Akhir yang Terlahir

Hari ini lagi-lagi dia membatalkan janjinya. Dan aku tak bisa apa-apa, selain menerima saja pembatalan janjinya itu. Bagaimanapun, dia lebih dulu menggeluti hobinya naik gunung bersama teman-teman Mapala-nya sebelum menikah denganku. Walaupun kini dia sudah tidak kuliah lagi, tapi hampir setiap minggu dia pergi ke sekretariat Mapala di tempatnya kuliah dahulu. Ya, dia memang punya posisi penting di sana, terlebih bila sedang ada open recruitment untuk mahasiswa baru yang ingin bergabung. Bisa-bisa sampai satu minggu dia tidak pulang ke rumah. Lagi-lagi aku hanya bisa memaklumi hobinya itu.

Hari ini seharusnya kami merayakan hari ulang tahunku, semua rencana yang sudah kami susun begitu baiknya, tiba-tiba ia dibatalkan. Memang ini bukan kali pertama ia membatalkan janjinya karena urusan pendakian gunung. Tapi hari ini adalah hari ulang tahunku yang pertama selama pernikahan kami, kami menikah sebelas bulan yang lalu dan aku sedang mengandung benih cinta kami. Memang belum terlalu besar, tapi kehamilanku ini sudah berumur 5 bulan, seharusnya suamiku selalu ada di sampingku. Tapi sekali lagi, aku harus memaklumi.

Memang sejak pertama aku sudah mengetahui konsekuensi menikah dengannya. Bukan tidak pernah hatiku menciut karena merasa dinomorduakan. Tapi rasa cintaku untuknya terlalu melimpah ruah, rasa kecewaku selalu luluh hanya dengan melihat kehadirannya di hadapanku dengan senyum sumringah. Senyum sehabis bercengkrama dengan alam raya.

“Sayang, kamu pulang hari apa dari Gunung Sibayak?”, tanyaku dalam sambungan telepon. Terdengar teman-teman Mas Rendra di belakang sana tengah mempersiapkan perlengkapan pendakian.

“Mungkin dua hari lagi. Maafkan aku ya, Sayang, tapi orientasi ini penting sekali, satu-satunya pemimpin regu yang tidak berhalangan hanya aku. Jadi aku tak bisa menemanimu di hari istimewa ini, maafkan aku ya, Sayang,” begitu alasan Mas Rendra. Aku tahu bahwa alasannya bukan hanya itu, dia terlalu mencintai alam, bahkan mungkin lebih dari mencintaiku.

Kututup telepon, ada rasa sesak di dalam dada. Kusiapkan menu makanan istimewa yang seharusnya dapat kunikmati dengannya. Tidak apa, aku masih bisa merayakannya berdua. Dengan calon putri kami.

“Nak, ayo kita berdoa sebelum makan,” aku mengajak calon putri kami berbicara. Aku tahu dia tidak mendengarku, tapi siapa lagi yang bisa kuajak berbincang selain dia?

Sehabis makan aku kembali mengambil teleponku, aku ingin menelepon Mas Rendra lagi, sekadar memastikan apakah dia sudah memulai perjalanannya menuju Gunung Sibayak.

“Halo, Sayang, kalian sudah berangkat?” Aku langsung bertanya ketika teleponku tersambung.

“Belum, Sayang, mungkin sekitar 15 menit lagi, kami masih menunggu beberapa anggota lagi yang masih dalam perjalanan ke sini,” jawab Mas Rendra.

“Nanti hati-hati di jalan ya, Sayang, pulangnya juga jangan lama-lama ya, kasihan calon anak kita ditinggal lagi sama Ayahnya,” ucapku dengan nada murung.

“Iya, Sayang, aku skan udah janji sama kamu, ini terakhir kalinya aku naik gunung,” Mas Rendra mengingatkan, “Nanti setelah turun dari Gunung Sibayak aku akan mengundurkan diri dari Mapala, dan mencurahkan semua waktuku untuk keluarga kecil kita, untuk calon putri kecil kita,” katanya berbisik agar tak terdengar anggota Mapala yang lain.

“Iya, Mas, aku tahu, aku cuma kangen aja sama kamu,”

“Aku juga kangen sama kamu, Sayang. Sekarang kamu istirahat ya,” jawab Mas Rendra.

“Iya, Mas, aku istirahat dulu ya, love you,”

Love you too,” kemudian Mas Rendra menutup telepon.

Aku meneteskan air mata tanpa kusadari. Memang Mas Rendra telah berjanji tak akan lagi naik gunung setelah turun dari Gunung Sibayak ini, karena bulan depan dia mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta di Medan, demi calon putri kecil kami. Tapi hari ini aku benar-benar tak bisa menahan air mataku, ake benar-benar merindukan Mas Rendra.

Malamnya aku tidak dapat memejamkan mata. Seakan ada beban seberat dua ton yang mengendap di kepala. Pikiranku melayang, mendarat dengan cemas di perbukitan di sekitar Sibayak. Mencoba mencari-cari petunjuk berupa kabar berita tentang suamiku. Apakah dia baik-baik saja?

***

Rute pendakian begitu terjal malam itu. Regu Mapala yang dipimpin Rendra mengalami sedikit pertanda dari cuaca yang agak merengek manja. Untung tidak turun hujan. Hanya angin yang melaju agak cepat, membuat para pendaki merasa waswas dengan kedatangan gerimis. Diputuskanlah untuk berhenti sejenak agar regu dapat beristirahat sambil membaca tanda alam. Semoga matahari terbit masih bisa terkejar di esok pagi.

Tapi sepertinya cuaca tidak berpihak kepada para pecinta alam ini, tenda-tenda yang mereka dirikan tak kuat menahan terjangan angin, hingga akhirnya mereka kehilangan semua persediaan makanan dan semua perlengkapan mereka. Padahal sebelumnya tidak ada prediksi akan terjadi angin kencang di Gunung Sibayak.

***

Sudah dua hari, aku tak mendapat kabar dari Mas Rendra. Padahal dia mengatakan akan memberi kabar seusai turun dari Gunung Sibayak. Sejujurnya aku merasa waswas mengenai keadaan Mas Rendra, apakah dia berhasil turun dengan selamat, ataukah dia menginap lebih lama di puncak Gunung Sibayak. Semua pertanyaan itu silih berganti muncul di benakku.

Hari ini angin bertiup kencang, langit mulai membawa serta awan-awan kelabu ke atap rumah mungilku. Si putri kecil sibuk menendang-nendang rahimku, Apakah kamu sedang gelisah, Nak? Malam ini harusnya Mas Rendra pulang. Aku akan memasak sambal goreng ati, menu kesukaannya. Nanti malam pasti Mas Rendra datang, gumamku sambil memasak. Entah mengapa aku merasa sore ini begitu senyap. Daun jambu di halaman rumah yang biasanya berkeresakan diterpa angin menjadi lebih pendiam.

Akhirnya sambal goreng atinya siap disajikan. Namun putriku berhenti menendang-nendang. Mengapa Nak? Kutunggu. Sejam. Dua jam. Mas Rendra belum juga pulang. Kuhubungi ponselnya, yang terdengar hanya suara membosankan dari operator telepon. Putriku masih diam. Tak ada tanda denyutan. Aku memutuskan untuk ke rumah sakit. Aku terlalu gelisah. Aku butuh berita!

Sesampainya di rumah sakit, aku mencari dokter kandungan langgananku, tapi dia sedang tidak bertugas. Untung saja ada dokter kandungan lain yang baru saja sampai di rumah sakit, langsung saja aku meminta untuk periksa kandungan. Setelah menunggu satu pasien yang sudah punya janji dengan dokter tersebut, akhirnya aku masuk ke ruangannya.

“Selamat malam, dok,” sapaku.

“Selamat malam, silahkan berbaring,” dokter memintaku untuk langsung berbaring, “Ada keluhan apa?” dokter bertanya sambil menyiapkan alat-alat USG.

“Saya gak tau dok, tadi janin saya menendang-nendang, tapi sekarang sepertinya tidak ada gerakan, dok,”

“Kita periksa dulu ya,” dokter mulai memeriksa kandunganku melalui layar USG.

Wajah dokter terlihat serius memperhatikan layar USG, dia menjalankan alat yang dipegangnya ke kanan dan ke kiri perutku, sesekali berhenti di satu titik, lalu kembali mejalankannya ke kanan dan ke kiri.

“Mohon maaf sebelumnya tapi sepertinya memang tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di rahim Ibu,” Dokter memberitahuku dengan nada menyesal dan aku meringsek di tempat tidur periksa.

Putri kecil kami, putri kecil yang sangat aku sayangi ini… pergi? Ucap batinku.

“Ini harus segera dioperasi, Bu. Ibu bisa mengeluarkannya secara normal atau melalui operasi,” suara dokter membuyarkan lamunanku.

Aku hanya dapat memejam, berdoa pada Tuhan agar tak harus menghadapi ini sendirian. Oh, di mana Mas Rendraku? Ponselku tetiba berbunyi, nomor tidak dikenal menelepon. Setelah meminta izin dokter untuk mengangkat telepon, mataku semakin berkunang-kunang. Telepon tersebut ternyata dari salah seorang kawan yang menyampaikan berita Mas Rendra hilang ditelan alam!

Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku? Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Semoga ini mimpi, Tuhan, bangunkan aku, Tuhan! Aku berdoa dalam hati. Air mataku tak bisa kutahan-tahan lagi. Aku terdiam duduk di atas tempat tidur periksa, tapi dalam hatiku sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak seorang pun bisa menjawabnya. Air mataku terus saja tumpah, mengalir hingga ke leherku.

“Sebaiknya Anda tenangkan diri dahulu, Bu,” suara dokter lagi-lagi menyadarkanku.

Aku segera menyeka semua air mataku, dalam perasaan yang tercampur-aduk, ada sebersit suara yang melintas di benakku. Ini bukan akhir dari segalanya, suara itu seperti terngiang-ngiang di pikiranku. Aku tak yakin dari mana suara ini hadir. Tapi aku seperti setuju dengan suara ini, aku mulai tenang. Sekarang yang menyita perhatianku adalah siapa yang akan kuhubungi.

“Tapi yang pasti bayi di rahim ibu harus segera dikeluarkan, karena kalau tidak cepat akan membahayakan nyawa Ibu,” masih terngiang kalimat terakhir barusan. Kupencet nomor Tiara, sahabatku, orang pertama yang terlintas di benak malam itu.

Tiara datang menemaniku operasi malam itu. Akhirnya sang putri kecil dapat melihat dunia sesungguhnya. Hanya saja ia terus terpejam, untuk selamanya.

“Kamu yang sabar ya Ra, ada aku di sini. Rendra pasti ketemu aku yakin itu,” ujar Tiara berusaha menenangkanku.

Tapi sayangnya, hingga pemakaman putri kecil kami, aku tak kunjung menerima kabar penemuan Mas Rendra dari Gunung Sibayak, tidak di lembah tak juga di puncaknya. Seminggu telah berlalu, pencarian dihentikan, dua malaikat hatiku ternyata sedang bercengkerama dengan Tuhan. Dua mataku menghamburkan kabut kelabu, alam memang telah menelan mereka bersama sendu.

Aku teringat kembali ucapan Mas Rendra saat itu, bahwa pendakian ini akan menjadi pendakian terakhirnya, dan dia akan mencurahkan semua waktunya untuk putri kecil kami ini. Kemudian aku melihat ke atas langit yang sedang mendung, aku melihat Mas Rendra menggendong putri kami di atas sana, di tempat perhentian terakhirnya. Ternyata dia menepati janjinya. Aku tersenyum.

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman) dan Nurhadianty Rahayu (@nengayuu)

Iklan

One comment

  1. […] ← Akhir yang Terlahir Berpikirkah Kalian? […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: