Mencinta Tanpa Suara

Rasa ini menggigil dalam fajar yang kulewatkan tanpa menikmati hangat pagi
Rasa ini gemetar kala senja pergi tanpa pernah kugenggam jingganya
Wangi fajar dan harum senja tak pernah bisa kukenali lagi
Melesat saja tanpa sempat kusadari hadirnya

Waktu sangat terasa begitu cepat berlalu
hingga angin yang menerpa wajahku tak sempat lagi kucium baunya
Kulihat telapak tanganku sejenak
dan yang kudapati hanya sela jari kosong yang tak berpenghuni
Melihat sekitar mencari sesuatu yang dapat kugenggam
tapi seolah semua pegangan menjadi melemah seketika
Benda mati benar-benar terlihat mati sekarang
mareka mati tapi tetap berusaha keras untuk bersembunyi

Aku melihatmu sebagai masa depanku
Tapi aku tak pernah punya nyali
Sekadar untuk menyapamu
Sekadar untuk menatapmu
Sekadar untuk ucapkan aku cinta
Hingga fajar tersapu hening pagi
Hingga senja tersesap purnama meninggi

Setiap pagi kala wangi mekar bunga mengitari
aku selalu menemukanmu sedang menunggu di sudut pemberhentian hati
Dengan cara yang tidak kau ketahui aku sangat akrab dengan harum tubuhmu
Dengan suara yang tidak kau deteksi aku selalu mengeja setiap susunan huruf namamu
Dari malam yang hening dan dari siang yang kering kuukir parasmu bernafaskan sunyi

Tiada yang lebih kuingin selain mencintaimu
Tiada yang lebih kudamba selain merinduimu
Namun rasa sepenuh jiwaku, seperti mendung yang tak kunjung hujan
Kemudian angin meniupkannya hingga semua kata tak lagi bermakna
Aku terlalu nikmati mencintamu dalam sunyi

Tidak ada kata yang dapat terucap kala mata kita saling bersitatap
Semua kalimat indah yang tersusun rapi tadi malam
seketika membubarkan barisan kala kita jalan berpapasan
Kukutuk diriku sendiri karna tak dapat lagi menaklukkan situasi
Terlalu banyak waktu yang mempertemukan raga kita
dan terlalu banyak juga waktu yang kusiasiakan untuk mempertemukan hati kita
Cinta yang kubangun sendiri dengan usaha yang kukerahkan sendiri
dan dengan pupuk yang kutebar sendiri
membuatku semakin mengutuk kata-kata “Cinta itu harus memiliki”

Akhirnya tiada lagi yang bisa kunikmati
Hatimu kini telah termiliki
Dan cinta yang kusimpan selama ini
Tak lagi berarti
Aku mendekap sepi

Tulisan Kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman) dan Insany Camilia Kamil (@Brightsunn).

Iklan

One comment

  1. […] dia untuk kembali berkolaborasi bersama saya, kolaborasi kami menghasilkan 2 puisi dengan judul Mencinta Tanpa Suara dan Aku Rindu Kamu, […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: