Bendera Merah

“Mereka mau hancurkan negeri ini, kita musnahkan mereka!”

“Setuju!!!”

“Jangan sisakan satu tetes pun darah mereka! Kita habisi mereka sampai ke akar-akarnya!”

“Setuju!!!”

Aku diam-diam menempelkan telinga di pintu kamar. Sebenarnya hal itu tak perlu kulakukan karena pidato penuh semangat dan riuh kemurkaan yang sejak selepas isya sudah mengisi ruang tamu itu terdengar begitu jelas dari sini.

Aku tak mau ikut campur dengan urusan ayah dan anak-anak buahnya itu. Tapi kali ini aku benar-benar penasaran. Pemberitaan di radio-radio yang terus menerus menyerukan perang terhadap orang-orang di bawah bendera merah, juga kolom-kolom di koran-koran yang selalu menuliskan pertentangan terhadap siapa dalang di balik peristiwa kejam yang terjadi beberapa minggu yang lalu, tentu mengusik rasa ingin tahuku.

Beberapa hari terakhir suasana politik negeri ini memang sedang panas. Sejak tragedi penculikan dan pembunuhan beberapa orang penting di pucuk kemiliteran itu, semua orang dari partai bendera merah segera menjadi kambing hitam.

Penculikan dan pembunuhan para petinggi di kesatuan ayahku itu sejatinya adalah perbuatan orang-orang yang ingin menggagalkan kudeta terhadap pemerintahan, begitu yang disampaikan oleh pemimpin negeri ini. Tapi propaganda yang terus disebarkan ke tengah masyarakat membuat orang-orang bendera merah seperti menjadi satu-satunya yang bersalah, dan pemimpin negeri ini yang merupakan pendukung bendera merah pun dipaksa menyerahkan kekuasaannya kepada militer.

Memang banyak sekali kejanggalan yang terselip dari tragedi ini, misalnya ada satu petinggi militer yang tidak masuk dalam daftar target orang yang diculik dan dibunuh. Dan akhirnya dia ditunjuk oleh pemerintah untuk membereskan masalah ini. Kupikir memang seperti itulah politik negeri ini, penuh dengan konspirasi yang tertutupi dengan rapi.

Aku yakin, mereka yang sedang dibicarakan ayah itu adalah orang-orang yang tidak bersalah. Mereka hanya kebetulan bergabung dengan partai berbendera merah yang menaungi para buruh dan petani itu karena pekerjaan mereka memang sebagian besar buruh dan petani. Mereka hanya simpatisan. Tapi ayah yang memiliki peran cukup penting di kemiliteran kota ini tentu akan mengikuti semua perintah atasannya yang sekarang menjabat sebagai pemimpin negeri ini, yaitu membumihanguskan semua yang berbau bendera merah.

“Sesuai perintah, malam ini juga kita mulai operasi pembersihan bendera merah!” suara ayah begitu lantang. Sorak sorai tanda setuju mengikuti setelahnya. “Siapkan senjata kalian! Kita berangkat setengah jam lagi! Kita akan mulai operasi dari timur kota ini!” perintah ayah kepada anak-anak buahnya.

“Siap Pak!!!”

Aku tiba-tiba teringat Marni, sahabatku yang tinggal di sebelah timur kota ini. Aku ingat di depan rumahnya ada bendera merah yang dipaku di pintu. Ayahnya pasti seorang simpatisan bendera merah. Dan ini berarti mereka—Marni dan juga keluarganya, akan dihabisi dalam operasi pembersihan malam ini.

Aku tak bisa tinggal diam. Aku harus memberi tahu Marni secepat mungkin. Tapi aku hanya punya waktu setengah jam, dan sejak peristiwa penculikan dan pembunuhan itu, di seluruh negeri ini diberlakukan jam malam. Aku tak boleh terlihat berkeliaran malam-malam seperti ini, aku bisa ditangkap.

Kemudian kuputuskan untuk diam-diam menyusup ke mobil ayah. Tapi konsekuensinya aku tidak mungkin sampai lebih dulu di rumah Marni. Ah, biar saja, nanti aku akan turun diam-diam sebelum mereka sampai di rumahnya.

Aku meloncat pelan-pelan dari jendela kamar. Kemudian berjingkat menuju garasi tempat mobil-mobil bak terbuka berwarna hijau tua itu terparkir. Di atas bak mobil-mobil itu terdapat kursi-kursi panjang yang saling membelakangi. Kuperiksa satu per satu apakah ada tempat yang bisa kupakai untuk bersembunyi.

Ketemu! Ada gulungan terpal yang tergeletak di sudut dalam bak mobil. Aku bersembunyi di dalam terpal itu. Semoga anak buah ayah tidak ada yang menyadari tempat persembunyianku.

Pengap dan panas sekali di dalam sini, tapi tekadku sudah bulat, aku harus membantu Marni dan keluarganya menyelamatkan diri. Aku menunggu selama setengah jam di dalam terpal. Sayup-sayup kudengar derap langkah yang begitu ramai semakin mendekat. Kemudian suara hentakan kaki yang meloncat naik ke atas bak mobil. Mereka sudah bersiap untuk berangkat. Deru mesin mobil mulai terdengar. Dan kurasakan mobil melaju menyusuri jalanan kota.

Meski sedang diberlakukan jam malam, siapa yang berani menahan mereka? Kesatuan merekalah yang sekarang menguasai negeri ini. Karena pemimpin tertinggi yang lama telah dianggap gagal dalam mengendalikan keamanan. Konsep membangun negeri dengan keseimbangan militer, agamawan dan buruh-petani yang digagasnya pun ditolak mentah-mentah oleh hampir seluruh rakyat negeri. Hanya orang-orang bendera merahlah yang menjunjung tinggi konsep yang ditawarkan pemimpin lama itu. Penolakan dari militer dan agamawan yang mengancam eksistensi orang-orang bendera merah inilah yang akhirnya menjadi pemicu pecahnya pertumpahan darah sesama rakyat negeri yang berbeda ideologi ini. Diawali dengan penculikan dan pembunuhan para petinggi militer, dan sampailah pada malam ini, operasi pembersihan orang-orang bendera merah yang sarat dengan tendensi balas dendam.

Mengapa pembunuhan beberapa orang saja harus dibalas dengan pembersihan seluruh orang bendera merah? Bukankah ini menjadikan korban sama kejinya dengan pelaku. Mengapa tak biarkan saja mereka berdampingan dan saling memaafkan? Aku tak habis pikir dengan apa yang sedang terjadi di negeri ini.

Mobil berhenti. Kudengar langkah-langkah kaki yang turun dan berlari menyerbu. Gebrakan dan letusan-letusan senjata api terdengar begitu jelas. Tangisan dan jeritan mohon ampun begitu mengiris pendengaranku. Aku tak tahan mendengarnya, kakiku gemetar.

Kusibakkan sedikit terpal yang menutupi tubuhku. Kepalaku menyembul keluar dari terpal. Oh Tuhan, aku tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Rumah-rumah yang dari jendelanya keluar asap hitam dan api yang berkobar-kobar, tubuh-tubuh bersimbah darah yang mungkin sudah tak bernyawa lagi berserakan di halaman rumah. Mayat-mayat itu bukan hanya orang-orang dewasa, ada juga wanita dan anak-anak kecil yang ikut dibunuh. Keji. Aku mulai muak dengan tindakan mereka. Ini bukan operasi pembersihan, ini pembantaian.

Rumah Marni tak jauh dari sini, mungkin lima menit berlari aku sudah sampai di sana, pikirku. Kuperhatikan keadaan di sekitar mobil, sepertinya anak-anak buah ayah sedang sibuk bersenang-senang menembaki dan orang-orang bendera merah yang tak berdaya itu. Diam-diam aku melompat turun dari bak mobil dan aku berlari sekencang-kencangnya ke arah rumah Marni. Aku berlari kencang sekali sampai tak dapat kurasakan kakiku menyentuh tanah, aku seperti terbang.

Akhirnya aku sampai juga di depan rumah Marni. Aku duduk sebentar mencoba mengatur napasku yang terengah-engah. Kuperhatikan rumah Marni sudah gelap, sepertinya orang-orang di dalamnya sudah tertidur.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu depan rumah ini. Bendera merah yang dulu sering kulihat terpasang di pintu ini sudah tidak ada lagi, hanya tersisa sobekannya di paku-paku yang sudah berkarat.

Kugedor pintu itu sekuat mungkin, aku harus secepatnya membangunkan mereka. Tapi tak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Kuraih gagang pintu dan coba membukanya. Ternyata pintu ini tidak terkunci! Aku langsung menerobos masuk. Gelap sekali di dalam sini, aku tak bisa melihat apa-apa. Bahkan cahaya bulan di luar tak sampai masuk ke sini. Tanganku meraba-raba udara.

“Marni!” teriakku sekeras-kerasnya.

Tak ada balasan, hanya gema suaraku sendiri. Sepertinya Marni dan keluarganya sudah tahu mengenai operasi pembersihan ini. Atau mereka malah telah tewas. Tapi di mana  mayat mereka? Sepertinya yang paling masuk logikaku mereka telah bersembunyi karena pemberitaan yang terus menerus menyerang orang-orang bendera merah. Ah, sia-sia saja aku ke sini, pikirku.

Suara mobil terdengar semakin mendekat, aku gemetaran setengah mati. Itu pasti ayah dan anak-anak buahnya. Aku tak tahu harus ke mana, di sini gelap sekali, tidak satu titik cahaya pun yang masuk. Aku seperti mau menangis. Detak jantungku menjadi begitu kencang. Bagaimana kalau ayah melihatku di sini? Tanganku terus meraba-raba mencari tempat bersembunyi.

Derap langkah mereka terdengar semakin jelas. Aku semakin gemetaran, rasanya aku mau pingsan. Kemudian berkas-berkas sinar dari senter yang dibawa anak-anak buah ayahku menyelusup masuk, memberikan sedikit penerangan bagiku. Aku bersiap untuk berlari entah ke mana, yang penting menyelamatkan diri.

“Satu orang!” teriak salah satu anak buah ayahku.

“Tembak!” jelas sekali kudengar suara ayahku.

Dan suara terakhir yang kudengar adalah letusan-letusan dari senjata api semi otomatis. Berondongan peluru tajam dan panas kurasakan menusuk-nusuk tubuhku. Cairan kental kurasakan membasahi sekujur tubuhku, membasahi pakaianku.

Dan yang terakhir kulihat adalah ayahku berlari mendekatiku dengan wajah yang begitu panik. Kemudian semuanya hitam.

Iklan

6 komentar

  1. Ini fiksi terinspirasi peristiwa G30S PKI bukan ya

    1. bisa dibilang begitu mbak 🙂

  2. Tragis dan ironis. Satu-satunya bahasa yang gak aku ngerti ya itu, bahasa kekerasan. 😦

    1. apalagi bahasa kekerasan yang disahuti dengan bahasa kekerasan juga 😦

  3. […] bendera merah – @poetrazaman […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: