Eksplorasi Setting dalam Tulisan

Materi yang dibahas saat Kelas Menulis Poetica pada Jumat Malam, 22 Maret 2013 yang lalu adalah tentang Setting atau Latar dalam bahasa Indonesia,.

Apa itu Setting?

Setting adalah salah satu unsur intrinsik dalam sebuah tulisan, setting memiliki peran yang sangat penting karena setting-lah yang bertugas memperkuat tema, menuntun watak tokoh, hingga membangun suasana cerita. Setting yang baik akan memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas, sehingga memberikan kesan realistis kepada pembaca.

Setting bisa berhubungan dengan tempat dan bisa berhubungan dengan waktu. Setting yang berhubungan dengan tempat biasa disebut dengan setting fisik, yaitu latar yang menyusun lokasi atau ruang dimana (where) peristiwa yang diceritakan terjadi. Sedangkan setting yang berhubungan dengan waktu biasa disebut dengan setting kronologis, yaitu latar yang memberikan gambaran kapan (when) peristiwa yang diceritakan dalam tulisan terjadi.

Setting fisik dan kronologis ini bisa kita deskripsikan secara umum dan secara spesifik. Penggambaran setting secara umum akan membuat tulisan menjadi lebih universal dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, misalnya sebuah kota pada pagi hari. Sedangkan penggambaran setting secara spesifik akan menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah nyata terjadi, misalnya di Pantai Barat Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.

Peggambaran setting yang mana yang lebih baik?

Tentu hal ini tidak bisa dijelaskan dengan mudah, karena pemilihan penggambaran setting secara umum atau spesifik tergantung kepada penulis, apakah cerita yang akan dibuatnya mengharuskan penggambaran setting yang spesifik agar pembaca yang pernah mengunjungi atau berada pada tempat dan atau situasi yang digambarkan tersebut lebih bisa merasakan dan memiliki keterikatan emosi dengan cerita yang dibangun tersebut. Atau penulis lebih memilih penggambaran setting secara umum agar pembaca tidak harus terikat dengan cerita yang dibangun tersebut.

Dalam membangun setting kita bisa mengedepankan sense atau indra yang kita miliki. Misalnya indra penglihat, indra pendengar dan indra pencium. Kita dapat mengeksplor suasana, suara atau bau yang ditangkap oleh indra kita tersebut untuk mendapatkan cerita yang memiliki kesan yang realistis dan nyata.

Namun demikian, proporsi dan detail setting yang kita sajikan haruslah memadai. Salah satu caranya adalah dengan melakukan riset terhadap tempat yang akan kita tuliskan. Begitupun pada penulisan fantasi, usahakan agar setting yang kita bangun punya proposi yang pas, karena dalam fantasi kita tidak bisa memberikan deskripsi seadanya mengenai setting tempat, karena pambaca akan menjadi bingung dan akhirnya tidak bisa mengimajinasikan tempat yang penulis coba gambarkan dalam ceritanya. Sedangkan pada penulisan fiksi biasa (bukan fantasi), penggambaran setting yang terlalu banyak juga tidak baik karena akan membuat pembaca menjadi bosan, namun penggambaran setting yang terlalu sedikit juga akan mengganggu karena tidak memberikan gambaran yang cukup kepada pembaca.

Agar hal demikian tidak terjadi dalam tulisan kita, caranya adalah dengan penembatan deskripsi setting yang bervariasi. Setting tidak hanya bisa kita gambarkan dalam sebuah paragraf, namun juga bisa kita masukkan ke dalam dialog. Sebagai contoh, silakan perhatikan penggambaran setting tempat yang dituliskan ke dalam dialog berikut ini:

“Coba ambilkan buku yang ada di belakangmu. Nah, ya, tidak jauh dari sisi kanan kamu.”

“Yang di sebelah kanan rak buku itu? Ok, sebentar, aku akan mengambilnya.”

Dari dialog di atas kita bisa mengetahui setting tempat yang coba digambarkan penulis, yaitu di sebuah ruangan yang terdapat rak buku, bisa jadi sebuah perpustakaan. Setting yang diselipkan ke dalam dialog seperti ini tentu akan mengurangi kejenuhan pembaca.

Demikianlah materi mengenai setting atau latar yang kami dapatkan pada pertemuan terakhir Kelas Menulis Poetica, dan setiap akhir pembahasan materi selalu ada tugas yang menanti untuk kami kerjakan. Kali ini tugas tersebut adalah membuat tulisan tentang proses kelahiran yang kita alami, dengan perspektif yang bisa kita pilih apakah sebagai ibu yang melahirkan, bayi yang dilahirkan, bidan yang membantu persalinan, perawat yang membantu bidan atau bahkan ayah yang menanti kelahiran bayinya. Bukan hanya itu, kami juga diberi tugas membuat tulisan tentang cinta pertama yang kami alami. Tentu saja dalam kedua tulisan tersebut kami harus menerapkan semua materi yang telah kami dapatkan pada Kelas Menulis Poetica selama ini.

Iklan

4 komentar

  1. Teguh Puja · · Balas

    Senang sekali, bertambah lagi jurnal yang sudah selesai dari partikel Poetica. 😉

    1. Terima kasih atas semua ilmunya mas 😀

      1. Teguh Puja · · Balas

        Terima kasih juga ya sudah berbagi dengan pembaca Putra juga. 😉

  2. saya kayaknya paling lemah dalam hal bikin setting, thank’s ilmunya. salam kenal 🙂

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: