Mencipta Karakter

Dalam menulis fiksi, selain setting dan konflik, elemen yang paling penting adalah karakter, yaitu tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita, baik tokoh utama maupun tokoh pendamping. Karakter sangat memengaruhi isi cerita, dengan karakter yang kuat, sebuah cerita fiksi akan sangat berkesan di hati pembaca, sedangkan dengan karakter yang biasa-biasa saja, cerita fiksi tersebut akan mudah dilupakan oleh pembacanya. Kuat yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang menonjol dan menjadi fokus dari cerita, karena karakter memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan jalan cerita. Selain karakter yang kuat, tokoh dalam cerita juga harus nyata, yaitu mudah diimajinasikan atau dibayangkan wujudnya oleh pembaca.

Dalam menciptakan karakter yang kuat dan nyata, ada beberapa peraturan tidak tertulis yang harus diperhatikan, yaitu:

1.      Konsistensi

Konsistensi dalam hal ini adalah kesesuaian antara latar belakang karakter, atau hal-hal lain yang melekat pada karakter dengan jalan cerita atau peristiwa-peristiwa di dalam cerita yang dialami oleh karakter tersebut. Misalnya pada novel Laskar Pelangi bab pertama, seorang anak yang baru masuk sekolah dasar bagaimana mungkin sudah mampu mengenali nama ilmiah atau nama latin dari sebuah pohon yang ada di sekolahnya. Juga saat anak-anak laskar pelangi menampilkan tarian dari kebudayaan Afrika, sedangkan setting lokasi pada novel ini adalah sebuah daerah terpencil yang tidak memungkinkan informasi-informasi mengenai kebudayaan luar negeri yang begitu detail bisa masuk dengan leluasa.  Ketidaksesuaian seperti ini harus dihindari dalam menciptakan karakter yang kuat, karena pembaca akan menjadi bingung dengan jalan cerita yang tidak masuk akal atau tidak logis.

2.       True to life

Agar sebuah karakter mudah diimajinasikan atau dibayangkan oleh pembaca, ia harus memiliki keadaan fisik, sifat-sifat serta pola pikir yang jelas ada di dunia nyata. Penulis harus menjelaskan secara detail, bukan hanya hal-hal yang mencakup keadaan fisiknya, namun juga keadaan lingkungan, sifat-sifat, serta pola pikir karakter yang mudah ditemukan oleh pembaca di dunia nyata. Namun porsi penggambaran detail tokoh haruslah pas, tidak berlebihan tapi juga tidak terlalu sedikit. Oleh karena itu, hindari penggambaran katakter yang mengawang-awang. Tapi konsep karakter yang true to life ini tidak berlaku untuk beberapa genre tulisan, seperti tulisan fantasi.

Untuk menciptakan karakter yang kuat dengan konsep konsistensi dan true to life di atas, penulis bisa memulai dengan membuat biodata dari karakter yang akan diciptakan. Mulailah dengan menuliskan beberapa pertanyaan, seperti “siapa namanya?”, “apa pekerjaannya?”, “bagaimana lingkungan tempat tinggalnya?”, “apa mimpi terbesarnya?”, “apa hobinya?” atau bisa juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjelaskan keadaan fisik karakter yang akan dibuat, misalnya “bagaimana jenis rambutnya?”, “bagaimana bentuk tubuhnya?”, “bagaimana wajahnya?” dan sebagainya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan detail, gunakan contoh-contoh terdekat misalnya dengan melihat beberapa orang yang ada di sekitar penulis, kemudian menggabungkannya dengan porsi yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, penulis ingin menciptakan sebuah tokoh baru dengan menggabungkan karakter dari 4 orang sahabatnya. Kondisi fisik diambil dari sahabat pertama, kebiasaan baik dari sahabat kedua, kebiasaan buruk dari sahabat ketiga dan cita-cita dari sahabat keempat. Maka akan tercipta sebuah karakter baru yang true to life. Sedangkan konsistensi karakter baru ini harus tetap dijaga sepanjang cerita.

Sebagai tambahan, penjelasan mengenai detail-detail yang menggambarkan karakter jangan dibuat dalam satu paragraf. Buatlah penggambarannya dengan penempatan bervariasi, jadi penulis bisa menggambarkan tokohnya sepanjang cerita. Hal ini akan membuat pembaca setia membaca hingga akhir cerita.

Terakhir, hindari faktor “kebetulan” yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Kalaupun terpaksa harus memunculkan sebuah kebetulan yang dialami oleh tokoh tersebut, buatlah kebetulan itu dengan penjelasan yang logis. Misalkan pada novel Negeri 5 Menara, tokoh Alif yang mendapatkan banyak beasiswa, pandai menulis dan menjadi wartawan, bagaimana mungkin jika seorang anak yang tidak pernah membaca atau menulis, beberapa tahun kemudian menjadi wartawan dan pintar menulis. Maka berikanlah penjelasan logis mengenai bagaimana seorang tokoh bisa mencapai semua hal yang akhirnya ia dapatkan, agar pembaca tidak dibuat bingung dengan berbagai kebetulan yang akhirnya menjadikan karakter tersebut tidak true to life.

Demikianlah pembahasan tentang menciptakan sebuah karakter yang kuat dan nyata, yang saya dapatkan dari Kelas Menulis Poetica bersama Mas Teguh Puja dan teman-teman Partikel Poetica lainnya.

Salam hangat…

Iklan

One comment

  1. pencinta komik · · Balas

    saya sudah mencipta karakter.8 karakter saya sudah cipta.saya cuba buat komik.agaknya jadi tak

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: