Yang Tak Sempat

Hari itu, hari pertama.

Entah harus dari sudut mana aku memandangnya. Hari pertama kekuasaanku di kelas ini mulai terganggu; atau hari pertama kutemu orang yang akan mengubah caraku memaknai masa remaja.

Setelah dua minggu sekolah diliburkan, akhirnya semester baru telah dimulai. Liburan kali ini tidak kugunakan untuk jalan-jalan ke pantai atau pergi ke luar kota bersama keluarga seperti teman-temanku yang lain, aku menghabiskan waktu liburanku untuk mempersiapkan diri agar aku kembali mendapatkan peringkat pertama di kelasku, seperti pada dua semester pertamaku di sini.

Tapi semester ini terasa berbeda, karena Dina, ayahnya adalah seorang anggota TNI yang baru saja pindah tugas dari Bandung ke kotaku. Dia baru masuk ke sekolah kami di hari pertama semester ini, dan hari itu juga dia langsung menjadi saingan terberatku.

Harus kuakui, kekuasaanku di kelas ini seketika memudar sejak dia datang. Dia seringkali mendapat nilai yang lebih baik daripada nilai-nilaiku. Walau sesekali aku bisa mengatasinya, seperti pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, itu pun karena dia tidak suka berolahraga.

Sejak kehadirannya, aku harus belajar lebih giat dan lebih keras lagi hanya untuk mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik dari dia. Tapi kupikir lebih baik begitu karena aku jadi punya semangat yang lebih membara dalam belajar.

Awalnya aku abai dengan kecemerlangannya, tapi semakin sering dia menyalip nilai-nilaiku, aku semakin penasaran terhadapnya. Tapi aku masih merasa gengsi untuk mengajaknya berkenalan. Selain karena tempat duduk kami yang terpisah cukup jauh, posisinya sebagai saingan terberatku juga yang membuat aku merasa tak perlu mengenalnya lebih jauh, sekadar tahu nama saja tak apalah.

Sejak dia kuanggap menjadi sainganku, di kelas kami seperti terdapat sebuah ring tinju yang mempertandingkan aku dengan Dina. Dalam tiap rondenya kebanyakan aku yang kalah, walaupun tidak pernah kalah telak. Namun jelas ini mengganggu pikiranku, setiap hari yang menjadi fokus perhatianku adalah bagaimana cara untuk melampaui prestasi Dina di kelas. Mungkin aku terlalu perfeksionis, hingga aku tak rela jika tahta peringkat pertama yang selama ini melekat di diriku akan direbut oleh seorang anak baru.

Satu ketika aku terpikir untuk diam-diam mempelajari cara dia belajar. Aku ingin mencuri strategi dan teknik belajarnya. Mencuri kebaikan tidak termasuk hal kriminal, bukan? Tak jadi soal, pikirku.

Pagi ini, saat jam istirahat, aku sengaja mengikutinya ke ruang perpustakaan sekolah, aku ingin melihat buku apa saja yang dia baca. Memang sering aku melihatnya pergi ke perpustakaan, mungkin banyak membaca yang membuatnya menjadi begitu cerdas.

Dia sedang menyusuri bagian rak buku dengan label ‘Filsafat’, sedangkan aku di belakangnya, mengikuti persis langkah-langkahnya dari balik rak buku yang membatasi kami. Aku mengintip dari deretan buku-buku, bersiap melihat buku apa yang akan diambilnya.

Dia berbalik badan. Aku pun cepat-cepat ikut berbalik, tanganku memeriksa buku-buku di rak berlabel ‘Sastra’ ini, seolah-olah hendak mencari buku. Aku mencoba bersikap biasa, kalau-kalau dia menyadari keberadaanku di depannya.

“Eh, Sonny, kamu ke perpus juga, mau cari buku sastra, ya?” Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, aku menoleh. Dina! Aku jelas tak siap. Aku hampir tidak pernah berbicara dengannya.

“Eh, Dina. Nggak tahu nih mau cari buku apa, mau lihat-lihat dulu,” jawabku sekenanya.

“Hmm, baca buku ini aja,” dia mengambilkan sebuah buku berjudul Sajak-sajak Chairil Anwar dalam Kontemplasi dari rak buku di depan kami dan menyodorkannya kepadaku, “Aku baru selesai bacanya, baru kemarin aku balikin ke perpus.”

Kuambil buku yang dia sodorkan, di sampul buku itu terdapat wajah Chairil Anwar yang digambar dalam goresan pensil. Kubolak-balik isi buku tersebut. Dalam buku itu terdapat banyak puisi-puisi karya Chairil Anwar dan penjelasan mengenai puisi-puisi tersebut. Jujur saja aku kurang tertarik dengan puisi.

“Aku cuma tahu puisinya yang Aku sama Doa, yang lain aku nggak tahu,” kataku sembari membaca beberapa larik sajak di buku itu.

“Puisi Chairil bagus-bagus semua, Son. Aku paling suka puisi terakhirnya, dia bikin sebelum dia meninggal, judulnya Derai-derai Cemara,” dia menjelaskan sambil tersenyum kepadaku.

Aduhai, senyumnya manis sekali jika dilihat sedekat ini. Ada lesung pipit yang tiba-tiba muncul di kedua pipinya. Aku sampai terpaku. Seperti ada percikan rasa yang aneh tiba-tiba muncul menggerayangi sekujur hatiku. Merayapi setiap jengkal pembuluh nadiku. Hingga membuat degup jantungku tak beraturan.

“Son,” suaranya menyadarkanku, dia menatapku bingung.

“Oh, iya, Din, nanti aku pinjam buku ini,”

“Aku mau baca buku ini dulu, deh,” dia mengambil sebuah buku lain dari rak yang tadi, kemudian dia melangkah menuju meja besar di tengah ruang perpustakaan yang memang disediakan untuk pengunjung membaca buku. Meja itu cukup besar, terdapat masing-masing empat kursi di kedua sisinya, dan tiga kursi di kedua sisi yang lainnya.

Harum tubuhnya tiba-tiba menggoda indera penciuamanku begitu dia melewatiku. Begitu wangi, entah parfum merek apa yang dia gunakan pagi ini.

Aku masih terpaku, aku tak pernah menyangka akan muncul perasaan unik seperti ini. Kurasa aku menyukai Dina, hanya dengan sebuah senyum dia mampu menyihir degup jantungku menjadi kacau begini.

Kuberanikan diri mengambil kursi tepat di sebelah kanannya, kemudian aku duduk dan mulai berpura-pura membaca buku yang tadi diberikan Dina kepadaku. Tapi sebenarnya yang kupikirkan adalah senyum Dina. Senyumnya masih lekat diingatanku, mungkin sudah menempel di simpul-simpul syaraf otakku.

Sesekali kulirik Dina, dia masih membaca bukunya. Mungkin dia belum menyadari kalau aku duduk di sampingnya. Kuperhatikan dari sudut mataku, wajahnya serius saat sedang membaca. Ah, kenapa baru sekarang kusadari betapa istimewanya gadis ini, selain cerdas, senyumnya juga begitu manis melengkung di wajahnya yang cantik dengan rambut hitam lurus yang dia ikat ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Hei, Sonny, kemana saja kamu selama ini?

Seketika saja, dalam detik-detik ini, semua pandanganku terhadapnya beberapa minggu terakhir, yang menganggapnya saingan terberat, musuh bebuyutan, dan pandangan buruk lainnya, berbalik menjadi sebuah kekaguman, sebuah perasaan suka yang entah dengan cara apa harus kujelaskan. Aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Ini kali pertama. Memang dulu pernah ada beberapa teman wanita yang mencoba mendekatiku, tapi aku lebih memilih untuk serius belajar daripada meladeni mereka.

Saat tanpa jarak dengan Dina, rasa yang sama sekali masih baru ini, perlahan-lahan mengambil alih hatiku. Rasa ini aneh, ada letupan bahagia yang memantul-mantul di ruang hatiku saat mendapat senyum termanis dari bibirnya. Juga ada rasa nyaman yang meraja seketika saat aku duduk tepat di sampingnya, sedekat ini. Tapi sepertinya dia masih belum sadar aku ada di sini, matanya masih tertuju pada buku di hadapannya. Dengan begitu, aku bisa leluasa melahap habis keindahan wajahnya dari sudut mataku. Kekaguman ini semakin menjadi-jadi kala kulihat tatapan tajamnya pada tulisan yang sedang dia baca.

“Eh, Son, coba baca deh sajak yang ini, dalam banget maknanya,” aku tersentak kaget, ternyata dia sudah menyadari aku sedang duduk di sampingnya. Aku mengatur napas, mencoba tetap tenang walaupun jantungku berdetak kencang. Kubaca sajak yang ditunjukkan Dina dari buku yang sedang dibacanya.

“Cinta tak memberikan apa pun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta.” — Kahlil Gibran

Siapa pula Kahlil Gibran ini, aku baru pertama kali mendengar namanya. Kubaca lagi kalimat-kalimat itu beberapa kali. Benar kata Dina, makna dari sajak ini begitu dalam. Hebat juga si Kahlil Gibran ini bisa menulis kata-kata seindah itu.

“Kamu kenapa suka puisi, Din?” Aku mencoba menggali informasi tentang kesukaannya ini.

“Suka aja, kata-kata dalam puisi itu bagus-bagus,”

“Kamu bisa bikin puisi?”

“Nggak bisa. Aku cuma suka baca puisi aja. Kamu dong bikinin aku puisi,” dia meminta dengan nada sedikit manja sambil kembali tersenyum. Seketika aliran darahku berdesir deras saat mendengar pintanya itu.

“Eh, aku nggak bisa juga bikin puisi,” aku benar-benar harus menolak permintaannya kali ini. Bagaimana tidak, aku masih sangat awam dalam hal ini.

“Ya udah, kalau begitu, cariin aku puisi yang bagus,”

“Begini aja deh, kita sama-sama tahu kan kalau nilai kita itu selalu kejar-kejaran di kelas,”

“Emang gitu ya? Hmm, terus apa hubungannya sama kamu bikinin aku puisi?”

“Mungkin kamu belum tahu, semester-semester kemarin aku terus yang peringkat satu. Nah, kalo kamu bisa jadi juara satu semester ini, aku bikinin deh puisi paling indah dan paling bagus buat kamu, nanti aku belajar gimana cara bikinnya.”

“Kalo aku nggak juara satu?”

“Tapi kalau aku yang juara satu lagi, kamu yang bikinin aku puisi. Gimana?” Sebenarnya aku bukan memberikan tantangan kepada Dina, tapi aku menantang diriku sendiri.

“Oke, no problem. Ujian Matematika kemarin aja bagusan nilaiku daripada kamu,” katanya mengejekku.

“Ah, cuma beda satu poin doang, Din.”

Suara bel telah berbunyi, merambat di sepanjang koridor gedung sekolah dan masuk hingga bergema ke ruang perpustakaan, menandakan jam istirahat telah berakhir. Aku menuju meja petugas perpustakaan untuk meminjam buku puisi Chairil Anwar tadi. Dan ternyata Dina menungguku. Lalu kami bersama-sama kembali menuju kelas.

Sesampainya di depan pintu kelas, ternyata Bu Titin, guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas kami, sudah siap mengajar dan sedang menuliskan materi di depan kelas. Aku dan Dina masuk dan menghadap Bu Titin untuk meminta maaf karena telah terlambat masuk kelas. Namun langkah pertama kami langsung disambut sorak sorai teman-teman sekelas menggoda kami. Tentu saja aku malu, mungkin Dina juga sama malunya denganku.

Bu Titin berhenti menulis dan menoleh ke arah kami. Kami mendekat.

We’re sorry, Ma’am, we’re late. We were borrowing this book from library,” aku menjelaskan alasan kami sambil menunjukkan buku yang tadi kupinjam. Sorak sorai seisi kelas masih belum reda.

“Bagaimana, anak-anak? Dimaafkan nggak?” Bu Titin malah melempar pertanyaan ke teman-temanku.

“Nyanyi dulu, Bu!” Salah satu temanku berteriak memberi usul.

“Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!” Awalnya hanya beberapa orang yang berteriak, namun semakin lama semakin riuh.

“Tuh, nyanyi dulu kata teman-temanmu. Duet ya, dan harus lagu bahasa Inggris,” kemudian Bu Titin melangkah ke meja guru, memberi isyarat bahwa kami memang harus bernyanyi.

“Lagu apa?” Aku berbisik.

“Westlife kamu tahu?”

“Lagu yang mana?”

I Lay My Love on You, gimana?” Dina memberi saran.

“Oke,”

“Kamu bait pertama, aku bait kedua sama ketiga, ref-nya kita bareng,”

“Sip,” seisi kelas berubah tenang, mereka semua sudah siap mendengar kami bernyanyi.

“Ehem. Just a smile and the rain is gone, can hardly believe it, yeah…
There’s an angel standing next to me, reaching for my heart…” aku mulai bernyanyi dengan suara yang pas-pasan.

Just a smile and there’s no way back, can hardly believe it, yeah…
But there’s an angel calling me, reaching for my heart…
I know, that I’ll be okay, cause this time it’s real…” Dina melanjutkan bernyanyi dengan merdu, suaranya begitu enak didengar, kemudian dia menoleh ke arahku, memberi tanda agar aku bersiap mengikutinya menyanyikan bagian refrain.

I lay my love on you, it’s all I wanna do, everytime I breathe I fell brand new…
You open up my heart, show me all your love, and walk right through…
As I lay my love on you…” kami selesaikan bernyanyi pada bagian ini. Suara tepuk tangan mulai membahana dari semua teman-teman kami. Aku tahu, mereka bukan bertepuk tangan karena suaraku, tapi karena suara Dina yang begitu baik menyanyikan lagu ini.

Please, sit down,” Bu Titin mempersilakan kami duduk.

Sejak hari itu, aku tak pernah berhenti memutar lagu I Lay My Love on You melalui pemutar kaset di kamarku. Ya, setiap mendengar lagu ini, aku selalu terbayang betapa indah tatap mata Dina saat kami bernyanyi bersama di depan semua teman-teman kami.

Hari-hari berikutnya aku semakin sering ke perpustakaan, tapi aku bukan membaca buku-buku puisi, aku belajar di ruang perpustakaan yang sunyi dan tenang. Kadang ada Dina juga yang ikut duduk bersamaku, sesekali kami membahas materi pelajaran bersama-sama.

Minggu-minggu berlalu, aku semakin dekat dengan Dina, benih-benih rasa yang semakin kuat tumbuh berkembang di meja perpustakaan. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Sekadar untuk mengatakan suka saja sepertinya lidahku begitu kaku. Biarlah kupendam saja perasaan ini. Lagi pula aku tak ingin prestasiku malah terganggu karenanya. Bukankah aku sudah menantang diriku sendiri agar aku tetap mendapat peringkat pertama di kelas dan tak perlu susah-susah membuatkan puisi untuk Dina.

***

Ujian Akhir Semester sudah semakin dekat, hanya tersisa dua minggu lagi. Entah mengapa aku merasa gugup, biasanya aku selalu percaya diri menghadapi UAS, aku selalu yakin nilaiku akan bagus. Tapi kali ini benar-benar berbeda, ada Dina, yang bisa saja dengan mudah mengambil alih tempatku di posisi pertama, seperti yang dia lakukan terhadap hatiku.

Sebab itu aku semakin giat belajar, aku pun semakin sering ke perpustakaan untuk mendapatkan suasana tenang dalam belajar. Aku tak mau kalah kali ini, nilaiku harus lebih baik daripada Dina.

Dalam hari-hari menjelang UAS pun aku dan Dina semakin sering belajar bersama, bukan hanya di perpustakaan, kami juga sering belajar kelompok bersama teman-teman yang lain di kelas seusai sekolah. Kadang aku dan Dina bergantian memberikan materi kepada teman-teman kami. Ketika ujian sudah dimulai pun, kami malah selalu belajar berdua saja. Di masa-masa inilah yang menjadi saat-saat aku paling dekat dengan Dina.

Rivalry turns into love. Mungkin kalimat itu tidak berlebihan kutujukan untuk diriku, jika mengingat minggu-minggu pertamanya di sini saat dia berani-beraninya menjadi saingan terberatku—meski ini hanya pandangan subjektifku. Namun setelah mengenalnya, aku malah menjadi kagum terhadapnya. Sekarang aku tak pernah menyalahkan dia, memang pada kenyataannya dia lebih cerdas dariku. Aku banyak sekali belajar darinya.

UAS telah selesai, dan hari ini adalah hari yang paling kutunggu selama satu semester ini: pembagian rapor. Aku tak sabar ingin melihat hasil kerja kerasku selama ini, apakah masih aku yang mendapat peringkat pertama atau Dina yang mengambil alihnya dariku. Dan jika ini terjadi, aku harus bersiap membuatkan puisi untuk Dina sesuai kesepakatan kami beberapa bulan yang lalu.

Semua siswa di kelas sudah duduk di kursi masing-masing. Kuperhatikan Dina sedang mengobrol dengan Tika, teman satu bangkunya. Rambutnya masih dia ikat ke atas. Ah, dia semakin menarik saja setiap harinya.

Bu Titin melangkah masuk, membawa setumpuk buku rapor bersampul biru di tangannya. Lalu meletakkannya di atas meja guru dengan hati-hati. Suasana kelas berubah tenang.

“Baiklah anak-anak,” Bu Titin membuka suara, “Sebelum Ibu bagikan rapor kalian, Ibu mau memberikan pengumuman mengenai libur semester. Karena ini adalah semester ganjil, jadi liburnya hanya satu minggu, ya.”

Seisi kelas berubah gaduh, sepertinya libur satu minggu yang diberikan pihak sekolah terasa kurang. Sedangkan menurutku, libur satu minggu rasanya terlalu lama karena selama seminggu pula aku tak akan bertemu Dina.

“Sudah, sudah, tenang!” Bu Titin menenangkan kelas, “Ibu akan bagikan rapor berdasarkan peringkat nilai dari yang tertinggi,” lalu Bu Titin mengambil rapor yang terletak di tumpukan paling atas.

Detik-detik ini terasa berjalan begitu lama, saat beliau membuka halaman sampul rapor itu, mengenakan kaca mata rabun dekatnya, kemudian bibirnya mengeja huruf-huruf yang tertulis di sana, semuanya seperti gerak lambat dalam penglihatanku.

“Sonny Wijaya!” Aargh! Rasanya aku seperti mau loncat dari kursi mendengar namaku yang lebih dahulu dipanggil Bu Titin. Aku juara satu lagi!

Cepat-cepat aku beranjak dari kursi dan menuju meja guru, langkahku diikuti tepuk tangan dari teman-teman sekelasku. Setelah mengambil raporku dan mencium tangan Bu Titin sebagai tanda penghormatanku, aku kembali menuju kursiku. Kulihat Dina mengangkat dua jempolnya ke arahku sambil tersenyum manis.

“Dina Ardiana!” Seperti yang sudah kutebak, kuikuti gerak bibir Bu Titin saat menyebutkan nama Dina sebagai peringkat kedua.

Setelah selesai pembagian rapor, Dina menghampiriku di bawah pohon dekat gerbang, tempat para siswa biasa menunggu jemputan orangtua mereka.

“Selamat, ya, Son, kamu juara lagi.” Dina tersenyum sambil menyodorkan tangannya.

“Selamat juga kamu juara dua, Din,” kujabat tangannya. Kulit tangannya begitu halus dan lembut, rasanya tak ingin kulepaskan jabat tangan ini. “Jadi kamu ya yang bikinin aku puisi,” aku mengingatkan perjanjian kami sebelumnya.

“Iya, iya, aku nggak lupa kok,” dia menarik tangannya yang lupa kulepaskan. “Eh, aku pulang duluan ya, Son, udah dijemput tuh,” katanya sambil menunjuk seseorang di atas motor berwarna hijau berseragam tentara.

“Iya, Din, hati-hati di jalan, ya. Sampai ketemu minggu depan!” Aku berteriak saat dia mulai menjauh, lalu dia menoleh dan tersenyum manis sekali lagi. Kemudian dia berlari kecil menuju ayahnya. Dia duduk menyamping di atas jok motor itu. Dia melambaikan tangannya ke arahku, aku hanya tersenyum tanpa membalas lambaian tangannya.

***

Hari ini, hari pertama.

Setelah satu minggu sekolah diliburkan, akhirnya semester baru telah dimulai. Liburan kali ini tidak kugunakan untuk jalan-jalan ke pantai atau pergi ke luar kota bersama keluarga seperti teman-temanku yang lain, aku menghabiskan waktu liburanku untuk mempersiapkan diri agar aku kembali mendapatkan peringkat pertama di kelasku, seperti pada tiga semester sebelumnya.

Tapi kali ini terasa berbeda, karena Dina. Selama satu minggu, aku tak bisa berhenti memikirkan Dina. Aku bahkan sudah menyiapkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku kepada Dina. Aku pernah terpikir untuk menelepon ke rumahnya, tapi aku tak tahu harus membicarakan apa saat teleponku telah tersambung nanti. Kalau mengungkapkan perasaanku melalui telepon rasanya ada yang kurang. Apalagi jika nanti ayahnya yang mengangkat. Membayangkan ayahnya saja aku sudah takut duluan. Ah, sudahlah tunggu saja beberapa menit lagi, aku akan kembali melihat senyumnya. Menunggu waktu yang tepat, dan hari ini tekadku sudah bulat akan menyatakan cinta untuk pertama kalinya kepada seseorang, kepada Dina.

Suara bel telah berbunyi, merambat di sepanjang koridor gedung sekolah dan masuk hingga bergema ke ruang kelasku, menandakan sekarang sudah pukul tujuh dan sudah saatnya pelajaran dimulai.

Tapi di mana Dina? Kursinya masih kosong, bahkan Tika, yang seharusnya duduk di sebelahnya pun belum kelihatan batang hidungnya. Sedangkan guru yang mengajar pagi ini telah masuk kelas. Biasanya kalau Tika terlambat, Dina pun ikut terlambat karena rumah mereka bersebelahan.

Tok. Tok. Tok. Tika mengetuk pintu. Dia segera menghadap guru kami, lalu menuju ke kursinya. Di mana Dina? Kenapa hanya Tika sendiri yang datang? Selama jam pelajaran ini aku tak bisa fokus, aku masih memikirkan Dina, dan apa yang membuat dia tidak masuk sekolah hari ini.

Setelah bel kembali berbunyi pertanda jam pelajaran pertama telah usai, aku segera menuju kursi Tika, bahkan sebelum guru meninggalkan kelas. Tak sopan memang, tapi kekhawatiranku lebih besar saat ini.

“Tika, mana Dina?” Aku langsung memburu Tika dengan rasa penasaranku.

“Oh, Sonny. Hmm, Dina bilang sama aku kalau dia titip maaf buat kamu.”

“Maaf? Maaf apa?” Aku semakin penasaran.

“Minggu lalu Dina pindah ke Jambi, papanya pindah tugas ke sana, dia nggak sempat kasih tahu kamu,”

“Hah!?” Seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalaku. Rasa yang sudah begitu membuncah pagi ini, rindu yang sudah kuperam selama satu minggu ini, kata-kata yang sudah di ujung lidah dan sudah siap untuk kuungkapkan kepada Dina, seperti tak punya makna apa-apa lagi. Dina tidak di sini lagi.

“Oh iya, Son, ini ada titipan dari Dina,” Tika merogoh ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat rapi. Dia berikan kepadaku.

Masih dengan perasaan gundah yang sepagi ini menyergap tiba-tiba, kubuka lipatan kertas itu.

For: Sonny Wijaya

Maafin aku ya Son, aku gak bilang sama kamu kalo aku mau pindah lagi, ikut papaku lagi.
Aku tau, apa yg kita lewati selama ini pasti ninggalin kenangan, simpan baik2 ya kenangan itu.

Son, jujur aku nyaman banget deket sama kamu, aku suka sama kamu sejak pertama aku masuk kelas. Tapi aku gak pernah berani bilang, kalopun kamu yg bilang duluan, pasti aku tolak. Karna aku tau, aku gak mungkin tinggal lama2 di sini, aku pindah2 terus ikut papaku.

Son, kalo nanti kita ketemu lagi, kamu jangan lupa sama aku ya…

Oh iya, aku ada utang puisi ya. Aku dah coba bikin, tapi tetep gak bisa. Jadi aku tulis puisi kesukaanku gak apa2 ya. Puisi ini judulnya “Aku Ingin” dari Sapardi Djoko Damono.

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Salam kangen,

Dina Ardiana

Lembar Kenangan

Lembar Kenangan

Entah dari mana datangnya, bulir-bulir hangat telah menggumpal di sudut-sudut mataku. Tak pernah sekalipun terbayangkan olehku Dina akan pergi dengan cara seperti ini. Tanpa sempat kuucapkan selamat tinggal, bahkan lambaian tangannya pun tak sempat kubalas.

Cinta yang tak sempat terungkapkan. Cinta yang seharusnya indah, namun terenggut jarak, tanpa pernah kutahu kepada apa ia harus kutuliskan. Mungkin satu saat nanti, aku akan menuliskan banyak puisi untuk Dina, agar dia tetap hidup dalam huruf-huruf yang terangkai indah, seindah dirinya.

Terima kasih, Dina. Meski hanya sementara, kehadiranmu telah mengajarkan hatiku tentang perasaan yang baru kali ini kukenal, meski tak sempat kusampaikan, hadirmu begitu indah kurasakan. Seperti pelangi, senyummu tetap melengkung indah di langit hatiku. Selamanya.

Iklan

33 komentar

  1. Syg bnget put… perpisahan.. nggak smpett

    1. Nggak sempat bilang 😦
      Walaupun udah ketemu lagi via fb & twitter tapi udah punya orang :p

      1. wahhh…. kasiann banget.. udah ada yang punya ya… miris inii.. 😦

        1. lhaaa, ini kan cerita bertahun lalu :p
          mup on mup on :p

          1. mup ap… mup ap…. 😀

  2. hih jangan menyerah!bisa!

    1. apaaaaaaa mbak 😐

      1. Tungguin hih mbak dinanya!seret !

        1. dina itu siapa ya mbak? 😐

  3. Waaah ceritanya kok sadending nich. Ayo dong dikejar kaya’ Ada Apa dengan Cinta 🙂

    1. di ada apa dengan cinta aja rangganya pergi ga balik2 mbak :p

      1. Iya sih tapi ada adegan klimaks pas dibandara. Ni ceritanya kurang menggigit. Btw, bukan masalah ciuman antara rangga dan cinta ya. Tapi saat cinta berusaha sampai di bandara dan akhirnya bertemu Rangga

  4. lucu tp tetap sedih bagian endingnya, Sedihhhhh arggg :'(.

    1. lucuuuu? mbak 😐

      1. kan katanya gak boleh terlalu sedih , 😛

  5. loh ini based on true story kah? itu ada gambar suratnya. ya ampuuuuuun seneng bgt yg jadi dina, bs dicintai sm org setulus sony

    1. A. Abdul Muiz · · Balas

      Putra, Kak. Bukan Sonny. Hehe.

      Ini pas SMA, Mas? Ah, kamu mengingatkanku akan persaingan itu. 🙂

      1. ih, persaingan sama yang di “Dunia Saya” kah :p

    2. uni gak ikut kelas poetica ya 😦
      tugasnya disuruh gitu emg uni 😐

  6. I. Just. Feel. Like. I. Wanna. Cry. Over. And. Over. And.Over. AGAIN! T____T Men~ This is so beautiful….

    1. So. Cry. Dict. T_T

  7. AAAAKKKK.. WAKTU SMA EMANG MASI TELEPONAN PAKE TELEPON RUMAH!! *ini gak selau banget. Serasa balik lagi ke SMA. Bagus puuut!! :))

    1. Aduh ketauhan deh udah tua T_T

  8. galau nyastra ya judulnya *telat komen

    1. gak telak kok hehe 😀
      makasih sudah bersedia membaca 😀

      1. aku pernah bahas “aku ingin” di blogku

        1. wah, minta linknya dong 😀

            1. thanks 🙂
              btw, bulan ini ada 3 buku baru SDD yang terbit lho 😀

              1. nitip dong *ngarep

                1. aku aja lagi ngumpulin duit ini, mahal2 bukunya xD

                  1. berapaan? aku mau beli dong *sok banyak duit

                    *derita di WP nggak ada DM >,<

                    1. aku kok gak bisa komen di blog kamu?
                      aku dah mention tuh twitter kamu 😀

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: