Satu Pesta Cinta

“Kamu punya satu tempat yang membuat kamu selalu ingin kembali ke sana?”

“Kamarku. Bagiku kamar itu adalah tempat paling nyaman di seluruh dunia,” jawabnya bersemangat. “Kalau kamu?”

“Ada. Ada sebuah rumah yang begitu hangat. Sampai-sampai kalau sudah masuk di dalamnya, aku tak pernah mau pergi dari sana. Bahkan satu jengkal saja aku melangkahkan kaki, ada keresahan yang menahanku dan menarik kembali langkahku itu.”

“Oh, ya?”

“Sebenarnya aku berharap rumah itu milikku, tapi entahlah, aku tak pernah tahu rumah sehangat dan senyaman itu milik siapa.”

“Kok bisa? Memang rumahnya di mana?” dia menatapku begitu penasaran.

“Rumah yang kumaksud itu… sebenarnya adalah hati kamu. Aku berharap akulah yang memiliki hatimu, tapi aku ragu, aku tak pernah punya nyali untuk menjadikan rumah itu milikku.”

Tatapnya dan mataku saling menantang. Kulihat pipinya merona merah. Aku tak kuat menerima tantangan mata indahnya itu, lalu kualihkan pandanganku ke langit lepas, ada Sabuk Orion yang sedang memamerkan tiga bintang paling terangnya. Ah, betapa indahnya menyaksikan bintang-bintang menakjubkan ini berdua saja denganmu seperti sekarang, ucapku dalam hati.

“Maaf,” dia membuka suara setelah satu menit keheningan mendekap kami.

Aku tersenyum. Aku masih belum berani menatapnya lagi. Bukan karena kata maaf yang sedetik lalu dia ucapkan, aku sesungguhnya tak peduli dengan apa yang akan dia katakan. Bagiku, dia tahu rasa yang selama ini kusimpan, sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia.

“Maafkan aku, rumah yang kamu maksud itu… sudah lama ada yang menghuninya.”

Aku tetap mempertahankan senyumku. “Iya, tidak apa-apa,” kataku tanpa menoleh ke arahnya.

“Penghuninya… selalu kamu.”

Seolah jarum jam tak lagi bergerak. Bahkan semua yang ada di semesta turut menghentikan semua geraknya. Remah-remah ragu dan ketakutan justru perlahan luruh tergantikan satu saja keyakinan yang utuh. Aku ingin mengguncang bahunya untuk mengatakannya sekali lagi. Mungkin aku perlu sebaris kata itu sekali lagi memenuhi telingaku, agar bawah sadarku merekam dengan pasti.

Senyumnya melengkung manis. Persis seperti sabit malam ini.

“Hei,” ia menepuk pundakku pelan. Aku masih belum mampu mengeja satu pun aksara. “Kamu kenapa? Seperti melihat sesuatu yang menyeramkan saja,” selorohnya santai.
Ia tak tahu, ada lengan-lengan terbalut suka yang sangat ingin memberikan pelukan padanya.

Aku beri waktu napasku meramaikan cinta yang berpesta dan menari-nari penuh suka cita.
“Ah, aku seperti sedang mendengar ucapan malaikat? Sesuatu yang singkat, namun sangat memikat,” aku membetulkan dudukku. Memberanikan menatap matanya dalam-dalam. Mencari benih yang mungkin saja kini sungguh telah rekah.

Pipinya semakin merona kemerahan. Inikah reaksi kimia dalam tubuh perempuan saat ada cinta yang menyusup ke dalam hatinya?

Kugenggam jemarinya, kuisi sela-sela jarinya dengan jariku. “Jadi?” kucoba memastikan.

Kalau dia bisa dengar, sebenarnya sejak tadi irama jantungku sudah tak beraturan, terlebih detik ini. Dia yang selama ini selalu menemaniku menyaksikan perhelatan Bima Sakti di luasnya langit malam, kini aku sendiri yang menyaksikan sebuah alam raya mahaindah melalui kedalaman matanya. Kemudian dia menunduk malu. Mungkin tatapanku terlalu dalam dan dia takut kalau aku sampai melihat ke dasar hatinya.

Kuangkat dagunya pelan. “Jadi bagaimana menurutmu? Apakah aku sudah diizinkan untuk menetap di rumah itu?”

“Terserah kamu,” bisiknya lembut. “Aku sudah lama membiarkan kamu menjadi penghuninya. Apakah aku juga harus meminta izin untuk menjadikanmu pemiliknya?”

Tuhan, ini nyanyian malam yang sangat indah bagiku, hatiku bersuara kencang.

“Kamu ingat, ketika malam itu hujan lebat turun tiba-tiba? Kita kecewa. Namun sesungguhnya ada yang aku minta saat itu,” ucapku sambil mengeratkan genggamanku.

“Apa yang kamu minta saat itu? Boleh aku tahu?” mimik manjanya makin membuatku gemas.

Aku tertawa kecil, mengingat-ingat malam itu. Ketika semuanya dikuasai gemuruh, aku dan dia berjuang mencipta pelangi sesudahnya. Di antara gelap, tetap akan ada pelangi yang mengundang tawa-tawa suka.

Aku dan dia bernyanyi, mengalahkan gemuruh sampai hujan berhenti. Memenuhinya dengan cerita, yang tak pernah masuk ke dalam kotak lupa.

“Apaaa?” rajuknya.

“Benar kamu mau tahu?” tanyaku menggoda.

Anggukan dan senyumnya mengisyaratkan ingin pada jawaban yang sesungguhnya. “Doaku malam itu, telah Tuhan jawab malam ini,” bibirku kemudian mengatup, tapi bergetar.

Ia mengerutkan dahinya.

Aku mencoba menggerakkan bibirku lagi. “Iya, doaku tentang aku dan kamu, kita,” aku ulas senyum sekali lagi.

“Ah, kamu gombaaalll,” selorohnya sambil mencubit kecil bahuku.

Ia beranjak, berlari, mengundangku mengejarnya.

Aku mengikuti tarian kakinya. Tawa-tawa kecilnya memecah keheningan. Aku terus berlari mengejarnya yang mencoba berlindung di balik pohon agar aku tak bisa mendekapnya. Aku ikut tertawa, suka. Dan terus mengejarnya. Hingga malam semakin kelam.

Akhirnya semua energiku tercecer habis, tertinggal pada jejak-jejak kaki di pasir pantai ini. Dia pun begitu kelelahan, membiarkan tubuhnya bersandar di bawah pohon. Kuseret kakiku mendekatinya. Ada lengkung pelangi yang kembali terbit di bibirnya.

“Kamu mau berjanji satu hal kepadaku?” ujarnya ketika aku sampai di sampingnya.

“Janji apa?” tanyaku penasaran.

“Kamu akan tetap mengurus rumah ini, rumah di hatiku ini, sampai rumah itu sudah reot dan tak bisa lagi ditempati.”

Kutarik sudut-sudut bibirku. “Aku tidak mau.”

“Kenapa?” wajahnya berubah cemberut, tapi dia semakin menggemaskan dengan bibir yang ia majukan beberapa senti seperti itu.

“Aku mau kita yang mengurus rumah itu. Kita, berdua, dan tak akan kubiarkan rumah itu sampai reot apalagi sampai tak bisa lagi dihuni. Nanti aku tinggal di mana?” kusentuh ujung hidungnya dengan jariku.

“Ah, kamu,” dicubitnya perutku pelan.

“Nanti kalau ada hal-hal kecil yang dapat membuat atapnya bocor, dindingnya retak, atau lantainya rusak, aku janji akan segera kuperbaiki. Supaya aku tetap nyaman tinggal di sana.”

“Janji?” dia sodorkan kelingkingnya sebagai pengikat janji yang barusan kuucapkan.

“Janji!” kukait kelingkingnya dengan kelingkingku sebagai tanda kesediaanku memegang teguh janji itu.

Aku duduk saling bersandar punggung dengannya. Saling merasakan napas dan detak-detak tanpa jarak.

Seandainya ia tahu, betapa aku telah menyusun mimpi-mimpi itu sejak dulu. Sejak kami selalu berbagi tawa di antara kecup semesta. Sejak dukanya menjadi bagian dari cerita yang ingin aku tuntaskan dengan antiklimaks yang manis. Sejak peluhku selalu disapu lembut oleh senyumnya. Ya, sejak hatiku memutuskan membangun rasa yang setiap orang damba; cinta.

Seandainya ia tahu, hampir saja aku menyerah sebab tak tahu lagi bagaimana aku harus mengungkapnya. Menyelipkan rasa di antara cerita yang kami bagi bersama. Berperang dengan ketakutan kehilangan, jarak dan entah apalagi jika melupakan menjadi pilihan terakhirnya.

Namun Tuhan menitahkan semesta menyambut hangat segala yang aku impikan.

Aku dan ia sama-sama memperjuangkannya; cinta.

Sebuah tulisan kolaborasi Putra Zaman dan Wulan Martina (@wulanparker)

Iklan

8 komentar

  1. Shafira Meutia · · Balas

    Hihi, manis banget put. 😉

    1. sesuai dengan tema #ALoveGiveaway-nya mbak 😀

    1. makasih udah baca 😀
      ayo bikin juga zul 🙂

  2. kena diabetes bacanya. Manis amat. 😀

    1. *sodorin gula biar makin diabetes* 😉

  3. utie89 · · Balas

    kereeennnsss…
    sukaa.. ^^
    tapi ada satu moment yang membuat tulisan ini “menggelikan”,
    bagian lari-lari di balik pohon bak film india 😆

    tak bisakah di edit, agar tak lagi ada cela bagi tulisan ini dimataku?? :mrgreen:

    baidewai, salam kenaal dari Depookk.. 😉

    1. salam kenal juga dari palembang 😀
      hihihi kebetulan yang itu bukan bagian saya, mbak 😦
      mungkin mbak wulan ada alasan khusus masukin adegan itu, nanti saya tanyakan deh :p

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: