Akhir Penantian

Fajar yang tenang. Gerimis di luar begitu syahdu, dan udara dingin khas fajar seakan merayu Rino untuk meneruskan saja tidurnya hingga matahari terbit. Tapi suara adzan yang terdengar lantang saling bersahut-sahutan dari beberapa masjid dan mushola di sekitar rumahnya seakan menjadi alarm pribadi bagi Rino untuk segera bangun dan mengambil wudhu dan segera menghadap kepada Sang Pencipta Fajar.

Usai melakukan sholat sunnah dua rakaat, Rino melanjutkan sholat shubuhnya. Setelah mengucapkan salam dan berdzikir beberapa saat, Rino menengadahkan kedua tangannya, dengan khusuk dia berdoa kepada Tuhannya, dia mengadukan semua permasalahannya. Memang baginya Tuhanlah tempat yang paling tepat untuk mencurahkan semua keluh kesahnya, termasuk tentang kekasihnya, Melodi, yang sudah beberapa bulan tak pernah lagi ia temukan. Entah apa yang terjadi kepada Melodi, sejak kepindahannya ke Kalimantan, Rino hanya beberapa minggu saja mendapat kabar darinya, setelah itu, dia seperti menghilang tanpa memberi penjelasan apapun. Tanpa terasa air matanya menetes ketika ia menyelipkan nama Melodi di dalam doanya.

Melodi memang harus pindah. Mau tak mau. Ayah Melodi dipindahtugaskan ke Sangata, Kalimantan Timur, dan oleh perusahaan asing tempat ayah Melodi bekerja, ia akan dijadikan pimpinan cabang perusahaan yang bergerak di bidang batu bara tersebut. Sebuah pekerjaan yang pasti akan membutuhkan waktu lama. Sementara itu, pulang-pergi Jawa-Kalimantan sesering mungkin adalah hal yang mustahil. Jaraknya terlalu jauh, dan pekerjaan ini bukan pekerjaan yang bisa ditinggal begitu saja. Alhasil, Melodi dan ibunya juga harus ikut pindah ke sana. Dan semenjak itulah, Rino harus berpisah dengan kekasihnya, Melodi, yang telah menemaninya selama setahun terakhir.

Namun, itulah yang harus dihadapi oleh Rino. Ia tak pernah menyangka akan berhubungan jarak jauh dengan Melodi. Ia sendiri tahu, hubungan yang tadinya bisa dibawa ke jenjang yang lebih tinggi itu tiba-tiba menjadi sulit kini. Bagaimana mereka akan menyatukan jarak? Rino dan Melodi sendiri masuk dalam fase sulit hubungan mereka. Mereka bingung akan membawa hubungan mereka kemana. Begitulah yang terakhir kali mereka pertengkarkan di telepon.

Rino tercenung dalam doanya. Mengingat komunikasi terakhirnya dengan Melodi adalah pertengkaran. Sungguh miris. Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan dalam bentuk apapun dengan Melodi. Melodi menghilang. Dan Rino semakin putus asa, karena tak tahu cara mencari gadis itu.

Sebenarnya semua teman-teman Rino menyarankannya untuk move on dan melupakan Melodi, kemudian menata cinta baru. Namun cinta Rino kepada Melodi sudah terlalu dalam, sudah memenuhi seluruh ruang di hatinya, hingga tak ada lagi yang tersisa dari hati Rino untuk cinta yang baru. Dia tetap menjaga harapan di hatinya. Walaupun harapan itu hanya berupa nyala lilin kecil, Rino tetap percaya pada kekuatan harapan, dia tak mau semua cinta yang telah susah payah dia perjuangkan untuk Melodi, sirna begitu saja hanya karena jarak yang membentang.

Amin.” Rino menggenapkan doanya sembari mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya, sekaligus menyapu tetes-tetes air mata yang tumpah tanpa bisa ia tahan.

Seketika hati Rino menjadi lega. Memang setiap selesai berdoa di waktu-waktu tenang seperti ini memberikan efek yang begitu melegakan, semua beban yang memberatkan pundak Rino seperti terangkat. Dia selalu percaya bahwa setiap doa pasti akan dikabulkan, Tuhan hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkannya.

Setelah melipat sajadah yang terbentang di lantai kamarnya, dia mulai menyiapkan kamera serta semua perlengkapan lainnya. Rino adalah seorang camera person dari salah satu televisi nasional terbesar di Indonesia. Hari ini dia ada liputan ke salah satu kawasan yang masih terendam banjir di Jakarta Utara.

Dia mengeluarkan sepeda motornya dari dalam rumah, udara dingin masih saja menusuk tulang, matahari pun belum sepenuhnya terbit, hanya ada sinar-sinar kecil yang terhalang tingginya bangunan-bangunan bertingkat di ufuk barat. Kemudian dia menyalakan mesin motornya. Membiarkan mesin-mesin motornya panas terlebih dahulu agar tidak cepat rusak, karena dengan sepeda motor inilah dia berkeliling melakukan liputan di seluruh Jakarta.

Dengan hati yang lebih tenang, Rino pun berusaha menunaikan tugasnya hari itu. Ia mengelilingi wilayah-wilayah yang terkena banjir di Jakarta Utara, mulai dari Kelapa Gading, Tanjung Priok, Pademangan, Penjaringan, hingga ke Cilincing. Rino tak sendiri hari itu. Ia bersama Hamdani, rekan sejawatnya, yang menjadi reporternya. Mereka berdua pun melakukan tugas mereka: memotret, merekam, mewawancara, meliput, menulis, semua hal yang bisa mereka lakukan agar mendapat berita terbaik. Rino bahkan hampir lupa dengan kedukaan yang tengah meliputinya karena terlalu sibuk dengan gelutan pekerjaan di hadapannya. Selain itu, menembusi banjir-banjir besar yang menggenangi, adalah hal yang tak mudah.

Rino dan Hamdani pun kembali ke kantor mereka, setelah selesai dari tugas mereka. Rino mengumpulkan berita banjir yang ia bawa hari itu. Ia benar-benar lupa dengan Melodi, sampai suatu ketika seorang wartawan di kantor yang sedang bercerita menyebut nama perusahaan ayah Melodi bekerja dan kota Sangata. Telinga Rino langsung menajam.

“Nggak cuma di Jakarta aja yang banjir. Kalau di Kaltim itu, di tempat asal mertua saya, banjir juga merajalela. Katanya saya dengar perusahaan asing itu dianggap jadi penyebab banjir di berbagai kota di Kaltim. Saya yakin itu, mereka pasti sudah bangkrut. Banyak sudah gerakan yang memprotes penambangan batu bara yang berlebihan di sana.” Wartawan bernama Reza itu asyik melanjutkan ceritanya pada teman sebelahnya, sementara Rino masih terus menguping. Inikah yang menjadi penyebab hilangnya Melodi? Apakah berhubungan dengan sedang kesusahannya perusahaan ayahnya? Rino membatin.

Rino segera menghadap kepada pimpinan divisi berita untuk menyerahkan berita mentah yang hari ini sudah didapatkannya bersama Hamdani. Tapi Pak Rudi, atasannya itu sedang sibuk berbicara melalu telepon. Rino menunggu Pak Rudi menyelesaikan urusannya, sementara hatinya terus saja memikirkan kata-kata Reza tadi.

“Rino, mana bahan-bahannya?” Pak Rudi menyadarkan Rino.

“Oh, ini Pak,” sahut Rino kaget.

“Terima kasih, ya,” kata Pak Rudi sambil mempersilahkan Rino keluar dari ruangannya.

“Sama-sama, Pak,” jawab Rino sambil berdiri kemudian membalikkan badannya menuju pintu.

“Eh, sebentar No, sini bentar,” Pak Rudi meminta Rino untuk kembali menghadapnya.

“Iya, Pak, ada apa?” Tanya Rino setelah kembali duduk.

“Begini, No,” Pak Rudi mengawali, “Di Kalimantan sedang ada banjir besar juga, akibat eksploitasi hutan yang berlebihan dari perusahaan-perusahaan tambang di sana. Nah, kamu kan lulusan teknik industri, pasti kamu mengerti tentang hal-hal seperti itu, kan?” Tanya Pak Rudi.

“Iya, Pak,” jawab Rino masih bingung dengan penjelasan Pak Rudi.

“Saya ingin mengirim kamu, ke sana untuk melakukan survey dan investigasi sekaligus liputan tentang apa saja kesalahan yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut, hingga terjadi bencana banjir di sana,” lanjut Pak Rudi.

Mendengar penjelasan pak Rudi ini Rino seperti melihat sebuah cahaya yang bersinar begitu terang menujunya: kesempatan. Dia merasa sepertinya Tuhan telah menemukan waktu yang tepat untuk menjawab doa-doanya selama ini.

“Bagaimana, No, kamu bersedia?” Tanya Pak Rudi.

“Saya sangat bersedia, Pak!” Jawab Rino dengan penuh antusiasme.

*****

Semenjak menginjakkan kakinya di bumi Kalimantan, jantung Rino terus berdebar. Ia sebenarnya tidak ditugaskan di Sangata. Peliputan yang harus dilakukannya terbatas di Samarinda, ibu kota Kaltim. Namun, ia tak mau ambil pusing. Masih ada waktu, ia membatin. Rino dan timnya ditugaskan selama seminggu. Boleh lebih jika memang diperlukan. Ini kesempatannya. Ia akan meminta izin kepada ketua tim untuk tidak ikut survey dan peliputan selama tiga hari pertama. Ia pikir tiga hari adalah waktu yang cukup menemukan Melodi. Tapi semua rencananya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, Pak Dino bukanlah atasan yang suka memberikan kelonggaran, jelas sudah rencananya ditolak mentah-mentah oleh Pak Dino. Rino tak habis pikir, dia akan meninggalkan tim demi mencari Melodi. Nekat memang. Tapi Rino tak mau melepaskan kesempatan ini.

Perjalanan berjam-jam dengan mobil rental ditempuhnya ke Sangata, Kutai Timur. Dengan berbekal alamat yang dulu diberitahu Melodi, Rino memberanikan diri mencari Melodi. Sendirian. Di kota yang asing baginya ini. Rino bertanya-tanya dalam hati, kenyataan apa yang akan ditemuinya nanti?

Rino sempat beberapa kali tersasar, sebelum akhirnya dia sampai pada alamat yang diberikan Melodi. Sebuah rumah berukuran sedang, persis sama dengan rumah-rumah di sekitar wilayah ini. Semua rumah di sini sepertinya tidak terurus, dan wilayah ini seperti kota mati, tidak ada kehidupan. Tanah yang lembab menunjukkan bahwa beberapa hari yang lalu di daerah ini telah terjadi bencana banjir. Tapi kenapa para penghuninya tidak segera kembali ke sini, padahal banjir telah surut. Dimana Melodi? Batin Rino bertanya-tanya.

“Hei, sedang apa kamu di sini?” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rino. Rino kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata seorang satpam, mungkin satpam kompleks perumahan ini.

“Saya mencari penghuni rumah ini, Pak,” jawab Rino.

“Mereka semua mengungsi, Mas,” jawab satpam tersebut.

“Di mana pengungsian mereka, Pak?” Tanya Rino penasaran.

“Sebentar ya,” kemudian satpam itu mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena. Ia menuliskan sesuatu, lalu menyerahkan kertas tersebut kepada Rino. “Di sini,” ia melanjutkan.

Ah, rupanya pencarianku terhadap Melodi masih belum berakhir, Rino mengucap dalam hatinya. Kasihan Melodi, apakah ia baik-baik saja? Pikiran Rino hanya tertuju pada kondisi Melodi sekarang, sambil mencari pengungsian yang dimaksud. Dan akhirnya dia menemukannya, pengungsian yang sebenarnya dengan kondisi yang kurang baik adanya. Rino melihat dengan miris. Kondisinya cukup memprihatinkan. Ada beberapa keluarga di sana, hanya beratap tenda darurat dan bersekat kain panjang-panjang. Rino menutup mulutnya secara tak sadar, saat ada bau yang tak sedap juga menyeruak di pengungsian itu. Kemanusiaannya terpanggil. Kasihan sekali korban banjir ini, pikir Rino. Padahal ini diakibatkan keserakahan manusia sendiri.

Rino berjalan pelan, mengamati keluarga-keluarga yang sedang berbaring lesu di pengungsian. Debar jantung Rino berdegup begitu kencang, saat ia melihat sosok yang dikenalnya. Wajah itu. Rambut itu. Semua milik Melodi. Itu Melodi. Bersama dengan ayah dan ibunya. Rino tak ragu lagi. Ia segera mendatangi ke bilik mereka saat itu juga. Rindunya pada Melodi sungguh tak tertahan. Degup jantungnya semakin kencang saat ia semakin dekat ke bilik melodi.

“Melodi,” Rino memanggil. Kedua orang tua Melodi menoleh kepada Rino, sedangkan Melodi tidak bereaksi apa-apa.

“Nak Rino, bagaimana bisa di sini?” Tanya Ayah Melodi dengan nada terkejut, sedangkan mata Rino masih lekat kepada Melodi, ia seperti tak mendengar pertanyaan ayah Melodi.

“Nak, Rino?” Ayah Melodi menambah volume suaranya.

Rino kaget, dan mengalihkan pandangannya kepada ayah Melodi, “Apa yang terjadi dengan Melodi, Om?” Tanya Rino penuh rasa penasaran. Ayah Melodi tiba-tiba meneteskan air mata, diikuti isak tangis istrinya.

“Dia mengalami gangguan jiwa,” ucap ayah Melodi sambil menahan isak tangisnya. “Beberapa minggu yang lalu dia diperkosa dan hampir dibunuh,” kembali ia mengisakkan tangis, “Mental Melodi tidak sanggup menahan semua beban itu,” air mata Ayah Melodi begitu deras mengalir lalu ia memeluk Melodi.

Rino masih mematung di hadapan Melodi, matanya masih tak beralih dari wajah melodi yang tanpa ekspresi, tatapannya entah kemana, mata yang dulu begitu indah, kini seperti beku. Doanya selama ini memang dikabulkan Tuhan, tapi penantiannya harus berakhir seperti ini. Rino jatuh, ia hilang kesadaran.
Tulisan Kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman) dan Mbak Jusmalia Oktaviani (@juzzyoke).

Iklan

One comment

  1. […] Tema hari keenam adalah “PENANTIAN”. Pada hari keenam ini partner menulis saya adalah admin dari event ini, Mbak @juzzyoke. Awalnya saya minder saat Mbak @juzzyoke meminta saya untuk berkolaborasi, tapi menjadi suatu kebanggaan juga bagi saya bisa berkolaborasi dengan penulis hebat seperti Mbak @juzzyoke. Kolaborasi kami menghasilkan sebuat tulisan berjudul Akhir Penantian. […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: