Secret Admirer 2

Tulisan ini adalah cerita lanjutan dari Secret Admirer.

Mata itu tepat menatap ke mataku, senyumnya memang benar ditujukan untukku, dia berdiri satu meter di depanku. Aku terdiam, tubuhku seperti kaku, sama sekali tak bisa kugerakkan. Hadirnya yang tak kuharapkan ini benar-benar menyiksa batinku.

“Apa kabar, Rani? Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” Pak Alex menyapaku. Mantan atasan yang ingin kulupakan ini tiba-tiba saja berada di hadapanku. Aku tak ingin terus menerus menahan rasa yang tak mampu kutata di kedalaman hatiku. Aku takut ini salah, aku tak ingin merasa bersalah hanya karena rasa cinta yang tak pantas ini.

“Ba-baik, Pak. Saya pikir Bapak tadi mau pergi keluar,” jawabku dengan gugup. Sudah beberapa hari ini aku tidak masuk kerja karena aku telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Pak Alex. Hanya dalam beberapa hari saja aku sudah segugup ini menghadapi sosok atasan yang begitu kucintai ini.

“Iya, tadi saya mau keluar. Tapi ketika lewat sini, sepertinya saya tidak asing dengan orang yang saya lewati. Akhirnya saya kembali lagi. Ternyata kamu, Rani.” Pak Alex menjelaskan dengan tenang, sementara aku berusaha untuk tampak tenang. Walaupun sepertinya tidak berhasil.

“Kenapa kamu tidak telpon dulu?” Tanya Pak Alex.

“Ma-maaf, Pak. Saya dari luar kota. Jadi sekalian lewat. Saya pikir sekalian saja ke sini. Rasya menelepon saya untuk datang ke sini.”

Aku (tetap) berusaha untuk tenang. Debaran jantungku bertalu-talu. Seperti bedug di malam lebaran. Mendadak suasana sekitar begitu hening. Aku takut Pak Alex mendengar detak jantungku yang berkejar-kejaran. Musik instrumental seakan berhenti. Gemericik air sudah lama seakan tak terdengar.

“Sekarang saya mau keluar sebentar. Kamu mau menunggu atau kembali lagi ke sini besok pagi?” Suara Pak Alex memecah keheningan.

Aku diam. Berpikir untuk mencari jawabnya. Aku yang biasanya sangat hebat dalam bersilat lidah tiba-tiba berubah 180 derajat. Lidahku jadi kelu. Aku tertunduk sambil berusaha menimbang-nimbang apa keputusanku. Tiba-tiba aku melihat cincin melingkar di jari manisnya. Hatiku tiba-tiba serasa tersiram es. Dingin. Aku semakin merasa keheningan semakin menyelimutiku.

“Saya tunggu saja, Pak. Saya juga ada urusan sedikit dengan Rasya,” jawabku seadanya, karena tak ada alasan lain yang bisa kucari saat ini.

“Ya sudah, saya pergi dulu ya,” ucap Pak Alex sambil tersenyum. Kemudian dia menuju pintu yang sudah dibukakan oleh Mas Tejo. Lagi-lagi Mas Tejo memberikan senyum khasnya.

Aku menelpon Rasya, menanyakan apakah dia sedang sibuk, ternyata dia sedang tidak ada pekerjaan yang mendesak. Lalu aku langsung menuju ruang Rasya, ruangan yang dulu kutempati, ruang dengan aroma khas buah apel yang aku sukai.

“Hai Ran, apa kabar? Ayo duduk sini,” sapa Rasya saat aku memasuki ruangannya.

“Aku baik-baik saja Sya, kamu apa kabar?” Jawabku setelah duduk di kursi di depan mejanya. “Sya, Pak Alex sudah bertunangan ya?” Aku langsung saja menanyakan tentang Pak Alex dengan nada penasaran.

“Iya, Ran, di hari pertama kamu tidak masuk kantor, dia mengundang kami ke acara pertunangannya. Aku sudah berusaha menghubungi kamu, tapi handphone kamu selalu tidak aktif,” Rasya menjelaskan.

“Oh begitu ya,” jawabku lesu.

“Kamu masih suka sama dia, Ran?”

Aku bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Rasya, terlebih setelah aku tahu bahwa Pak Alex telah bertunangan. Sebenarnya hatiku benar-benar seperti remuk tak berbentuk lagi, tapi aku berusaha menyembunyikannya dari Rasya.

Rasya dulu sekretarisku. Ia juga sahabatku. Tidak ada yang tahu tentang perasaanku pada Pak Alex. Kecuali Rasya. Hanya padanya aku bisa mencurahkan isi hatiku dengan leluasa. Tapi kali ini aku tidak yakin apakah aku akan mengatakan yang sebenarnya.

“Ah… tidak.” Jawabku sambil menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah di belakang punggungku.

Kembali rasa dingin mengguyur hatiku. Saat aku masih menjadi bawahannya, aku tahu Pak Alex sudah punya ‘seseorang’. Dan ketika aku mendengar bahwa ia akan bertunangan, aku memberinya secarik kertas memo pengunduran diriku. Aku tidak sanggup. Aku memilih lari. Lari dari kenyataan.

Kriinnggg!!!!! Suara telepon di meja Rasya memecah keheningan.

Thanks, God! Terima kasih siapa pun itu. Aku selamat dari pertanyaan Rasya yang mungkin akan ditanyakannya lagi. Rasya berbicara dengan lawan bicaranya. Aku berbicara dengan diriku sendiri. Kenapa aku ‘lari’? Apa tujuanku datang ke tempat ini lagi? Apakah aku sanggup berhadapan dengannya lagi sementara tidak ada lagi kesempatanku untuk bersama Pak Alex. Uh… bodohnya aku. Aku terus bertanya, mengutuk, dan membela diri sendiri.

“Baiklah.” Suara Rasya menyadarkanku. Ia meletakkan gagang telepon. Baru saja ia letakkan gagang telepon tiba-tiba terdengar lagi bunyi telepon. Rasya mengangkatnya.

“Baik, Pak.” Rasya kembali meletakkan gagang telepon.

“Kamu ditunggu di ruangan Pak Alex.” Rasya memberitahuku.

“Oke.” Aku berusaha menjawab dengan intonasi yang ingin terdengar ‘biasa’. Aku bangkit dari kursi yang kududuki. Aku melambai pada Rasya dan berjalan menuju ruangan Pak Alex.

Keluar dari ruangan Rasya, aku menuju pintu di depan ruangan Pak Alex. Aku terdiam. Ragu untuk masuk. Kakiku seakan dibebani berton-ton besi. Berat. Sangat berat. Setelah membaca doa, aku mengetuk pintu.

“Masuk!”

Aku mematung.

“Masuk!”

Aku masih diam. Kakiku masih terasa berat.

Tiba-tiba pintu terbuka. Pak Alex berdiri di depanku. Seketika, aku tak lagi mendengar suara-suara lain selain degup jantungku.  Aku bergerak maju, mengikuti Pak Alex.

“Duduk, Ran,” pinta Pak Alex. Kemudian aku duduk di kursi.

“Bagaimana, Pak?” Tanyaku pelan.

“Begini, Ran, mungkin kamu merasa tidak cocok bekerja di posisi kamu yang kemarin, makanya sekarang saya mau menawarkan posisi asisten manager kepada kamu, menurut saya kamu lebih cocok di posisi tersebut,” Pak Alex mencoba menjelaskan alasannya memanggilku kembali ke kantor ini. Tapi aku hanya diam, mencoba mencerna kata-kata Pak Alex.

Dia menawarkan posisi yang benar-benar bisa menyiksaku, dia memintaku menjadi asisten manager dan aku akan satu ruangan dengan dia di sini. Pikiranku terus saja berkecamuk, di satu sisi aku pasti bahagia karena bisa selalu menikmati waktu bersamanya meski hanya pada jam kantor, tapi di sisi lain, akankah aku mampu menahan sakitnya melihat Arini, calon istrinya yang pasti akan sering datang ke ruangan ini? Andai saja Arini tidak ada di dunia ini. Pasti tak akan seperti ini keadaannya, aku berkata dalam hati. Aku kembali melirik cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya, namun bayangan tentang keluargaku juga terlintas di benakku. Ah… aku semakin dilema sekarang.

“Bagaimana, Rani?” Tanya Pak Alex menyadarkanku.

“Oh, iya Pak, saya bersedia,” aku terkejut hingga jawabanku pun tak terkendali. Mungkin karena bayangan keluargaku yang terakhir terlintas hingga membuatku mengambil keputusan ini.

Tiba-tiba handphone Pak Alex berbunyi, “Sebentar ya, Ran,” lalu ia mengangkat telponnya.

“Halo Arini sayang,” ternyata calon istrinya yang menelpon, seketika hatiku seperti tersayat-sayat mendengar nada bicara Pak Alex yang begitu mesra kepada calon istrinya itu.

“Apa! Arini kecelakaan!? Meninggal di tempat!?” Pak Alex segera berlari keluar ruangan tanpa mempedulikan aku yang ada di hadapannya.

Sedangkan aku, bergeming, terpaku, seperti patung, tak mampu bergerak, pandanganku kosong, darahku melaju deras menyusuri seluruh pembuluh nadiku. Aku merinding. Tuhan mendengar, gumamku lirih.

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman) dan Mbak Iin Indriyati (@Jo_iin).

Iklan

One comment

  1. […] Partner kedua saya pada hari kelima ini adalah Mbak @Jo_iin yang pada hari hari juga telah berkolaborasi dengan saya dan menghasilkan Secret Admirer. Sudah bisa ditebak, hari ini kami ingin melanjutkan kisah tokoh Rani pada tulisan sebelumnya. Dan tulisan hari kelima ini kami beri judul Secret Admirer 2. […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: