Senjata Baru

Dari balik jendela kaulihat senja mulai menjingga, lampu-lampu mulai dinyalakan agar menerangi seluruh ruangan. Teman-teman sebayamu sudah sibuk keluar dari tempat persembunyiannya, dari balik baju-baju yang tergantung di belakang pintu, dari bawah ranjang yang gelap, bahkan ada yang masuk dari luar melalui celah-celah di bawah pintu. Sedangkan kau masih saja ragu, kau masih berdiam di sudut ruangan, tapi matamu tetap mengawasi keadaan sekitar, kau tak mau hidupmu terenggut oleh jaring-jaring jebakan yang ditebar oleh sekelompok perempuan-perempuan tua yang reputasinya terkenal kejam. Bagaimana tidak, membunuh dan memakan suaminya saja mereka tega, apalagi membunuh dan memakanmu, yang masih muda dan sedang berupaya mencari sumber protein bagi calon anak-anakmu. Kau juga selalu hati-hati terhadap mereka yang suka mengendap-endap tanpa terdengar langkah kakinya, kemudian lidahnya yang panjang dan lengket dengan mudah menelanmu. Tapi sepertinya di tempatmu sekarang masih aman, mungkin saat ini belum masuk jam makan malam mereka.

Ini malam pertamamu, tapi kalau sedang sial, ini bisa menjadi malam terakhirmu. Ah, tunggu dulu bukankah hidupmu memang hanya terjadi selama satu malam, kemudian kau akan hilang dari dunia ini? Entahlah, kau pun belum pernah merasakannya, ini malam pertamamu menghadapi hidupmu yang sesungguhnya, tapi instingmu sebagai calon ibu telah memberimu kekuatan untuk tak gentar menghadapi semua kemungkinan terburuk yang akan menimpamu malam ini. Selain dua makhluk tadi yang sudah menjadi musuh bebuyutan kaummu selama ini, masih ada sengatan listrik dari benda berbentuk seperti raket yang dengan cepat bisa menghanguskan seluruh tubuhmu, atau asap putih yang mengepul dari benda hijau melingkar yang di ujungnya terdapat bara api, kau sungguh tak suka bau asap ini, bahkan kau bisa pingsan jika terlalu lama menghirup udara di sekitar asap tersebut. Tapi masih ada hal yang paling kautakuti, yaitu tangan-tangan besar yang dengan sigap akan segera membuat tubuhmu hancur berantakan saat mereka menangkap basah kau sedang menghisap sumber protein untuk calon anak-anakmu dari tubuh mereka. Tangan-tangan ini sangat jarang meleset, kau lebih sering melihat teman-temanmu mati dengan cara yang terakhir ini.

Kau kebingungan, teman-temanmu telah lebih dulu menjelajahi seisi ruangan ini mencari satu-satunya hal yang paling kalian butuhkan, satu-satunya hal yang membuat kalian bisa meneruskan kehidupan. Saat ini kau dan teman-temanmu di ruangan ini tengah mengandung calon penerus generasi kalian. Itulah sebabnya kau harus segera memenuhi kebutuhan yang akan membuat calon anak-anakmu nanti terlahir sehat. Tidak ada cara lain, tidak ada jalan yang lebih mudah.

Ah itu dia, yang kautunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Seorang anak perempuan masuk dan menyalakan televisi, kemudian ia duduk di depan televisi, begitu khidmat ia menonton acara kartun kesukaannya. Ini kesempatan terbaik untukmu, selain dia sedang sibuk menonton, tangannya juga tak akan sesigap orang dewasa jika ia hendak meremukkan tubuhmu.

Kau segera mengepakkan sayap-sayap kecilmu perlahan dan semakin kencang, kau terbang menuju tangan gadis kecil itu yang masih halus, kau yakin probosis-mu yang panjang dan tajam akan dengan mudah masuk hingga menembus ke pembuluh darah gadis ini. Biarkan saja nanti dia merasakan sedikit gatal-gatal akibat air liurmu yang akan tertinggal di jaringan kulitnya. Bagimu yang terpenting saat ini adalah protein yang cukup agar nanti saat waktunya sudah tiba, anak-anakmu akan lahir dengan sehat.

Kau semakin mendekat. Kau berharap dengungan dari kepakan sayap-sayap kecilmu tidak terdengar olehnya dan kau tidak mengalami kendala berarti selama kauhisap sumber protein dari tubuh gadis ini. Setetes saja, tidak kurang tidak lebih. Kau sudah hinggap tepat di kulit tanggannya yang sedang bertumpu di lantai. Perlahan-lahan kaujulurkan probosis-mu yang tajam, kau bersiap membedah lapisan-lapisan kulit gadis ini.

Tapi tiba-tiba kau merasa pusing, sebelum sempat ujung probosis-mu menyentuh kulitnya, kau sempoyongan, kau hampir hilang kesadaran, dan akhirnya kau terjatuh ke lantai. Uh! Bau ini, kau tak pernah suka bau ini. Dari tatapan matamu yang mulai sayu, di kejauhan kaulihat sebuah benda berwarna hijau dengan kabel putih yang terhubung ke aliran listrik. Ah ternyata itu dia senjata baru yang dipakai keluarga ini untuk membunuhmu tanpa sempat kausadari. Kau lihat teman-temanmu pun mulai berjatuhan dari atasmu, seperti hujan, hingga akhirnya kau tak mampu melihat apa-apa lagi. Maafkan calon ibu kalian, calon anak-anakku, kau bergumam sebelum kau benar-benar hilang ditelan kehidupan.

N.B.: probosis adalah bagian mulut dari nyamuk betina yang panjang, digunakan untuk menembus kulit dan menghisap darah.

Iklan

3 komentar

  1. kejam itu senjataa

    1. iya, ini lagi aku pake senjatanya :p

      1. kamu olesin di mata? :p

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: