Menjelang Akhir

Onggokan mayat-mayat berserakan di berbagai tempat, gedung-gedung hancur berantakan, sementara manusia seperti kapas yang berterbangan. Setiap orang lari tunggang langgang, takut dan khawatir menjadi satu dengan peluh yang mengalir deras dari masing-masingnya. Berdesakan semua orang mencari perlindungan. Ombak-ombak dari lautan seperti berkaki mengejar. Bau amis menyebar di setiap tempat.

Tak ada yang bisa dilakukan selain berlari sekencang-kencangnya, menuju tempat yang orang bilang bisa menyelamatkan. Semua keegoisan muncul ke permukaan, tak ada lagi kawan, sahabat, saudara, tetangga, yang ada hanya diri sendiri, hanya mencari keselamatan sendiri. Perkara kehilangan dibiarkan terkubur di dasar hati. Toh, sudah banyak yang hilang, tak apalah menambah beberapa lagi daftar kehilangan, asalkan tetap bisa bertahan hidup.

Semakin lama, semakin lebih banyak kesulitan yang ditemukan di sepanjang jalanan. Amis darah terus saja bertambah pekat. Darah-darah yang tertumpah menjadi aliran sungai baru. Warna merah pekat menjadi satu-satunya warna yang terlihat. Luka di sekujur badan pun rasanya sudah tidak lagi diindahkan. Ah, neraka seperti sudah benar-benar dekat di bibir ujung jalan.

Terus saja melangkah, hingga menjauh dari tempat ini, itu kalimat yang terlintas dalam benak orang-orang yang masih bertahan. Tapi entah sampai kapan harus melangkah, tak ada yang tahu. Tempat yang orang bilang bisa menyelamatkan itu pun sepertinya hanya mitos, hanya dongeng belaka, tak kunjung terlihat. Yang terpampang sejauh mata memandang hanyalah tubuh-tubuh tanpa nyawa yang berserakan tak beraturan.

Lamat-lamat teringat tentang amalan-amalan yang menyelamatkan. Ibadah-ibadah sederhana yang sesungguhnya mampu menyelamatkan. Tapi, entah karena hidup terlalu pintar menawarkan kesenangannya, atau karena hati dan pikiran yang selama ini mudah terlenakan. Tak banyak dari kami yang bisa menjawabnya. Mau bertanya pun tak tahu lagi kepada siapa. Para cendekiawan dan agamawan sudah tak lagi ada keberadaannya. Telah diperdahulukan kematiannya. Sementara yang tersisa hanyalah manusia-manusia dengan debu-debu dosa dalam setiap lapis kulitnya.

Bayangan-bayangan tentang betapa sejahteranya kehidupan sebelum semua ini terjadi pun ikut menari-nari menambah berat dan perihnya kaki-kaki yang tiada henti berlari sejak tadi. Percuma saja semua yang telah dikumpulkan selama ini. Harta-harta dengan wujud gedung-gedung nan indah, rumah-rumah yang megah, kendaraan-kendaraan mewah, sekarang semuanya menjadi sampah. Tak satu pun yang mampu menyelamatkan.

Beberapa waktu yang lalu, telah berulang-ulang kali penyeru kebaikan datang menghampiri kami. Namun keangkuhan memang telah begitu kuat merajai kami. Penyeru itu terusir dan terpinggirkan. Dahulu kami pikir hanya harta yang berlimpah yang bisa menjaminkan kami kesehatan dan kehidupan tiada cacat. Kami lupa, akan ada kehidupan lain setelah kefanaan ini.

Kami lupa, dalam kehidupan yang fana ini, harta dan tahta hanyalah sesuatu yang sifatnya sementara. Ia bisa datang dan pergi kapan saja. Tiada yang bisa menduga dan menerka kapan dan dimana semua itu akan terpisahkan dari jiwa raga kami yang lemah ini.

Dan kini, dengan tubuh yang telah bersimbah peluh, dengan kaki-kaki yang penuh dengan duri menancap di telapaknya. Barulah sesuatu yang klise itu hadir, penyesalan yang datang terlambat. Setelah semua harta musnah, setelah semua sanak keluarga hilang, penyesalan itu datang dengan langkah kaki yang angkuh, menuju kami yang telah salah mengagungkan dunia dan memuja segala kefanaannya.

Dengan langkah yang tertatih. Kami terus berjalan. Tiada tujuan. Malam merayap, semakin kelam. Langit semakin gelap. Sunyi semakin menyesakkan dada. Udara menghilang perlahan. Cahaya lenyap. Kematian menjadi begitu dekat.

Hingga gelap memaksa langkah-langkah kami terhenti di sini. Perlahan-lahan isak tangis mulai terdengar, kemudian tangis-tangis itu saling bersahutan dalam malam yang gulita. Tak ada cahaya. Bahkan bulan pun enggan memantulkan cahaya matahari. Tidak ada setitik bintang pun yang muncul. Kami seperti buta. Lalu penyesalan kembali hadir, membisikkan ke telinga-telinga kami tentang betapa bodohnya menyerahkan waktu kepada hal-hal yang akhirnya pun musnah tak bersisa.

Malaikat-malaikat penjaga telah hadir di bibir jalan. Hanya beberapa jejak langkah lagi. Kami telah dijemput, dan tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menerima pengadilan untuk buku catatan kehidupan kami yang telah tuliskan selama ini.

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman dan Teguh Puja

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: