Belokan Pertama

Pagi ini aku benar-benar dibuatnya bingung. Ada sebuah dilema yang menggantung. Dan dalam waktu beberapa menit saja, aku harus sudah memiliki keputusan.

Ia datang kembali. Ia yang telah berjasa membawaku hingga aku duduk nyaman di kursi ini. Ia menyodorkan beberapa lembar kertas ke atas meja kerja yang belum lama kutempati. Baru sekitar satu bulan aku menempati ruangan ini. Ruangan dimana semua kebijakan mengenai kota ini harus aku setujui atau aku tolak, hanya dengan membubuhkan tanda tanganku saja.

Ia duduk di sofa yang empuk, tempat aku menjamu tamu-tamu khusus yang bertandang kemari. Sambil menghisap cerutunya, ia menyuruhku segera mengambil keputusan yang sesungguhnya tidak ingin kuambil. Aku benar-benar dibuat bingung.

Di kertas-kertas itu tertulis tentang izin perluasan sebuah pusat perbelanjaan miliknya di tengah kota. Menurutku ini salah. Karena jika kusetujui, maka akan dilakukan pembebasan lahan warga sekitar secara paksa dan jelas akan merugikan warga yang baru satu bulan ini kupimpin. Tapi jika tidak kusetujui, alangkah tidak berbudinya aku. Dimana rasa terima kasihku kepadanya? Ia yang telah berjasa membawaku hingga aku duduk nyaman di kursi ini.

Beberapa bulan yang lalu, saat aku belum duduk di kursi ini. Ia mendatangi kediamanku. Aku sudah lama mengenalnya, namun sudah lama pula kami tak bertemu.

Di malam itu, ia dan beberapa rekannya datang dengan sebuah maksud tertentu. Ia sengaja mendatangiku untuk menawarkan kedudukan yang paling tinggi di kota ini. Pada awalnya aku menolak, karena menurutku dunia politik adalah dunia yang lebih banyak keburukan daripada kebaikannya. Namun ia meyakinkanku bahwa dengan menduduki posisi ini, aku akan lebih mudah melakukan kebaikan. Aku akan lebih mudah mendirikan rumah-rumah ibadah, membangun sekolah-sekolah untuk warga kota yang kurang mampu, juga memberikan fasilitas-fasilitas umum yang masih kurang memadai di kota ini. Aku pikir ada benarnya juga apa yang ia katakan.

Tetapi dengan posisiku sebagai kepada desa pada saat itu, aku utarakan bahwa aku tidak memiliki cukup uang sebagai dana kampanye. Yang kutahu, kampanye membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mencetak baliho-baliho, membuatkan baju-baju untuk tukang-tukang becak dan penjual-penjual sayur di pasar dan mengadakan pergelaran dangdut yang akan mengundang artis ibu kota. Butuh uang yang bukan lagi dalam hitungan jutaan, bisa sampai puluhan juta bahkan ratusan juta. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Tapi ternyata, ia sudah menyiapkan semuanya. Ia sudah menyiapkan dana kampanye yang lebih dari cukup untukku. Yang perlu aku lakukan hanyalah meyakinkan masyarakat bahwa di bawah kepemimpinanku, mereka akan sejahtera.

Selama berbulan-bulan aku membangun citra yang sangat baik di masyarakat kota ini. Kurancang semua program-program kerja yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Dan dengan uang dari teman lamaku itu, tim kampanye melakukan publikasi besar-besaran. Mulai dari poster-poster, bendera-bendera, baliho-baliho, hingga iklan di stasiun televisi lokal. Semuanya semakin menguatkan posisiku di mata masyarakat. Terlebih saat pemimpin yang masih berkuasa tersandung masalah korupsi, sebuah hal yang lazim dilakukan oleh pejabat-pejabat yang masa jabatannya akan segera berakhir. Semoga saja aku tidak mengikuti jejak mereka.

Dengan uang kampanye yang melimpah, tidak terlalu sulit aku melangkah hingga akhirnya lebih dari separuh masyarakat kota ini memilihku sebagai pemimpin baru mereka.

Aku sudah tanamkan tekad yang kuat dalam hati, agar aku menjadi pemimpin yang baik. Juga kepada istri dan anak-anakku kupesankan agar mereka selalu mengingatkan jika aku mulai berbelok ke jalan yang tidak seharusnya kulalui.

Hingga satu bulan setelah pelantikanku. Ia datang kembali. Ia yang telah berjasa membawaku hingga aku duduk nyaman di kursi ini.

Pagi ini aku benar-benar dibuatnya bingung. Ada dilema yang menggantung. Dan dalam waktu beberapa menit saja, aku harus sudah memiliki keputusan.

Aku tengah berada di persimpangan jalan. Ia yang telah berjasa membawaku hingga aku duduk nyaman di kursi ini, berusaha menarikku ke jalan yang tidak seharusnya kulalui. Tapi apa dayaku? Tak mungkin uang ratusan juta yang telah ia habiskan agar aku bisa sampai pada jabatan ini kuacuhkan, atau kuanggap sebagai hadiah saja darinya. Tidak mungkin. Mau tak mau, demi berbalas budi, aku harus mengikuti kemauannya ini.

Sambil menghisap cerutunya, ia menyuruhku segera mengambil keputusan yang sesungguhnya tidak ingin kuambil.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, akhirnya kububuhkan tanda tanganku di kertas-kertas itu. Kemudian kulihat melengkung sebuah senyum puas di bibirnya. Dan aku telah resmi berbelok ke jalan yang tidak seharusnya kulalui.

Iklan

4 komentar

  1. Teguh Puja · · Balas

    Menjadi pemimpin dengan modal seperti itu bisa justru lebih banyak mendatangkan keburukan. Dan, akhirnya bisa membawa lebih banyak kemadharatan.

    1. Belokan-belokan berikutnya sudah menunggu untuk ia lewati juga.
      Semoga tidak terjadi pada pemimpin-pemimpin di Indonesia, Mas. πŸ˜€

      1. Teguh Puja · · Balas

        Semoga itu tidak terjadi di pribadi kita semua, Put. πŸ˜€

        1. Amin, Mas πŸ˜€

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: