Kenapa kamu tidak mau mendengar jawaban dariku?” katamu sambil membetulkan posisi duduk.

“Bagiku, menjadi sahabat yang selalu ada saat kamu butuhkan, lebih membuatku bahagia daripada mengikatmu sebagai pacarku. Cinta ini telah lama kutahan. Aku takut, aku akan menjadi egois dan posesif jika kupaksakan cinta ini harus memilikimu.”

“Kamu tahu kenapa aku selalu mengharapkan cinta sahabatmu yang jelas-jelas sudah punya kekasih itu?”

“Dia memang pria idaman, aku tahu akan banyak sekali perempuan yang ingin mendapatkan cintanya. Dan mungkin kamu termasuk salah satunya,” aku menebak.

“Bukan itu,” kamu tersenyum. Kali ini kesedihanmu telah benar-benar terangkat habis.

“Lalu?”

“Karena aku menunggu. Menunggu seseorang mengungkapkan isi hatinya padaku. Namun sayang, orang itu nggak pernah benar-benar berani. Kupikir orang itu nggak menyayangiku, karena ia tak kunjung menyatakan rasa yang dimilikinya selama ini. Akhirnya aku mencoba untuk beralih hati pada yang lain, seraya berharap orang yang kutunggu selama ini akan memberikan reaksi. Dan ternyata pernyataan itu keluar juga. Dari mulutnya sendiri. Akhirnya aku yakin, bahwa pria itu benar-benar sayang padaku,” kamu berkata panjang-lebar, membuatku terperangah.

“Maksudmu, orang itu adalah…” aku merasakan panas yang mengumpul di dadaku, perasaan hangat yang tiada terkira. Jadi, selama ini, kamu juga menyayangiku, hanya kamu tak tahu apakah aku benar-benar sayang padamu, karena aku memang tak pernanh mengatakannya. Aku tak lagi mampu melanjutkan kalimatku. Bahagiaku mengelukan lidahku.

“Jangan pura-pura nggak tahu, deh,” kamu tersenyum malu, mencoba menyembunyikan pipimu yang mulai memerah.

“Oke, orang itu aku. Jadi jawaban kamu?”

“Kamu bilang tadi nggak minta jawabanku, jadi untuk apa aku jawab?”

“Hmm…” aku mengerutkan dahi. “Kamu menunggu keberanianku, dan aku menunggu waktu. Tapi malam ini, kita nggak menunggu apa-apa lagi. Kita hanya perlu menyamakan langkah kaki agar seirama, dalam jalan yang mengarah pada titik yang sama-sama kita tuju.”

“Ya,” kamu mendengarkan kata demi kataku penuh perhatian.

“Baiklah, kali aku meminta jawabanmu,” kuraih tanganmu dengan lembut. “Maukah kamu menikah denganku? Mmm… maaf tanpa cincin atau bunga untukku berlutut di hadapanmu, tapi yang kita butuhkan hanyalah keberanian.”

Wajahmu bersemu merah. “Kamu… serius?” katamu dengan suara tertahan.

Aku mengangguk. “Kita sudah saling kenal sejak lama. Aku ingin menjadikan kamu bagian dari hidupku. Bukan hanya sekadar untuk bersenang-senang denganmu. Menjadikanmu pasangan hidupku, membuatku bisa menjagamu selamanya.”

Kamu masih terdiam, terlalu terkejut dengan lamaranku yang tiba-tiba. Kugenggam tanganmu, menularkan rasa hangat yang kini kurasakan.

“Kamu tahu, aku nggak akan bisa menjanjikan banyak untukmu. Namun, selama kamu masih bersamaku, aku akan membahagiakan kamu. Aku nggak akan membiarkanmu sakit atau terluka. Air mata sedih seperti tadi, nggak akan pernah kubiarkan mengalir lagi dari wajahmu.”

Sekali lagi. Air mata itu mengalir dari matamu. Namun aku tahu, itu tangisan bahagia, dari lengkung manis yang terbentuk di bibirmu.

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman dan Jusmalia Oktaviani (@juzzyoke)

Iklan

6 komentar

  1. Yeah. kolab kedua kita ya Put. >,<

    1. yuk kolab lg rame2 😀

      1. Boleh Boleh. Gak nolak. >,<

  2. Wah.. hahaaa.. (y) 😀

    1. wah kenapa :p

      1. agak mirip dengan pengalaman pribadi nih #eh #curcol hhee

        cuma akhirnya nggak tau deh. wkwkw
        keren kak 😀 (y)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: