Mimpi Sesungguhnya

Ia pergi dengan gayanya yang apa adanya. Jaket kanvasnya ia simpan di belakang motornya, tidak ia pakai, hanya ia simpan begitu saja. Tangannya memegang kunci motor yang siap membawanya pergi ke mana pun. Aku tak tahu kemana ia akan pergi malam ini, hanya ada dua kemungkinan, ia langsung pulang atau melakukan hobinya: balapan. Aku hanya berdiri di samping motor besarnya yang telah ia modifikasi sedemikian rupa. Aku perhatikan setiap gerak gerik kekasihku ini.

“Aku pulang dulu ya, Sayang,” ia berpamitan.

“Hati-hati, Sayang,” aku mengingatkannya. Meskipun terasa percuma karena ia akan selalu memacu kuda besi kesayangannya itu sekencang-kencangnya, tapi aku tak pernah lupa mengingatkan ia untuk tetap berhati-hati.

Kemudian ia memakai helm full-face yang selalu ia banggakan karena kecanggihan teknologi yang tertanam dalam pelindung kepala dengan harga jutaan rupiah itu. Tapi aku selalu mendoakan semoga saja kecanggihan helm ini tidak pernah diuji saat ia sedang memakainya.

Ia tekan tombol starter yang berada di sisi kanan setang motornya, seketika suara menggelegar terus menerus berkoar-koar dari knalpot motornya. Ia menoleh kepadaku, sepertinya ia tersenyum di balik kaca helmnya, aku hanya melihat garis-garis senyum di sekitar matanya karena hanya bagian itu yang bisa kulihat. Aku balas senyumnya. Kulambaikan tanganku saat ia mulai menarik kopling dan memasukkan persneling motornya, lalu ia pacu motornya dengan kencang. Beberapa detik saja ia sudah hilang dari pandanganku. Aku menghela napas cukup panjang. Akankah malam-malam Minggu selanjutnya aku harus selalu khawatir dengan caranya pulang? Entahlah. Setelah mengunci pagar, aku berbalik, kulangkahkan kakiku masuk ke rumah.

Malam ini adalah malam Minggu pertama ia datang ke rumahku, padahal sudah hampir tiga bulan kami menjalin hubungan khusus. Tapi ia selalu ragu untuk datang ke sini, sekadar untuk berkenalan dengan orangtuaku. Ya, memang aku tak mau bila hubungan kami harus terus ditutupi, karena kami bukan anak kecil lagi yang mesti malu dengan hubungan yang kami jalin, kami sudah dewasa dan sudah seharusnya mampu bertanggung jawab terhadap hubungan ini. Itulah alasan kedatangannya ke rumahku malam ini, mau tak mau ia harus bertemu dengan ayah dan ibuku, sebagai kekasihku.

Kukunci pintu depan rumah. Sebenarnya aku ingin segera ke kamarku untuk mencuci muka dan membersihkan make-up yang mempercantik wajahku malam ini. Tapi kulihat ibu memberikan isyarat tangan ke arahku, seperti memintaku untuk mendekat. Ayah dan ibu sedang duduk di ruang keluarga, televisi dibiarkan menyala tanpa ada yang menonton, mata mereka semuanya tertuju kepadaku.

“Kenapa, Bu?” Tanyaku sembari menghempaskan tubuh ke sofa berwarna hijau muda, tepat di tengah-tengah antara ayah dan ibu.

“Kamu beneran serius pacaran sama dia?” Ibu bertanya sedikit berbisik. Sementara ayah seperti tidak peduli, matanya sekarang tertuju pada layar televisi, tapi tatapannya kosong, entah apa yang sedang ayah pikirkan.

“Memangnya kenapa, Bu?” Aku balik bertanya. Aku tak tahu harus memberikan jawaban apa, memang benar aku mencintainya, aku sangat mencintainya, tapi pertanyaan ibu membuatku bingung.

“Sepertinya dia bukan anak baik-baik, Nak, itu yang Ibu lihat. Penampilannya saja seperti itu, tidak ada rapi-rapinya.” Jawab ibu.

Aku melihat ada kekhawatiran dari air muka ibu saat mengungkapkan pandangannya tentang Damar, kekasih yang kucintai. Aku sedikit mengerti tentang kekhawatiran ibu, apalagi saat suara knalpot sepeda motor Damar begitu menggelegar di malam yang hanya terdengar suara jangkrik seperti ini.

“Meski penampilannya seperti itu, dia baik, Bu. Damar benar-benar memperlakukan Alin seperti seorang perempuan yang sangat dicintainya.”

“Dia itu berandal, Nak!” Suara ayah membuat aku dan ibu kaget. “Ayah bisa lihat dari cara dia berpakaian, tidak rapi. Motornya juga seperti anak geng motor saja. Kamu tahu kan, kalau anak-anak geng motor di sini semuanya gak ada yang baik.” Ayah melanjutkan.

“Tapi Damar bukan anggota geng motor, Yah,” aku menyangkal, “Memang dia suka balapan, tapi tujuannya jelas, dia ingin menjadi pembalap professional,” kucoba menjelaskan tentang hobi Damar kepada ayah dan ibu.

“Apa yang bisa kamu harapkan dari seorang pembalap jalanan seperti dia?”

“Yah, dia itu ikut tes di tim-tim balap professional-”

“Ayah tidak setuju kamu pacaran dengan dia!” Kemudian ayah bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju kamar tidur.

Tanpa kusadari, air mataku sudah mengalir hingga ke leherku. Ibu mengusap punggungku, mencoba menenangkan perasaanku. Kudekap tubuh ibu yang hangat dengan erat. Tapi tangisku semakin menjadi-jadi.

“Sudah, Nak, jangan nangis, ayahmu itu ada benarnya, dia tidak mau kamu berhubungan dengan orang yang salah,” ibu berbisik kepadaku.

“Tapi, Bu,” suaraku berjeda isak, “Damar itu baik banget, ayah dan ibu baru satu kali ketemu dia,” aku kembali terisak, “Kalau ayah dan ibu udah kenal Damar, pasti kalian akan tahu bagaimana dia sebenarnya.”

“Sudahlah, Nak, turuti saja kemauan ayahmu, semua ini demi kebaikan kamu, Nak,”

Aku tak tahu lagi bagaimana harus menghadapi situasi ini. Memang ibu dan ayah pernah juga tidak menyetujui hubunganku dengan pacarku dahulu, tapi tidak secepat ini, baru pertama kali bertemu Damar, mereka langsung memutuskan tidak setuju. Aku benar-benar tenggelam dalam kesedihan malam ini. Aku tahu, bagaimanapun aku menjelaskan, ayah dan ibu tak akan goyah dengan keputusannya, dan akhirnya memang aku yang harus selalu mengikuti kehendak mereka.

Aku masih mendekap tubuh ibu, dan tangan ibu juga masih megusap punggungku. Perlahan isak tangisku mulai reda, air mataku juga tidak lagi deras, hanya menetes seadanya dari sudut mataku. Aku merasa lebih tenang sekarang.

“Ya udah, Bu. Kalau memang ini kehendak ayah dan ibu, Alin yakin ini yang terbaik buat Alin,” ucapku sambil perlahan melepaskan dekapanku. Kulihat ada senyum terkembang di wajah ibu, aku pun ikut tersenyum.

“Ya sudah, ayo istirahat, besok kamu ada les pagi, kan?”

“Iya, Bu,”

Aku pun beranjak dari sofa dan menuju kamarku. Kata-kata ayah dan ibu terus saja berkecamuk di benakku. Sambil membersihkan sisa-sisa make-up di depan cermin, aku terus memikirkan Damar, juga memikirkan kedua orangtuaku. Apakah aku harus menyerah begitu saja? Apakah aku tidak boleh memilih pasangan hidupku sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergema dan memantul di dinding hatiku. Tiba-tiba suara getaran telepon genggam yang berada di atas meja rias mengagetkanku, pesan singkat dari Damar.

Sayang, aku udah sampe rumah,
Kamu tidurnya jangan malem-malem ya,
Love you My Alin.

Terkembang senyum di bibirku saat melihat kalimat mesra dari Damar, namun senyum itu segera lenyap, aku kembali teringat ayah dan ibu. Kembali terngiang kalimat singkat ayah yang begitu tajam menikam hingga ke dasar hatiku. Seketika air mata memenuhi sudut-sudut mataku, tapi aku tak mau menangis lagi, segera kuseka sebelum sempat tertumpah.

Iya, Sayang, kamu juga jangan begadang ya,
Love you too.

Kubalas sekadarnya saja pesan singkat Damar, lalu kubersihkan lagi wajahku. Aku bersiap tidur.

Kucoba pejamkan mata, namun wajah Damar, dengan senyum manis yang menghiasinya, tiba-tiba melintas, aku kembali terjaga. Ah, bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini! Sekarang kucoba menepis semua bayangan Damar yang melintas sesukanya di dalam pikiranku. Aku tak mau kesiangan, besok aku ada les biola pagi-pagi. Akhirnya rasa kantuklah yang tak bisa lagi kulawan, aku tertidur.

***

Suara alarm dari jam beker yang sudah kuatur agar berbunyi tepat pukul enam pagi, berhasil membangunkanku. Aku bukanlah orang yang susah bangun pagi, terlebih karena les biolaku dimulai pukul delapan pagi hari ini. Kusambar handuk dan aku segera menuju kamar mandi.

Selesai mandi dan berdandan sekadarnya, kuambil biolaku yang terbungkus hardcase-nya dan aku segera keluar kamar, namun langkahku tertahan sebelum membuka pintu, telepon genggamku mengeluarkan suara pertanda ada pesan singkat yang masuk.

Selamat pagi My Alin,
Kamu jam berapa lesnya hari ini?
Mau aku antar?

Pesan singkat dari Damar. Sambil melangkah menuju ruang makan, kubalas pesan singkat Damar.

Pagi juga Sayang,
Aku les jam 8 hari ini,
Gak usah, Sayang, aku dianter ayah

Di meja makan sudah tersaji roti bakar buatan ibu. Aku langsung merasa lapar melihat sarapan kesukaanku itu. Tapi jus jeruk belum ada, masih dibuat ibu di dapur. Aku menahan rasa laparku sebentar karena memang setiap pagi kami harus selalu sarapan bersama. Tiba-tiba telepon genggamku kembali berbunyi, kali ini Damar menelepon.

“Halo Sayang,” kudengar suaranya di ujung telepon.

“Halo juga,” aku segera beranjak kembali ke kamar, aku takut ibu mendengarku.

“Kenapa kamu gak mau kuantar? Kan ayah dan ibu sudah tahu kita pacaran,”

“Gak apa-apa, Sayang, aku di antar ayah,”

“Tapi kenapa Sayang? Aku kan pacar kamu,”

“Nanti kita bahas lagi ya, aku mau sarapan dulu,” langsung kuputuskan sambungan telepon Damar karena kudengar suara ibu sudah memanggil dari ruang makan.

“Ayo Alin, sarapan!” Teriak ibu.

“Iya, Bu!”

Aku segera berlari kecil dari kamar ke ruang makan. Semua sarapan sudah lengkap, pun ayah dan ibu sudah duduk di tempatnya masing-masing. Segera kutarik kursiku, dan kulahap roti bakar keju kesukaanku.

Setelah semua makanan dan minuman di atas meja habis tanpa sisa, ayah membuka suara.

“Sudah kamu putuskan anak itu?” Suara berat ayah membuatku tersentak, jantungku rasanya berhenti berdetak sepersekian detik.

“Mmmm… belum, Yah. Tapi hari ini-”

“Makin cepat makin baik,” ayah memotong kata-kataku. Ayah beranjak dari kursi meja makan, “Ayo, berangkat,” ayah mengajakku.

Sesaat aku masih terdiam, namun sentuhan ibu menyadarkanku. Aku segera beranjak, tak lupa kucium tangan ibu sebelum aku menyusul ayah ke garasi. Mesin mobil sudah dari tadi dipanaskan ayah, AC mobil juga sudah dingin. Aku masuk ke dalam mobil. Kulihat ayah menuju pagar dan mendorongnya hingga terbuka semua. Namun ayah tidak langsung kembali ke mobil, ia berdiri menghadap ke arah kanan jalan, seperti ada yang ditunggunya. Kuperhatikan ayah dari mobil, aku bingung.

Tiba-tiba sebuah motor besar yang kukenal berhenti tepat di depan ayah. Damar! Sedang apa kamu di sini? Batinku. Tak seperti tadi malam, pagi ini ia memakai jaket kanvas coklat tua pemberianku. Ia membuka helmnya dan segera turun dari motor, kulihat ia ingin bersalaman dengan ayah, tapi sikap ayah sepertinya tidak bersahabat. Aku cepat-cepat turun dari mobil dan menuju ke depan pagar.

“Ngapain kamu kesini?” Tanya ayah kepada Damar dengan nada sedikit membentak.

“Sudah, Yah. Biar Alin aja yang selesaikan masalah Alin sendiri,” aku menarik tangan ayah.

“Maaf, Om, saya gak ngerti maksud Om,” wajah Damar tampak bingung, matanya melirik ke arahku. Kuberikan isyarat agar ia segera pergi dari sini.

“Ayo, Lin, nanti kamu telat,” ayah meninggalkan kami menuju ke mobil.

“Kan aku udah bilang aku diantar ayah, kamu ngapain ke sini!?” Aku memarahi Damar.

“Apa yang salah, Sayang? Aku cuma mau-”

“Gak usah! Kamu kok gak ngerti sih!”

“Tapi Sayang-” Damar masih mencoba bersabar dengan sikapku.

“Ayah gak suka sama hobi kamu!”

“Aku bisa jelasin sama ayah kamu-”

“Gak usah!” Aku segera berbalik dan menuju ke mobil, aku tak mau ayah semakin marah jika menungguku terlalu lama.

Aku masuk ke mobil, kupasang sabuk pengaman. Kulihat Damar masih terpaku, sepertinya ia masih merenungi kata-kataku barusan. Mobil segera melaju melewati Damar, lalu belok ke kiri.

Ada hening yang cukup lama, ayah diam, aku pun masih memikirkan Damar. Kemudian kutekan tombol play di radio mobil untuk melenyapkan kesunyian di antara kami. Suara penyiar radio terdengar begitu ceria, sungguh berbeda dengan perasaanku saat ini. Perasaan di hatiku benar-benar bercampur aduk, antara rasa bersalah karena telah memperlakukan Damar seperti itu, juga rasa kecewa karena Damar tidak mendengarkanku untuk tidak datang menjemput.

Laju mobil semakin kencang setelah masuk ke jalan yang lebih besar. Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara klakson dari sebelah kiri mobil, sontak aku menoleh dan aku sudah bisa menebak itu pasti Damar. Ah apa yang kamu lakukan, Damar! Ucapku kesal dalam hati. Bukannya berhenti, ayah malah menambah kecepatan mobil, sesekali ayah melirik ke kaca spion sebelah kiri mobil.

“Ayah, jangan gitu. Tolong berhenti sebentar, Yah,” aku merengek meminta ayah mengentikan laju mobil.

“Biarkan saja seperti itu, kamu lihat sendiri kan, dia itu anak gak bener. Ngapain kebut-kebutan? Cari mati?” dengan santai ayah menolak pintaku.

Suara klakson dari motor Damar semakin sering terdengar, namun ayah dengan sengaja menambah volume suara radio mobil hingga suara klakson yang sedari tadi terdengar kini seperti lenyap dilahap suara musik pop dari radio.

“Ayah!” aku terpaksa menaikkan nada suaraku, ayah sudah berlebihan. Tapi lagi-lagi ayah mengacuhkanku.

Kucoba membuka jendela mobil, namun dengan sigap ayah menguncinya dari tombol kendali yang terdapat di pintu mobil di sisi ayah.

“Ayah tolonglah,” aku kembali merengek sambil menarik lengan ayah, “Berhenti sebentar saja. Please.”

Aku kembali menoleh ke bagian kiri belakang mobil, namun Damar tidak ada lagi di sana, ayah telah memperkecil jarak mobil dengan sisi kiri jalan. Damar tepat berada di belakang kami sekarang. Aku benar-benar tak tega melihat Damar yang begitu kepayahan mengimbangi laju mobil ayah, aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran ayah. Apa susahnya berhenti sebentar saja? Biarkan Damar bicara sebentar lalu dia akan pulang, Yah! Aku menjerit di dalam hati.

Ayah masih saja dengan santai menginjak pedal gas dalam-dalam, benar-benar tak peduli ada Damar di belakang kami. Aku masih menghadap belakang, memperhatikan Damar. Aku mencoba memberikan isyarat-isyarat kepadanya agar berhenti mengikuti kami, percuma melakukan semua ini, ayah adalah pria paling keras kepala yang pernah kukenal.

Damar menambah laju sepeda motornya, sepertinya hendak mendahului kami, mungkin ia ingin menungguku di tempat les. Ia belokkan setang motornya ke kanan hingga ia melewati mobil kami. Tapi tiba-tiba ayah menginjak pedal rem dengan cepat, mobil berhenti mendadak, tubuhku terentak ke depan, namun sabuk pengaman menarikku kembali ke kursi mobil. Aku benar-benar kaget. Kulihat sebuah truk besar berwarna kuning pudar melintas dari arah kiri pertigaan jalan beberapa meter di depan kami, truk ini hendak berbelok ke jalur jalan sebelah kanan mobil kami dan sudah setengah bagiannya memakan badan jalan.

Damar? Aku segera menyapukan pandanganku ke arah motor Damar, ia hanya berselisih dua detik sebelum menabrak truk. Kututup telinga dengan kedua tanganku, kupejamkan mata dan aku menjerit sekuat yang aku bisa. Cukup lama aku menjerit. Aku tak berani membuka mata dan melepaskan tanganku dari telinga, aku terus saja menjerit, mataku meneteskan air mata. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan Damar, tapi aku terus berdoa agar ia mampu menghindari truk tersebut.

Kurasakan ada gerakan dari sisi kananku, sepertinya ayah turun dari mobil. Aku berhenti menjerit, kulepaskan tanganku dan perlahan kubuka mataku. Kulihat truk itu masih pada posisinya saat terakhir kulihat, mungkin sopirnya menginjak rem saat melihat Damar melaju ke arahnya. Motor Damar sudah hancur, bagian depannya tak berbentuk lagi, tergeletak begitu saja di samping kepala truk, namun roda belakang motor itu masih berputar perlahan. Sudah banyak kerumunan orang di samping truk, termasuk ayah. Tapi aku tak bisa melihat Damar, terlalu ramai orang yang menutupi penglihatanku. Mataku masih mengalirkan air mata, aku terpaku, tak mampu bergerak, sekarang aku hanya berharap ia selamat.

Ayah buru-buru menuju ke arah mobil kami, ia membuka pintu belakang. Lalu beberapa orang mengangkat tubuh Damar. Tangisku kembali terisak melihat tubuhnya yang penuh luka. Beberapa orang tadi memasukkan Damar ke kursi belakang mobil, salah seorang ikut masuk dan menutup pintu mobil. Setelah motor Damar disingkirkan ke pinggir jalan, dan truk juga ditepikan ke sisi jalan, mobil kami melaju dengan cepat. Aku tahu tak jauh dari sini ada rumah sakit, sekitar tiga kilometer lagi.

Selama perjalanan aku tak berani melihat Damar, aku selalu menatap ke depan sambil terus menangis tanpa henti. Namun saat mobil mulai berbelok melalui gerbang rumah sakit, aku beranikan diri menoleh ke belakang, kulihat Damar terpejam, ia seperti kesakitan, bagian tangan jaket kanvasnya robek-robek, cairan merah kental bercampur dengan warna coklat jaketnya. Kakinya lebih parah lagi, seluruh celana bagian kirinya basah bersimbah darah. Aku menjerit dalam hati, aku tak tega melihat Damar seperti ini. Air mataku semakin deras, kurasakan mataku semakin lebam, terlalu banyak air mata yang telah aku tumpahkan pagi ini.

Mobil berhenti di depan gedung Unit Gawat Darurat, aku turun ikut mengantar Damar, sedangkan ayah memarkirkan mobil di samping gedung. Damar dibawa masuk ke ruangan bertuliskan “ICU”, aku duduk di ruang tunggu bersama seseorang yang tadi ikut bersama kami.

“Pak, gimana tadi kejadiannya? Bapak lihat gak?” Tanyaku penasaran, isak tangisku masih bersisa.

“Jelas saya lihat, Neng, saya kan sopir truk itu. Dia tadi ngebut banget motong mobil Neng, tapi sebelum nabrak, dia lompat dulu, tapi kayaknya dia telat deh lompatnya, Neng.”

Aku terdiam, tak sanggup membayangkan apa yang dialami Damar. Sesekali terdengar jeritan dari dalam ruang ICU. Aku kembali menangis. Kasihan Damar.

Ayah masuk dan langsung duduk disampingku. “Kamu jangan nangis, Nak.” Ayah memintaku berhenti menangis, padahal ayah yang menyebabkan semua ini terjadi.

“Ini semua gara-gara Ayah,” aku berbisik lirih.

“Kenapa kamu malah nyalahin Ayah? Siapa yang suruh dia kebut-kebutan di jalan?”

“Tapi kalau Ayah mau berhenti-”

“Sudah sudah, percuma saling nyalahin, semuanya sudah terjadi juga,”

“Ayah lihat kan motornya hancur, badannya luka semua!?”

“Ya udah, Ayah yang tanggung jawab,” ayah mengakhiri perdebatan kami dengan dingin.

Kembali terjadi hening di antara kami, hanya jeritan-jeritan Damar yang terdengar, semakin menambah pilu hatiku. Aku ingin ada di sampingnya di saat-saat ia seperti ini. Tapi pintu ruangan itu tertutup, aku hanya bisa menunggu dengan setiap tetes air mata yang tak bisa kutahan. Kemudian seorang perawat pria membuka pintu, ia seperti mencari seseorang.

“Mbak Alin?” Perawat itu menunjuk ke arahku.

“Iya, Mas,” aku segera berdiri dan mendekat. Ia mempersilakanku masuk ke ruang ICU, sepertinya Damar yang memintanya memanggilku.

Aku melangkah masuk, bau khas obat-obatan menguar pada langkah pertamaku. Kuperhatikan ruangan ini, ada beberapa pasien lain yang sedang ditangani perawat, ada yang sedang dijahit perutnya, ada yang sedang diberikan alat bantu pernapasan, ada juga yang sedang diberi alat kejut jantung. Aku tak kuasa melihat keadaan di sini, semua orang sedang tersiksa, pun Damar yang terbaring di atas ranjang di sudut ruangan. Aku mendekat, ia tersenyum kepadaku seperti tak ada rasa sakit yang sedang ia rasakan. Kulihat jaket kanvasnya tergeletak di atas meja di samping ranjangnya, juga baju dan celananya, tubuhnya  hanya tertutup selimut putih, tangan kirinya terbalut kain kasa tebal dan terdapat warna jingga kemerahan di tengahnya. Aku berdiri di sampingnya.

“Sayang, maaf ya aku bikin kamu khawatir,” katanya sambil tersenyum manis.

“Kamu jahat,” ucapku sambil kembali meneteskan air mata, “Kenapa kamu lakukan ini?” Tanyaku.

“Maaf Sayang, aku tadi cuma mau jelasin sesuatu sama kamu. Sebentar aja sih, tapi ayah kamu gak mau berhenti,” senyumnya memudar, “Makanya kupikir lebih baik nunggu kamu di tempat les aja deh, tapi belum sempat sampai di sana, udah kejadian begini, hehe,” ia tertawa kecil.

“Memangnya kamu mau jelasin apa? Penting banget ya, sampe harus ada kejadian ini?”

“Penting banget sih sebenarnya,”

“Apa?”

“Hmmm…” ia melihat ke arah tumpukan pakaiannya, “Coba ambil jaket itu,” ia menunjuk jaket kanvas yang telah robek-robek di atas meja dengan tangan kanannya. Kuraih jaket tersebut.

“Terus?”

“Di kantongnya ada kertas, coba kamu ambil deh,”

Kuambil kertas yang terlipat rapi dari dalam kantong jaketnya, kubuka lipatannya dan kubaca tulisan di kertas itu perlahan-lahan. “Kamu diterima masuk tim professional!?” Aku bertanya setengah kaget.

“Iya,” senyumnya semakin lebar.

Tangisku segera berhenti, ada rasa lain yang memenuhi hatiku, rasa bahagia yang menyeruak saat aku membaca kata demi kata dari kertas yang kupegang ini. Sudah banyak pikiran-pikiran yang melintas di benakku, salah satunya adalah aku bisa membuktikan ucapanku kepada ayah tadi malam. Damar berhasil masuk tim profesional, Yah, kataku dalam hati.

“Akhirnya apa yang kamu impikan terwujud,” ucapku dengan nada ceria, “Kamu harus cepat sembuh, Sayang,” aku memberinya semangat. Ia tersenyum.

“Aku tidak bisa mengambil kesempatan itu, Sayang,” ia masih tersenyum.

“Maksud kamu?” Aku bingung mendengar kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Saat mimpi yang selama ini ia kejar telah datang ke hadapannya, kenapa ia tak mengambil kesempatan itu?

“Tulang kaki kiriku patah. Kata dokter butuh waktu enam bulan untuk penyembuhannya,” kemudian ia membuka selimut yang menutupi kaki kirinya, “Deadline kontraknya bulan depan, jadi sudah gak mungkin lagi,” ia tetap tersenyum.

Mataku tak lepas dari kaki kirinya, seperti ada dua buah kayu yang mengapit tulang keringnya lalu dibalut kain kasa tebal, lebih tebal daripada kain kasa di tangannya. Aku menutup mulutku menahan teriakan pilu. Seketika rasa bahagia yang baru saja memenuhi hatiku, sirna tersapu sebuah kepedihan lain.

“Tapi dengan keadaanku seperti ini, semoga ayah kamu bisa merestui hubungan kita ya,” katanya sambil kembali menutupi kakinya dengan selimut.

Aku masih belum bisa berkata-kata, aku masih membayangkan sebuah mimpi yang sudah sedemikian dekat untuk ia dekap, kemudian dirampas oleh keadaannya saat ini. Dan aku ikut andil dalam kejadian yang membuat ia harus melepaskan mimpinya terbang jauh, dan entah akan datang lagi atau pergi selamanya.

“Maafkan aku… ini semua salahku,” untuk kesekian kalinya air mataku menetes tanpa bisa kutahan.

“Gak kok, Sayang, ini bukan salah kamu. Ini bukan salah siapa-siapa,” kemudian ia menggenggam tanganku.

“Tapi mimpi kamu…”

“Ini sudah menjadi takdir yang digariskan Tuhan untuk kita, Sayang. Aku mencintaimu lebih dari mimpi-mimpiku, kok. Kamulah mimpiku yang sesungguhnya,” sebuah senyum penuh bahagia mengembang dari bibirnya.

Sorot matanya sangat dalam, genggaman tangannya begitu hangat, menyusupkan jutaan kasih sayang hingga memenuhi seluruh aliran nadiku. Apakah pembuktian sebuah cinta harus seperti ini? Aku terdiam.

Iklan

14 komentar

  1. sungguh luar biasa kekuatan cinta itu. aku pernah ngalamin hal serupa, dimana aku harus tinggalkan mimpi besarku demi org yg aku suka, but i knew thats not good. kalau masih pacaran sih lebih baik gapai mimpi setinggi2nya dulu.

    1. setuju 1000% uni 😀
      kapan2 kolab yuk uni 😀

      1. ihir.. dari tadi putra nyebut nama uni mulu 😛

        1. ini apaaa -________-

          1. kamu siapaa?

            1. aku siapa? *mikir*

      2. A. Abdul Muiz · · Balas

        Ada hubungan apa antara Mas Putra sama Mbak Uni? *datang dengan gosip*

        1. ini juga apaaaaaan aam -_____-

  2. . tercekat napas ku putra.

    1. ga usah napas aja mbak biar ga tercekat :p

      1. oh gitu.. okee fain 😐

        1. okeeeh mbak okeeeh 😐

  3. Bagus mas put. Tapi cinta itu harusnya tidak memberi pilihan 🙂

    1. Makasih mbak mopi.
      Kadang pilihannya muncul tanpa diminta, jadi ikuti saja :p

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: