Mengenal Turning Point dan Reverse Writing

Materi yang dibahas pada Kelas Menulis Poetica Jumat malam yang lalu adalah Turning Point dan Reverse Writing. Mungkin kalian sudah sering mendengar istilah turning point, namun teknik menulis dengan cara reverse writing sepertinya masih kurang populer. Mari kita bahas satu per satu.

  • Turning Point

Sebuah cerita yang datar-datar saja tentu akan membuat bosan pembaca, bukan? Nah di sinilah turning point bisa kita selipkan. Turning point adalah sebuah belokan yang mengubah jalan cerita. Selain membuat cerita yang tadinya flat menjadi lebih bergelombang, turning point juga bisa digunakan untuk menggiring cerita kepada konflik utama.

Turning point bisa berupa penambahan tokoh-tokoh baru yang membawa angin perubahan bagi jalan cerita, bisa juga berupa adegan-adegan yang membuat cerita menyimpang dari jalan lurus yang ada di pikiran pembaca.

Penempatan turning point bisa di awal, di tengah atau bahkan mendekati akhir cerita. Disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Misalnya pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, hadirnya sosok Lintang yang datang terlambat sesaat sebelum SD Muhammadiyah ditutup karena kekurangan siswa adalah sebuah turning point.

Sedangkan pada novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liya, adegan Tsunami yang melanda saat menjelang tes hafalan shalatnya juga adalah turning point yang kemudian menggiring cerita menuju konflik utama.

Dalam novel sering sekali kita temui turning point karena ruang ceritanya lebih luas. Namun pada tulisan fiksi yang lebih pendek, turning point sulit diterapkan namun tetap bisa dimasukkan, hanya saja tidak bisa banyak, bisa satu atau dua saja. Hal ini karena cerita yang lebih pendek biasanya langsung menuju kepada konflik utama, sangat sedikit ruang yang tersedia untuk menyelipkan turning point.

  • Reverse Writing

Pernah membaca tulisan yang kalimat-kalimatnya atau paragraf-paragrafnya jika dibaca dari akhir hingga ke awal tetap menjadi sebuah cerita yang utuh? Jika belum, coba bandingkan dua paragraf ini:

Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya.  Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah.

Kulit bibirnya telah pecah, dengan raga yang terlihat begitu lemah. Air mata menganak sungai menembus bumi yang kering karena kemarau. Matanya sembab dan menghitam sebab isak tangis yang tak henti. Telah cukup lama ia terpaku menatap nisan yang ada di hadapnya.

Tulisan dengan cara menulis seperti itu disebut dengan Reverse Writing. Tulisan tersebut jika kita putar kalimatnya atau paragrafnya (awal — akhir menjadi akhir — awal), akan tetap menyajikan cerita yang bulat. Menulis sebuah cerita dengan teknik reverse writing ini memang tidak mudah, tapi sangat menarik untuk mencoba.

Demikianlah jurnal yang saya buat berdasarkan materi yang disampaikan pada Kelas Menulis 3 Mei 2013 yang lalu. Semoga bisa menambah pengetahuan dan semangat kita dalam menulis.

Salam hangat.

Iklan

10 komentar

  1. A. Abdul Muiz · · Balas

    Kagak mudeng yang reserve writing. 😥

    1. intinya sih, itu cerita kalau dibalik bacanya dari bawah sampai ke atas susunan2 kalimat/paragrafnya, tetap utuh sebagai satu cerita 😀
      aku juga masih belum bisa bikinnya am, susah 😦

  2. pernah ketemu tuh yang reserve writing 😀 tapi lupa dimana ._. hehee

    1. ayo coba bikin juga reverse writing :p

      1. kalo yang ini bisa disebut reserve writing ga sih? hehe ._.

        http://adetawalapi.wordpress.com/2013/03/06/ada-cerita/

        1. bisa jadi 🙂
          ayo bikin yg versi cerpennya 😀

          1. cerpen? widih, –a
            berarti di baca dari atas – bawah atau sebaliknya ttp bisa ya? jadinya ada dua cerita gitu? #jadigangerti

            1. iya, begitulah 🙂
              dicoba dulu aja, aku juga lagi nyoba 😀

              1. PR nih. hahah
                okay aku coba 😀

  3. […] penasaran dengan Reverse Writing, “kok bisa?”, “bisa nggak ya?” Dua pertanyaan itu seperti nantangin diri […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: