Senyum Leala

Leala memulas gincu merah darah sebagai ulasan terakhir parasannya. Kulitnya yang pias jelas kontras disandingkan dengan bibir penuhnya. Satu sudutnya berjengit pada cermin. Setiap hari baginya adalah pentas, tak ada beda dengan Rabu ini. Ia meraih tas Anna Sui marun dan mengenakan kacamata hitam besarnya. Parfait. Beginilah wanita Perancis seharusnya bergaya.

Berlenggak menuruni lift kakinya melangkah. Menyapa resepsionis pria di lobi kondominium, yang tentu saja tak pernah absen untuk terperangah dengan kecantikannya.

“Bonjour, Boyce.”

“Bb… bbo… bonjour, Madmoiselle,” balas Boyce terbata.

Leala berlalu meninggalkan pria yang masih menganganga di belakangnya dengan seringai puas. Satu pria: takluk

Tidak seperti biasanya Leala berlama-lama di depan kondominium. Ia terlihat menyipitkan matanya, menghalau sinar mentari yang datang begitu melimpah sore ini. Sesekali ia menengok ke sisi jalan memastikan apa yang dinantikan akan segera tiba. Raymond belum juga kunjung tiba. Tidak seperti biasanya, kini ia terlambat lima belas menit.

Sore hari depan kondominium tempat Leala tinggal sangat ramai. Untuk mengusir  rasa bosan yang mulai muncul, Leala membetulkan lagi riasannya. Orang-orang yang berlalu-lalang kebanyakan menatapnya dengan kagum, mungkin karena rona kecantikan yang begitu jelas. Lalu sebagian lainnya dengan tatapan aneh hingga menuduh. Entah apa yang mereka pikirkan, Leala benar-benar tidak peduli. Pentas malam nanti terlebih penting untuknya daripada sekadar menerjemahkan setiap aksara yang diciptakan sejurus pandang.

***

Sebuah Volkswagen keluaran terbaru merapat persis beberapa langkah di tempat Leala berdiri. Seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan mata biru langit cerah keluar dari sana. Gurat keriput di sisi mata dan dahinya menyiratkan bahwa ia adalah seseorang yang sudah tak lagi muda. Ia tersenyum dan berjalan cepat menuju Leala dengan membawa setangkai bunga mawar merah.

Leala tak membalas senyum sang lelaki. Ia hanya menatap mata lelaki itu dengan tajam.

Maafkan aku terlambat, Mon Cherry”

Leala tak memedulikan permohonan maaf lelaki itu. Disambarnya kembang merah tanda cinta itu separuh menyentak, lalu lekas mendekat ke pintu mobil. Buru-buru Raymond membukakan pintu untuk sang Nona Manis. Leala masuk, pintu ditutupnya pelan.

“Jadi, bagaimana persiapan pentasmu malam nanti?” Raymond membuka perbincangan.

“Begitulah!” jawab Leala ketus.

“Ayolah, jangan begitu, baru kali ini aku terlambat,” rayu Raymond mencoba meluluhkan sikap Leala yang mulai tak bersahabat.

Leala tak menggubris bujukan Raymond. Begitulah dia, tak ada yang bisa membuatnya tersenyum kala dia sedang cemberut. Raymond sekalipun. Raymond telah pasrah, ia menyerah. Ia hanya fokus mengatur kemudi agar Leala nyaman selama perjalanan yang cukup jauh sore ini. Leala yang sejak tadi membuang muka, tak mengubah lengkung bibirnya.

Setibanya di tempat yang dituju, sang pria mengatur kemudi di pelataran parkir yang padat. Para penikmat teater berbondong, menikmati malam setelah penat memeras peluh. Akting Leala barang pasti tak perlu diragukan lagi. Leala hendak cepat-cepat turun dari mobil mewah itu, sebelum kemudian Raymond dengan cepat meraih tangannya. Leala batal berjengit dan mendengus kesal.

Mon Cherry, berhentilah cemberut,” rayu Raymond, mengusap pipi tirus kekasihnya.

“Ray, aku terlambat,” sergah Leala, sedingin stalaktit yang jatuh dari langit gua.

Lagi-lagi Raymond hanya mendesah pelan. Lebih pada menghitung kesabarannya.

Okay, Mon Cherry. Aku tunggu di backstage setelah kamu tampil dan kita akan dinner di restoran yang aku pesan.”

Leala hanya mengangguk.

“Oh ya!” Raymond berseru, teringat sesuatu.

“Aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu. Katamu nenekmu sakit keras, kan? Aku juga sudah membelikan kondominium di dekat Sorbonne, tempat kuliahmu. Lebih besar dari yang kamu tempati sekarang. Kamu senang, Mon Cherry?”

Leala menghentikan langkahnya. Diangkat seluruh dagunya keposisi sempurna lalu membalikkan badannya seanggun mungkin ke arah Raymond. Ia menatap Raymond dengan tatapan mautnya yang dapat membuat lelaki mana saja bertekuk lutut.

“Aku tidak pernah mengharapkan bantuan sejauh itu, Dear! Aku bisa berusaha sendiri.”

Suara Leala terdengar begitu dingin hingga membekukan percakapan beberapa saat. Mereka berdua hanya saling memandang lama.

Mon Cherry, aku tidak pernah merasa terpaksa memberikan semua itu padamu. Bahkan itu merupakan suatu kebanggaan bagiku,” Raymond tersenyum. Sorot matanya menyuarakan ada kasih yang begitu tulus.

Well, kalau itu maumu, Dear! Aku ingin sekantong marshmallow sehabis pentas. Bisakah aku memperolehnya?”

“Anything for you, My Lady.”

Leala melangkah ke arah Raymond. Diraihnya tubuh kekar itu kedalam pelukannya. Aroma musk kini begitu lekat dalam penciumannya.

“Aku akan kembali sebentar lagi, Dear,” ujar Leala mesra. Ia mencium bibir Raymond singkat lalu berlalu menuju panggung. Ada senyum yang melengkung begitu lebar. Satu lagi pria takluk!

Raymond mematung sesaat. Diperhatikannya punggung kekasihnya yang semakin menjauh dan akhirnya hilang di balik pintu teater itu. Ia masih tersenyum, lalu ia masuk lagi ke dalam mobil dan melajukan lagi Volkswagen-nya.

***

Marshmallow, marshmallow. Di mana aku bisa menemukan marshmallow malam-malam begini, gumamnya dalam hati. Raymond benar-benar tak tahu harus ke mana mencari sekantung marshmallow permintaan Leala itu. Raymond tidak pernah suka marshmallow, tapi demi Leala, apa saja rela ia lakukan. Misalnya dengan malam-malam begini mencari sekantung marshmallow.

Leala telah usai memainkan perannya malam ini. Ia tersenyum ke arah penonton dan seketika ratusan pasang tangan memberi aplaus dengan meriah. Setelah memastikan senyumnya sampai di mata semua penonton, Leala segera kembali ke backstage. Dicarinya Raymond yang telah berjanji membawakan sekantung marshmallow di belakang panggung. Tapi tidak juga ketemu.

“Kau lihat Raymond?” tanya Leala ke salah satu kru pertunjukan.

“Tidak, sepertinya dia memang belum ke sini.”

Leala berdecak kesal. Lama sekali pria berumur itu untuk memenuhi permintaannya. Bahkan sampai rekan pentasnya satu-satu meninggalkan area teater, Raymond belum juga datang. Nyaris satu putaran jam dinding dia menunggu, hingga Raymond datang dan menyerahkan marshmallow dengan tawa lebar. Ia menyeringai puas.

Leala mengekor senyum. Berucap bangga padanya. Pada kesungguhannya, merta sejagad puji tercetus dari tenggorokannya, yang berakhir dengan kecupan selamat malam dan satu kunci kondominium baru yang Raymond selipkan di antara jemarinya.

Malam terlihat begitu indah. Raymond berhasil memulas pipi Leala dengan rona bahagia. Sayangnya, yang Raymond tidak tahu adalah malam itu adalah malam terakhir melihat Leala.

Esok malamnya, ia barulah menyadari Leala menghilang.

Raymond panik bukan kepalang. Rasa-rasanya ini luapan perasaan luar biasa melebihi segala bentuk kepanikan yang pernah dia alami. Ratusan pesan teks dan panggilan ke ponsel Leala sama sekali tak mendapat respons. Telah dicobanya mencari Leala ke segala sudut kota, ke tempat temannya atau ke bar-bar yang biasa dikunjunginya, namun hasilnya nihil. Tak ada seorang pun tahu kemana kekasih Raymond itu pergi. Leala seakan lenyap seperti ditelan bumi.

***

Pagi hari yang basah. Ada hujan yang begitu betah sedari malam di atap langit kota ini. Raymond terduduk dalam kamar tidur di kondomium Leala. Mukanya tampak begitu lusuh. Padahal sekarang seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya ia dan Leala sedang sibuk mengusung-usung barang pindah ke kondomium baru yang telah ia hadiahkan.

Raymond mengacak-acak rambutnya kasar. Tangannya kemudian meraih botol whiskey di atas meja kayu di sudut ruangan, lalu ditenggaknya berulang kali. Ia mencoba mereka-reka lagi di mana terakhir kali ia melihat kekasihnya itu. Mungkin saja kepanikan hari kemarin mengaburkan beberapa detail kecil. Tangannya mengetuk-ngetuk botol whiskey sambil sesekali membuang pandangan pada buramnya udara di luar. Beberapa saat berlalu, masih dalam ritme ketuk dan posisi padang yang sama, tiba-tiba Raymond tersentak kaget dengan sendirinya. Wajahnya seketika dipenuhi senyum kepuasan.

“Dia pasti ingin memberi kejutan!” gumam Raymond masih dengan senyumnya.

“Aku sudah bisa membacanya, Mon Cherry. Kau pasti ingin menghilang sebentar, lalu akan mengagetkanku dari belakang,” Raymond tertawa getir. Tapi kejutan untuk apa? Ulang tahunku masih lama, pikir Raymond.

Sepagi ini Raymond telah dibuat pusing oleh kekasihnya itu. Dia terus mencari-cari alasan yang paling logis yang membuat Leala menghilang tiba-tiba. Tapi yang dia dapat hanyalah jawaban-jawaban aneh dan tak masuk akal yang berputar-putar di pikirannya. Raymond merutuk sendiri. Diraihnya telepon seluler di atas tempat tidur dan ditekannya beberapa angka.

“Selamat pagi, apakah ini benar dengan kantor polisi wilayah?”

“…” sesaat Raymond membisu mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya.

“Saya ingin melaporkan sebuah berita kehilangan.”

***

Leala menenggak martini-nya lamat-lamat, sambil menikmati irama Beethoven. Italia tak pernah berhenti menggoda, pun pesta dengan kaum ekspatriat. Ia selalu punya cara untuk menyusup ke dalamnya, di mana pun, di belahan dunia mana pun.

Mata kirinya menelisik cairan merah di gelasnya. Benaknya tertuju pada gelondongan uang dengan jumlah entah berapa angka nol di belakang, dalam rekening banknya. Kemudian cek hasil penjualan kondomidium yang baru saja diterimanya sesaat sebelum dia meninggalkan Perancis.

“Raymond tua yang malang atau aku yang terlalu lihai?” bibirnya menyeringai.

Hey, Bella Signora.”

Leala berbalik, menatap sang empu suara dengan tanda tanya. Tentu saja, seorang Leala tak akan gagal mengusik gairah pria mana pun. Pun dengan pria muda di depannya. Bibirnya melengkung.

“Bouna noette, Signore.”

Pria dengan setelan snelli itu menawarkan segelas red wine, mengganti gelas martini Leala yang tandas.

“Chi è il tuo nome?  (Siapa namamu?)”

Leala terkekeh kecil. Tawa malu-malu yang memikat.

Campbell, Signore. Leala Campbell.

Satu pria lagi siap ia taklukkan.

Note:
Parfait: Sempurna;
Bonjour: Selamat Sore;
Madmoiselle: Nona;
Mon Cherry: Sayangku;
Bella Signora: Nona Cantik;
Bouna noette: Selamat Malam;
Signore: Tuan.

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman, Gladish Rindra (@adiezrindra) dan Masya Ruhulessin (@didochacha)

Iklan

4 komentar

  1. Wah, jadi intinya si Leala ini cuman mempermainkan Raymond ya 😀 Niceeeeeeee! Apa lagi bagian-bagian yang pake bahasa asing itu. Bikin ngiri. Jadi pengen bikin cerita pake dialog bahasa dayak #lho terima kasih suguhannya Kak!

    1. eh, tulisan yg ada bahasa perancis sama italia itu bukan bagianku, dict 😦

      1. Kalau kolab kan artinya tulisan bersamaaa
        😀

        1. bener, bener 😀

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: