Bukan di Sini

Aku terbaring di atas rumput hijau yang tebal dan lembut, nyaman sekali berbaring di sini, aku seperti sedang berbaring di atas kasur yang paling empuk di dunia. Tapi rasa lelah mendera seluruh tubuhku, badanku pegal-pegal, seluruh persendianku terasa linu, keringat mengucur deras dari semua pori-pori tubuhku, tak sedikitpun ada bagian yang kering dari pakaianku. Napasku tersengal-sengal. Rasanya aku tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Aku hanya ingin berbaring di sini, mengumpulkan lagi sisa-sisa tenagaku.

Sepertinya rasa lelahku sudah mulai berkurang, perlahan-lahan aku mengangkat tubuhku, lalu aku duduk. Kuperhatikan keadaan sekitarku, semua rekan-rekanku masih saja terbaring lemas di atas rumput yang hijaunya begitu terang memantulkan cahaya matahari menjelang siang, namun pohon-pohon rindang di sekeliling wilayah ini membantu mengurangi intensitas cahaya yang masuk. Dari arah depanku masih ada rekan-rekanku yang baru sampai di tempat ini, mereka berjalan lunglai seperti ada yang menyeret tubuh mereka di atas tanah, kemudian satu per satu melemparkan senjata jenis AK-47 yang mereka bawa ke atas rumput lalu mereka menghempaskan tubuh mereka secara hampir bersamaan.

Aku mengambil botol air minum yang kukaitkan di pinggangku, lalu aku minum sedikit saja. Aku tahu ini tak menghilangkan dahagaku, tapi aku harus menghemat air minum ini karena pelatihan kami masih belum usai, nanti saat lewat tengah hari baru kami akan diberikan istirahat yang sesungguhnya sekaligus makan siang. Begitulah kegiatan kami di sini setiap harinya.

Sudah hampir tiga bulan kami semua menjalani pelatihan ini, pelatihan militer di tengah hutan yang aku tak tahu di mana lokasinya. Sebelum mengikuti pelatihan ini aku hanyalah seorang santri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Kami semua direkrut dari pesantren-pesantren yang berbeda, tapi kami punya satu kesamaan, kami ingin berjihad, memerangi zionis-zionis yang membantai saudara-saudara kami di Palestina, aku tak tahan melihat mereka semua disiksa di tanah mereka sendiri. Dan saat tawaran untuk berjihad itu datang kepadaku, aku tak ingin membuang-buang kesempatan berharga ini, inilah satu-satunya cara berjihad yang benar, berjihad di tanah yang sedang terjadi penindasan terhadap saudara-saudaraku, seperti yang kupelajari di pesantren selama bertahun-tahun.

Ah, aku belum sepenuhnya menikmati istirahatku, tapi pelatih kami sudah datang, dia memakai sorban putih dengan senjata yang sama dengan kami, tapi senjatanya lengkap dengan peluru-peluru tajam, sedangkan senjata kami tanpa peluru, hanya untuk membiasakan diri kami sebelum turun ke medan perang yang sesungguhnya. Di belakangnya ada asisten pelatih kami, dia sebenarnya tidak melakukan apa-apa, hanya mendokumentasikan kegiatan latihan kami dengan handy camera yang selalu dibawanya.

Pelatih kami bukan orang Indonesia, bahkan dia tidak bisa berbahasa Indonesia, dia menggunakan bahasa yang kami tidak mengerti, mungkin bahasa Arab, tapi aku tidak pernah mendengar bahasa Arab seperti itu. Dia memelihara janggutnya hingga hampir menyentuh dadanya. Dia berbincang sebentar dengan asisten pelatihnya, kemudian mulai memerintah kami seperti biasa dengan perintah-perintah yang telah kami pelajari sebelumnya. Kami semua berdiri dan membentuk barisan, hanya terdiri dari dua barisan karena memang jumlah kami hanya enam orang. Sebenarnya persendianku masih linu, tapi kami harus menahan semua kesakitan kami, selain ini adalah hari terakhir pelatihan kami, ini juga demi perjuangan kami yang sesungguhnya nanti di tanah para rasul: Palestina.

Seperti biasa, saat pelatih ingin berbicara kepada kami, asisten pelatihlah yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia agar kami bisa mengerti.

“Ini adalah pelatihan hari terakhir,” ucap asisten pelatih menerjemahkan ucapan pelatih, “Sudah saatnya kalian berjihad,” lanjutnya.

Aku mendengarkan hingga dia selesai memberikan pidatonya, tapi aku tak sepenuhnya memahami maksud ucapan mereka, mungkin aku masih terlalu lelah, atau karena suara bising dari serangga-serangga yang bertengger di pohon-pohon di sini yang mengalihkan pendengaranku. Tapi aku cukup lega karena kami tidak harus menunggu hingga lewat tengah hari, pelatihan hari diselesaikan saat ini juga karena pelatih kami ada urusan yang mengharuskan dia pergi ke luar Indonesia. Mungkin dia akan menyiapkan keberangkatan kami ke Palestina, pikirku. Aku sudah tidak sabar ingin menembak mati semua tentara-tentara zionis itu, ingin kulubangi kepala-kepala mereka. Kebencianku terhadap mereka sudah meluap-luap hingga memenuhi rongga dadaku.

*****

Fajar ini, setelah sholat subuh berjamaah, kami mengemasi barang-barang kami dan membereskan tenda-tenda yang selama tiga bulan ini menjadi tempat tinggal kami di tengah hutan ini. Karena sebelum matahari terbit kami sudah harus pindah ke rumah yang telah disewa oleh pelatih untuk kami tinggali sebelum keberangkatan kami ke Palestina. Ah, semangatku semakin bergelora saja.

Kudengar suara deru mobil dari kejauhan, sepertinya itu mobil yang akan mengangkut kami. Benar saja, beberapa detik kemudian sebuah mobil box berhenti di hadapan kami, asisten pelatih segera memerintahkan kami untuk menaikkan barang-barang bawaan kami ke dalam box, kami pun ikut masuk ke dalam box mobil yang telah disiapkan dua buah kursi panjang di dalamnya. Setelah pintu box ditutup, semuanya menjadi gelap. Mobil mulai berjalan, kami terguncang-guncang di dalam box. Karena keadaan yang gelap, aku mencoba tidur selama perjalanan, mengistirahatkan tubuhku yang sudah tiga bulan ini tersiksa dengan kerasnya pelatihan militer.

Panas sekali di sini, ucapku lirih. Aku terbangun dari tidurku, keringatku mengucur deras, rambutku terasa gatal. Entah sudah berapa lama perjalanan kami, yang aku rasakan hanyalah mobil yang melaju kencang. Kali ini tak ada lagi guncangan, sepertinya mobil ini sedang berada di jalanan kota. Namun beberapa menit kemudian terasa mobil belok ke kiri lalu kembali ada guncangan-guncangan kecil. Sekitar lima belas menit setelahnya, mobil berhenti. Aku mendengar bunyi berderit, seperti dua buah besi yang sudah berkarat saling bergesekan, pintu box terbuka. Seketika cahaya yang begitu silau membutakan mata kami, kami semua mencoba menghalangi cahaya itu dengan tangan kami masing-masing. Aku tak bisa melihat apa-apa yang ada di belakang mobil, semuanya terlihat putih menyilaukan. Namun perlahan-lahan mataku mulai terbiasa dengan cahaya, asisten pelatih naik ke dalam box lalu mengambil beberapa barang dan menyuruh kami membantunya memindahkan barang-barang dari dalam box.

Aku turun dari mobil sambil menyeret tas carrier besar, kupalingkan pandanganku ke sekeliling daerah ini, hanya ada sebuah rumah sederhana, di sebelah kanan rumah ada lahan yang cukup luas dan terlihat daun-daun singkong begitu rimbun di atasnya. Jalan di depan rumah pun hanya berupa tanah merah yang diratakan. Entah di mana sekarang aku berada.

“Ayo cepat masukkan ke dalam rumah!” Suara asisten pelatih mengejutkanku, aku segera membawa tas carrier besar ini ke dalam rumah, kemudian aku kembali lagi ke mobil dan membawa beberapa barang lainnya.

Rumah ini sepertinya baru setengah jadi, dindingnya belum dibalut semen, masih berupa tumpukan bata-bata berwarna merah pudar, lantainya belum berubin, bagian langit-langit rumah pun tanpa pelindung, aku bisa melihat tumpukan genting-genting berwarna gelap yang menjadi atap rumah. Tapi rumah ini tidak kelihatan kosong, ada beberapa barang yang memang sudah ada di sini sebelum kami datang, juga ada beberapa sandal jepit. Kemudian tiga orang keluar dari dalam kamar-kamar yang hanya ditutupi tirai berwarna hijau sebagai pintunya. Kami bersalaman sambil memperkenalkan diri. Lalu kami dibawa ke sebuah kamar yang cukup luas, dengan tiga buah ranjang bertingkat dua.

Setelah membereskan barang-barang kami di dalam kamar, kami semua berkumpul di ruang tengah. Tidak ada kursi di sini, kami duduk di atas tikar berbincang-bincang tentang agama dan tentang berita-berita terbaru dari tanah Palestina.

*****

Jam dinding kamar menunjukkan pukul 2.30 dini hari, aku bangun ingin melaksanakan sholat malam. Setelah mengambil wudhu, aku menuju kamar yang ada di depan di sebelah ruang tamu untuk meminjam sajadah. Kusibakkan tirai hijau yang menutupi kamar, kamar ini remang, lampunya redup. Tiga orang tadi sedang tertidur pulas di lantai, di kamar ini tidak terdapat ranjang. Kuperhatikan sekeliling kamar untuk mencari sajadah, tapi mataku terhenti pada pipa-pipa paralon berukuran sedang di sudut ruangan, di sampingnya terdapat beberapa alat-alat kimia seperti yang pernah kulihat di laboratorium di pesantren, ada beberapa gulungan kabel, ada juga beberapa kardus yang tersebar di sekeliling kamar. Untuk apa alat-alat ini? Tanyaku dalam hati.

“Sedang apa kamu di sini!?” Aku terkejut mendengar suara dari arah belakangku, suara yang kukenal, suara asisten pelatih. Aku menoleh, kulihat sorot mata asisten pelatih begitu tajam.

“A-aku mencari sajadah,” jawabku.

“Apa yang kamu lihat!?” Ia kembali bertanya dengan nada membentak, seperti hendak menelanku.

Kulihat rekan-rekanku terbangun, mereka keluar dari kamar, wajah mereka seperti bingung, sama sepertiku, aku juga bingung apa yang membuat asisten pelatih begitu marah. Di belakangku juga kudengar ketiga orang tadi terbangun dari tidurnya. Mereka mendekatiku.

“Ada apa ini?” salah seorang dari mereka bertanya.

“Aku hanya ingin meminjam sajadah, aku mau sholat malam,” jawabku.

Tanpa basa-basi asisten pelatih segera mendaratkan tinjunya ke wajahku, aku terjatuh, namun aku segera bangkit dan aku mencoba mendorong asisten pelatih, namun dia menghindariku, aku kembali terjatuh, kali ini aku terjatuh di dekat rekan-rekanku.

“Ada apa?” Tanya rekan-rekanku. Aku segera berdiri.

“Aku juga tak tahu,” jawabku.

Asisten pelatih masuk ke kamar dan kembali dengan sebuah senjata api semi otomatis dan mengarahkannya kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku, rekan-rekanku pun tak mau ambil risiko, mereka ikut mengangkat kedua tangan mereka. Aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi di dini hari ini. Apa yang salah dengan isi kamar itu? Pertanyaan itu terus berputar-putar di otakku.

Dia mendekat, mulut pistol yang dipegangnya masih mengarah ke kepalaku. Degup jantungku semakin kencang pada setiap langkah yang diambilnya. Dia berhenti dua meter di depanku.

“Apa yang kamu lihat!?” Dia kembali menanyakan pertanyaan yang sudah kujawab.

“Aku hanya ingin meminjam-”

“Jangan bohong! Kamu pasti mata-mata dari Densus 88, kan!?” Dia kembali membentakku. Aku bingung dengan pertanyaannya kali ini.

“Aku tidak mengerti-”

“Diam! Aku tahu, Densus 88 telah mengintai kami, dan kamu adalah mata-matanya!” Dia melangkah satu kali lagi, ujung pistolnya hanya berjarak satu jengkal dari keningku. Degup jantungku semakin kencang, napasku semakin memburu, pundakku naik turun mengikuti irama napasku.

“Bukan-”

“Jangan berkelit! Kamu tertangkap basah sedang memeriksa barang-barang kami!” Ia terus menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kumengerti dan tak pernah sempat kujawab.

Tapi tiba-tiba listrik padam, keadaan gelap total. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, segera kulayangkan tendangan sekuat tenaga ke arah perut asisten pelatih, terdengar suara berdebum di lantai, sepertinya aku berhasil menjatuhkannya.

DOR! DOR! DOR!

Dalam gelap dia mencoba menembakku, tapi aku telah lebih dulu menyingkir dari ruang tengah, aku menyusuri tembok menuju ruang tamu, aku ingin keluar dari rumah ini, aku lebih memilih kedinginan di tengah hutan daripada harus merelakan kepalaku dilubangi oleh peluru tajam.

DOR! DOR! DOR!

Terdengar lagi suara tembakan dan terlihat kilatan-kilatan dari ledakan di mulut pistol. Aku sudah di ruang tamu sekarang, kususuri lagi dinding menuju pintu depan.

DUAR!

Sebelum sempat aku mencapai pintu, terdengar suara ledakan dari depan pintu, aku terpental ke belakang hingga tubuhku menabrak tembok. Telingaku berdenging, suara ledakan tadi terlalu memekakkan. Kurasakan angin dingin menyerbu tubuhku. Daun pintu ambruk, debu-debu beterbangan, aku terbatuk-batuk karena tanpa sengaja menghisap debu-debu dari ledakan tadi. Kudengar seperti suara kaleng menggelinding mendekatiku, kemudian terdengar suara ledakan lebih kecil seiring bau asap yang mulai merebak.

Tiba-tiba banyak cahaya senter menyerbu tubuhku, kulihat beberapa orang berseragam hitam dengan senjata laras panjang masuk dari pintu depan. Aku mengangkat tangan. Salah seorang dari mereka menodongkan senjatanya ke arahku, sedangkan satu orang lagi meraih tubuhku dan memborgol tanganku. Aku pasrah. Dalam ketidaktahuan aku berharap mereka bukan orang-orang jahat. Mereka membawaku ke luar rumah. Sayup sayup kudengar suara tembakan dari dalam rumah. Tapi tak lagi kuhiraukan, aku merasa lega karena telah lepas dari keadaan nyaris mati.

Sekitar satu jam kemudian, baku tembak tak lagi terdengar, lalu empat orang rekanku keluar dari dalam rumah, tiga di antara mereka juga diborgol sepertiku, sedangkan satu rekanku lagi berjalan di belakang mereka tanpa di borgol, bahkan dia mengenakan sebuah rompi berwarna hitam, sepertinya rompi anti peluru. Di belakangnya beberapa orang berseragam membawa empat buah kantong jenazah berwarna jingga, diikuti asisten pelatih kami yang berjalan dengan terseok-seok, kakinya berlumuran darah, tangannya bertumpu pada bahu salah seorang yang berseragam. Ketiga rekanku masuk ke mobil yang sama denganku, sedangkan rekanku yang mengenakan rompi anti peluru duduk di kursi depan, dia menoleh ke arah kami.

“Kalian tidak ada yang terluka, kan?” Dia bertanya sambil memperhatikan keadaan kami satu per satu.

“Kami baik-baik saja,” kami menjawab hampir serentak.

“Sayang sekali rekan kalian ada yang terkena tembakan asisten pelatih sebelum anggota Densus 88 masuk tadi,” dia meneruskan.

Inalillahi. Jadi kamu mata-mata yang dimaksud asisten pelatih tadi?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.

“Ya. Kami memang sudah lama mengintai kegiatan mereka. Mereka adalah jaringan teroris internasional, mereka sedang mempersiapkan kalian untuk aksi bom bunuh diri di hotel bintang lima di Jakarta, yang kamu lihat di kamar mereka tadi adalah alat-alat untuk merakit bom,”

Astaghfirullah,” kami mengucap istighfar hampir berbarengan.

“Kalian tenang saja, nanti di markas kami, kalian hanya akan dimintai keterangan,”

Aku benar-benar tidak menyangka apa yang telah kualami, yang kutahu aku akan berjihad ke Palestina, tempat yang tepat untuk berperang, bukan di tanah air sendiri, bukan membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Beruntung kami belum sempat melakukan aksi yang bukan jihad sebenarnya itu.

Mobil mulai berjalan, aku tanpa henti mengucap syukur di dalam hati.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: