Jaket Kenangan

Mentari baru saja menampakkan wujudnya. Kesiur angin pagi berembus dingin. Menelusup pada celah-celah bangunan di Tokyo. Pada sebuah kamar flat mungil, sebuah alarm menjerit, menyuarakan waktu yang sudah disetel sang empunya. Seorang gadis berwajah bulat, dengan pipi sedikit chubby, dan rambut lurus sebahu mendadak terbangun. Belum penuh kesadarannya, gadis asli Indonesia itu kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Dan, langsung terlelap lagi.

Tapi, tak lama ia terbangun karena alarm kembali menjerit minta perhatian. Kali ini gadis itu bangun dan segera berdiri dari ranjangnya. Otomatis ia melirik jam mejanya.

“Mati! Gue kesiangan.”

Secara serampangan Louisa Anastasia, nama gadis itu, segera mengemasi beberapa peralatan travelingnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Tak lupa ia menyambar sisir, mini splash cologne, pelembab, sunblock, dan topi. Ia juga menjejalkan beberapa roti bungkus dan sebotol sedang air mineral. Setelah merasa cukup berkemas, Louisa menyambar handuk yang tersampir di gantungan dekat lemari baju lalu masuk kamar mandi.

Louisa adalah seorang mahasiswi Indonesia yang mengambil jurusan Teknik Mesin di Universitas Tokyo. Belum lama ia menetap di Tokyo dan memilih tinggal di kawasan Higashimurayama-shi, suatu kabupaten di sebelah barat Tokyo. Weekend ini Louisa memutuskan untuk backpaking ke Danau Kawaguchi, di wilayah Fujigoko, untuk menyaksikan keindahan Gunung Fuji secara lebih dekat. Untuk mencapai Fujigoko, Louisa memilih rute kereta dari stasiun dekat tempat tinggalnya.

Setelah mandi air hangat dan berhias ala kadarnya, Louisa segera melesat ke stasiun. Ia benar-benar tak mau kesiangan berangkat dari Higashimurayama. Ia ingin mempunyai waktu lebih banyak untuk menjelajahi Fujigoko. Kali ini dia memilih pergi sendiri saja. Sebenarnya Makoto, salah satu teman asli Jepang Louisa menawarkan diri untuk menemani, tapi ia menolaknya. Louisa sudah terbiasa traveling. Dan, ia memang lebih menyukai traveling seorang diri.

Menurut informasi yang ia dapatkan, jarak dari Higashimurayama ke Fujigoko tak sampai 50 menit menggunakan kereta. Namun, pengalaman lahir dan tinggal di Jakarta yang super macet membuat Louisa memilih menyediakan waktu lebih untuk mengantisipasi keadaan tak terduga. Ya, dia tahu, trasnportasi Jepang lebih dapat diandalkan. Tapi, tetap saja, Louisa tak berani mengambil risiko.

Pagi itu, kereta yang ia tumpangi tak terlalu ramai, karenanya Louisa leluasa mencari tempat duduk, dan ia memilih tempat duduk favoritnya, di dekat jendela. Dengan demikian, ia tak akan melewatkan pemandangan lain yang tersaji di sepanjang perjalanan.

Selama perjalanan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam semua pemandangan pinggiran kota Tokyo melalui indera penglihatannya. Sebenarnya ia membawa pocket camera, tapi percuma saja mencoba memotret dari dalam kereta yang melaju hampir 100 kilometer per jam itu, tidak akan bagus hasilnya.

Sesekali ia tersenyum memperhatikan hamparan pohon-pohon yang hanya tersisa batang-batangnya dengan sedikit daun yang masih menempel. Minggu ini adalah minggu terakhir musim gugur di Jepang, ia sengaja mengunjungi Fujigoko sebelum musim salju datang, selain waktu yang ia miliki terbatas karena jadwal kuliahnya yang masih padat, juga karena Makoto menyarankan seperti itu. Katanya saat mendekati musim salju yang juga berarti menjelang natal, orang-orang di Jepang lebih sibuk menyiapkan pohon-pohon natal ketimbang bepergian ke tempat wisata seperti Fujigoko.

Setelah hampir satu jam perjalanan, terdengar suara seorang wanita dalam bahasa Jepang, mengisyaratkan bahwa Louisa sudah sampai di stasiun tujuannya. Dia bergegas turun dari kereta, kemudian memperhatikan sekeliling stasiun. Tepat di tengah gedung stasiun, di atas pintu lebar tempat banyak orang keluar dan masuk, ada plang dari kayu yang dicat berwarna hijau dengan tulisan dalam huruf Jepang dan diikuti tulisan dalam huruf yang lebih bisa dimengerti di bawahnya: KAWAGUCHIKO STATION.

Louisa segera berbaur bersama orang-orang yang keluar dan masuk dari pintu stasiun tersebut. Tidak hanya orang-orang Jepang, ada juga beberapa orang dengan kulit putih dari ras kaukasia, ada juga yang terlihat seperti orang Indonesia, tapi ia ragu untuk menyapanya, karena ia tidak begitu yakin apakah mereka dari Indonesia atau dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Ia terus saja melangkah melewati ruang stasiun yang ramai, hingga akhirnya ia sampai di bagian depan gedung stasiun.

Ia berhenti  tepat sebelum menuruni tangga, lalu menghirup udara pagi dalam-dalam hingga memenuhi seluruh ruang paru-parunya, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Ia rasakan tubuhnya yang sebelumnya begitu pegal karena hampir satu jam duduk di perjalanan, kini terasa lebih ringan. Ia kembali tersenyum dan menuruni tangga, melanjutkan perjalanannya menuju Fujigoko.

Fujigoko yang dalam bahasa Indonesia berarti Lima Danau Fuji, terletak di bagian utara kaki Gunung Fuji. Memang terdapat lima danau di sana, terbentuk akibat letusan Gunung Fuji beberapa abad yang lalu. Lima danau tersebut adalah: Danau Kawaguchi, Danau Motosu, Danau Sai, Danau Shoji dan Danau Yamanaka. Louisa akan menuju ke Danau Kawaguchi karena danau ini yang paling terkenal di antara kelima danau lainnya.

Masih dengan bekal peta kawasan Kawaguchi dan catatan-catatan kecil yang dituliskan Makoto, Louisa memutuskan langsung ke Danau Kawaguchi terlebih dahulu. Ia sudah melakukan reservasi kamar di salah satu hotel di sana. Ia merasa segar. Belum ada pegal yang menggigit tulangnya. Bayangan keindahan danau yang baru dibangun sekitar tahun 1910-an sudah menari-nari di benaknya. Antusiasmenya meningkat tajam.

Mama, ini akan menjadi hadiah terindah untukmu. Gunung Fuji hasil jepretan anakmu sendiri. Tak hanya Gunung Fuji, Ma, Danau Kawaguchi akan menjadi bonus untuk Mama, batin Louisa. Ia tersenyum kecil demi mengingat seloroh Mama ketika Louisa menerima pengumuman persetujuan aplikasi beasiswanya ke Jepang. Mama yang dulu tergila-gila serial Oshin dan Tokyo Love Story itu memang penasaran dengan gunung sakral warga Jepang itu. Membayangkan senyum lebar Mama justru menerbitkan rindu menusuk yang tertahankan. Louisa mendadak homesick. Oh, tidak. Dia kuat. Louisa bertekad memanfaatkan beasiswa ini sebaik-baiknya dan lulus dari kuliah seefisien mungkin.

Ketika turun dari kendaraan yang mengantarnya ke tepian Danau Kawaguchi, Louisa diserang kekaguman tiada tara. Debar jantungnya tak bisa dikendalikan. Berkali-kali dia berseru menyebut nama Tuhan. Ini indah sekali, gumamnya. Tanpa membuang waktu tangannya sudah menggenggam pocket camera-nya dan mulai membidik keindahan Danau Kawaguchi dari berbagai sisi. Jam demi jam berlalu tanpa disadarinya.

Louisa seolah terhipnotis pada paras elok nan rupawan air danau yang berkilau diterpa sinar redup matahari. Namun, di saat yang bersamaan hawa dingin mulai menyergapnya. Louisa bukan seseorang yang mudah alergi, bahkan bisa dibilang dia tak ada alergi pada apa pun. Tapi, dingin menusuk yang mengiris kulitnya ini membuatnya menggigil tiba-tiba. Aneh.

Louisa merogoh tas ranselnya. Oh, dia baru ingat sekarang. Makoto sudah mewanti-wantinya untuk selalu membawa baju hangat. Dan, saat ini, sepertinya… ia lupa membawa baju hangatnya. “Sial,” umpatnya. Di dalam ransel justru hanya ada pakaian-pakaian tipis. Syal? Ia terus merogoh tas ranselnya mencari syalnya. Mudah-mudahan ia membawanya. Tapi, harapan tinggal harapan. Lagi-lagi ia tak menemukan barang yang dibutuhkannya. Panik mulai menyerangnya. Louisa mencoba merelaksasi dirinya, tapi percuma. Angin dingin justru makin mengungkungnya. Louisa gemetaran.

Tenggorokannya kering. Bibirnya mulai membeku. Dengan tangan yang bergetar hebat, Louisa mencari-cari botol air mineralnya. Belum sempat ia menemukan botol itu, Louisa jatuh berdebum ke tanah di tepi Danau Kawaguchi. Spontan, ia merangkul lututnya demi menghalau dingin yang terus merajam.

Ketika itulah, samar-samar ia melihat sesosok tubuh menjulang menyentuhnya. Ia tak bisa memastikan apakah sosok itu laki-laki atau perempuan. Gelap total terlebih dulu menguasainya sebelum Louisa mengenali sosok itu. Yang terakhir dirasakannya adalah tubuhnya yang diangkat dari tanah, didekap, dan dibawa berlari. Lalu, semuanya hitam. Louisa pingsan.

****

Mata Louisa berat, ia berusaha membuka mata, namun matanya terlalu berat, kelopak matanya seperti saling menempel dan direkatkan dengan lem super lengket. Tapi yang pertama ia sadari adalah rasa hangat yang menyelimutinya, ia merasa lebih nyaman dalam dekap hangat yang sangat berbeda dari yang dirasakannya sebelum ia jatuh pingsan.

Perlahan-lahan matanya terbuka, awalnya seperti titik kecil yang silau di tengah-tengah pandangannya, semakin lama penglihatannya semakin terang. Kepalanya masih pusing, ia perhatikan sekeliling ruangan ini sambil menyipitkan mata. Ruangan ini seperti sebuah ruangan di dalam rumah khas Jepang, tapi lebih modern, karena ia melihat ada beberapa alat elektronik dan pengatur suhu ruangan. Louisa menyadari bahwa ia sedang terbaring di dalam sebuah futon, selimut penghangat khas Jepang yang biasa digunakan oleh orang-orang jepang untuk menghangatkan diri di musim dingin.

Di luar terdengar gemuruh seperti hujan, tapi lebih kencang dari hujan. Kemudian ia beranjak dari futon, dengan perasaan bingung ia mendekat ke jendela, ia buka tirainya sedikit, ternyata di luar sedang ada badai salju. Tapi bukankah musim dingin masih beberapa hari lagi? Louisa bertanya-tanya dalam hati. Belum sempat ia menemukan jawaban dari rasa penasarannya, tiba-tiba suara pintu terbuka. Louisa kaget. Sesosok laki-laki tinggi dengan wajah tampan khas orang Jepang muncul dari balik pintu membawa sebuah tatakan dari kayu berwarna coklat muda, di atasnya terdapat satu teko berukuran sedang dan dua buah cangkir kecil yang juga terbuat dari kayu, ada sebuah mangkok yang berukuran besar juga di sana.

Anata dare!?(Siapa kamu!?)” Tanya Louisa, tapi laki-laki itu tidak bereaksi apa-apa. Dia melewati Louisa dan dengan hati-hati ia meletakkan tatakan yang ia bawa ke atas kotatsu, meja khas jepang yang terdapat selimut dan penghangat di bawahnya.

Laki-laki itu menoleh ke arah Louisa sambil tersenyum manis, tapi Louisa yang masih syok menempelkan punggungnya ke dinding, ia terlihat takut. Seketika ekspresi laki-laki itu berubah, sepertinya ia bingung dengan sikap Louisa. Ia mengerakkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa ia bukanlah orang jahat. Kemudian ia mengambil sebuah buku dan pena dari atas kotatsu, lalu dia menuliskan sesuatu di buku itu kemudian menunjukkannya kepada Louisa.

Namaku Kazuo Okada
Aku seorang tuna rungu
Aku menemukanmu pingsan di tepi Danau Kawaguchi tadi pagi
Aku bukan orang jahat

Louisa membacanya, ia merasa lebih tenang. Lalu ia membalas tulisan Kazuo.

Maafkan sikapku, aku bingung apa yang terjadi denganku
Namaku Louisa Anastasia, aku dari Higashimurayama
Aku ingin pulang kalau badai sudah reda

Louisa menyerahkan kembali buku itu kepada Kazuo. Setelah membacanya, Kazuo tersenyum, lalu ia kembali ke kotatsu dan menuangkan ocha, teh khas Jepang, ke dalam cangkir lalu memberikannya kepada Louisa. Louisa segera menerimanya dan menyeruput ocha panas yang masih mengepulkan asap di atasnya itu dengan pelan-pelan.

Arigato (Terima kasih),” gumam Louisa pelan, ia tahu Kazuo tak akan mendengarnya, tapi ia mengucapkannya dengan gerakan bibir yang ia harap bisa dibaca Kazuo. Kazuo hanya mengangguk pelan dan kembali tersenyum.

Sambil menyeruput ocha di cangkirnya, Louisa memperhatikan Kazuo, sepertinya dia jatuh cinta kepada Kazuo, bukan hanya karena wajah manisnya, tapi juga sikapnya yang begitu baik kepada Louisa. Setelah satu cangkir ocha habis, ia menyodorkan kembali cangkirnya kepada Kazuo, dan lagi-lagi ia tersenyum sambil mengambil teko dan menuangkannya kembali ke cangkir yang dipegang Louisa.

Untuk kedua kalinya Louisa menyesap ocha yang dituangkan Kazuo. Dari balik cangkir, ia menyempatkan untuk melirik Kazuo lagi. Entahlah, seperti ada magnet yang menariknya untuk terus mendekati pemuda itu. Ia merasa tak seperti Louisa yang biasanya. Dia bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta, apalagi pada pandangan pertama. Bahkan, tak pernah selintas pun dalam pikirannya, Louisa akan kecanthol pemuda Jepang.

Kazuo mengangsurkan mangkok yang ada di atas tatakan. Selumbar aroma mie ramen yang lezat langsung menggoda hidungnya. Tiba-tiba Louisa merasa sangat lapar. Seperti tak makan berhari-hari. Oh, tentu saja, dia belum makan siang, dan menurut perkiraannya ini sudah lewat dari jam makan siang.

Sembari tersenyum, yang menerbitkan dua cekungan kecil pada pipinya, Kazuo mengangguk mempersilakan Louisa untuk makan. Kalau saja perutnya tidak meminta untuk segera diisi, Louisa tak yakin bisa menghabiskan semangkuk mie ramen itu karena ia terlebih dulu jatuh pingsan lagi karena terpesona keindahan lain dari daerah Kawaguchi ini, Kazuo Okada.

Selama acara makan itu, Louisa memberanikan diri mengajukan pertanyaan pada Kazuo melalui media tulisan di buku milik Kazuo. Tentang Kazuo, tentang keluarganya, tentang Kawaguchi, tentang Gunung Fuji, dan juga tentang kondisi Kazuo saat ini. Louisa dihantam beragam rasa demi mengetahui kisah hidup Kazuo yang lebih banyak diliputi kesedihan dibandingkan kegembiraan. Namun, yang menyentuh relung terdalam hati Louisa, Kazuo tetap tegar menjalani hidupnya meski kini ia mengalami tuna rungu dan hanya tinggal bersama sang nenek.

Louisa merasa lebih baik setelah makan dan minum beberapa teguk ocha lagi. Ia sungguh beruntung bisa mengenal Kazuo.

Arigato, Kazuo-san. Anata no sutekina. (Terima kasih, Kazuo. Kamu baik sekali.)

Louisa menyerahkan tulisannya itu pada Kazuo yang menerimanya sambil tersenyum. Senyum yang menular, karena selanjutnya Louisa pun ikut tersenyum. Sebenarnya Louisa ingin meneruskan travelingnya ini. Dia bahkan belum sampai melihat dan memotret pesona keindahan Gunung Fuji. Namun, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Salju telah turun lebih cepat dari perkiraan dan terlebih lagi ia tak mempersiapkan peralatan yang lengkap. Louisa memutuskan sebaiknya ia menunda traveling kali ini. Dia yakin masih banyak kesempatan lain untuk menikmati Gunung Fuji.

Kazuo-san, aku merasa baikan sekarang
Tapi kupikir aku akan pulang saja
Aku takut jika hawa dingin meyerangku kembali
Terima kasih atas bantuannya.

Kazuo membaca tulisan itu secara saksama. Sekilas terlihat perubahan air mukanya. Segurat kesedihan terselip di sana. Tapi, Kazuo cepat-cepat menambahkan senyum kecil. Kemudian dia mendekati jendela dan memperhatikan keadaan cuaca di luar, Louisa juga ikut mengintip di samping Kazuo, dia mencium wangi tubuh Kazuo yang begitu harum, membuat dia semakin jatuh cinta kepadanya. Tapi dia tidak bisa berlama-lama di sini, apalagi dalam cuaca yang seperti ini.

Sepertinya badai sudah mulai reda, hanya bulir-bulir kecil salju yang turun dari atas langit, dan di jalan sudah ada beberapa orang yang melintas. Melihat keadaan yang sudah mulai bersahabat, Louisa segera beranjak dan membereskan tas ranselnya. Tapi tiba-tiba dia terlihat bingung. Melihat Louisa yang tampak kebingungan, Kazuo seperti mengerti dan dia memberikan isyarat kepada Louisa agar dia tenang. Kemudian Kazuo menuju lemari yang ada di sudut kanan ruangan itu, ia menggeser pintu lemari yang terbuat dari triplek, kemudian mengambil sebuah jaket, lalu menyerahkannya kepada Louisa. Louisa yang memang sedang kebingungan karena ia tidak membawa jaket, sedangkan cuaca di luar sangat dingin, tanpa basa-basi menerima jaket yang disodorkan Kazuo tersebut sambil melakukan ojigi (membungkuk sebagai ungkapan terima kasih). Segera ia membawa jaket berbahan wool berwarna coklat tua itu bersamanya. Lalu mereka menuju ke pintu depan.

Setelah selesai mengikat tali sepatunya, Louisa segera mengenakan jaket Kazuo, lalu menaikkan tas ransel ke punggungnya dan memantapkan posisi ranselnya. Kemudian mereka melangkah keluar dari pintu. Di teras ada nenek Kazuo yang sedang membersihkan sisa-sisa badai siang tadi, ia berhenti sebentar dari kegiatannya kemudian menoleh ke arah Louisa dan Kazuo. Dia mengucapkan beberapa patah kata yang kurang jelas di telinga Louisa, mungkin karena giginya yang hanya tersisa beberapa buah saja di bagian depan. Louisa tersenyum, lalu membungkukkan badan melakukan ojigi sambil mengucapkan “Arigato gozaimashita.”

Kazuo mengantarkan Louisa kembali menuju Stasiun Kawaguchiko. Sebelum naik kereta, sekali lagi Louisa melakukan ojigi kepada Kazuo dan mengucapkan “Domo Arigato gozaimashita (terima kasih banyak),” Kazuo membaca bibir Louisa, lalu dengan terbata-bata dia mengucapkan “A-a-ma-rini mo a-a-nata ni ka-kan-sha (terima kasih kembali),” mereka saling melempar senyum. Tuhan, izinkan aku bertemu lagi dengannya suatu saat nanti. Louisa membatin dan dia seperti tak sanggup meninggalkan senyum Kazuo yang begitu hangat menenangkan itu. Tapi kereta sudah siap untuk bertolak menuju Higashimurayama, terpaksa Louisa masuk ke dalam kereta kemudian dia buru-buru mencari tempat kosong di pinggir jendela agar dia bisa menatap lagi Kazuo. Kazuo masih di sana, Louisa melambaikan tangannya kepada Kazuo hingga semakin lama tubuh Kazuo terlihat semakin jauh. Tanpa ia sadari setetes air hangat bergulir dari sudut matanya, tapi ia tersenyum dan menjatuhkan tubuhnya di kursi kereta. Ia mengela nafas panjang.

Selama perjalanan menuju Higashimurayama, pikiran Louisa tidak pernah lepas dari senyuman Kazuo, matanya masih saja meneteskan air mata setiap kali mengingat betapa sempurna sosok Kazuo, meskipun dia tidak bisa mendengar dan tidak bisa bicara.

****

4 Tahun Kemudian

Hari ini adalah hari terakhir Louisa berada di Jepang, besok ia sudah harus pulang ke Indonesia karena ia telah lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Selama empat tahun ini, ia terlalu sibuk dengan kegiatan perkuliahannya hingga ia tak pernah sempat kembali ke Fujigoko untuk melihat keindahan Gunung Fuji, dan menemui Kazuo.

Pagi ini dia telah menyiapkan semua perbekalannya untuk pergi ke Fujigoko, selain ingin mengabadikan pemandangan Gunung Fuji untuk ibunya, Louisa juga berencana mengembalikan jaket yang dipinjamnya dari Kazuo dan tentu saja melihat lagi senyum manis Kazuo.

Selama di perjalanan, Louisa tak henti-hentinya menuliskan beberapa kata yang akan ditujukannya kepada Kazuo. Meskipun Louisa sadar betul bahwa cintanya kepada Kazuo tak akan mungkin pernah dapat disatukan, karena sangat kecil kemungkinan ia kembali ke Jepang atau Kazuo yang ke Indonesia, setidaknya ia sudah mengungkapkan isi hatinya kepada pria yang selama ini ada di hatinya itu.

Setelah sampai di Stasiun Kawaguchiko, ia kembali menghirup udara kaki Gunung Fuji hingga memenuhi seluruh paru-parunya, persis empat tahun yang lalu. Tapi kali ini, pemandangan Danau Kawaguchi berbeda dari saat pertama ia menjejakkan kaki di sini, karena sekarang sedang musim semi, bunga sakura mekar di mana-mana, menambah cantik hamparan air danau yang luas itu.

Setelah puas memotret Gunung Fuji dari segala sudut, tiba saat-saat yang dinanti Louisa selama empat tahun ini. Menemui Kazuo. Dia masih ingat jalan ke rumah Kazuo, karena tak terlalu jauh dari Danau Kawaguchi, sekitar lima menit dengan berjalan kaki.

Sesampainya di depan rumah Kazuo, ia melihat seorang wanita jepang yang sangat cantik sedang menggendong seorang bayi di teras depan rumah. Louisa yang saat itu berdiri di depan pagar mulai ragu apakah harus ia lanjutkan tujuannya ke sini. Di tengah kebimbangannya, wanita itu memanggil Louisa.

“Halo! Ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu dengan lembut.

Louisa akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah dan mendekati wanita itu.

“Emmm… saya ingin menemui Kazuo, apa dia ada di rumah?” Jawab Louisa dengan nada pelan dan ragu-ragu.

“Ooh, kamu mencari Kazuo, ayo masuk dulu,” wanita itu mempersilahkan Louisa masuk dan mereka berjalan menuju tempat yang empat tahun lalu menjadi tempat pertemuan Louisa dan Kazuo.

Tempat ini belum berubah sama sekali, masih sama seperti empat tahun yang lalu, saat Kazuo menyelamatkan Louisa dari serangan badai salju. Louisa masih ingat betul semua posisi furnitur-furnitur di ruangan ini. Mereka duduk di kotatsu.

“Kamu ada perlu apa dengan Kazuo?” Tanya wanita itu dengan pelan.

“Sa-saya Louisa, dulu saya pernah meminjam jaket Kazuo, dan sekarang ingin saya kembalikan,” jawab Louisa dengan terbata-bata. Lalu ia mengeluarkan jaket Kazuo dari dalam ranselnya. “Ini jaketnya,” ia letakkan jaket itu di atas kotatsu.

“Saya Reiko Hinomoto, sepupu Kazuo,” Reiko menjelaskan. Mendengar kata-katanya ini, Louisa menghela nafas lega, ia takut kalau wanita cantik yang sedang duduk di sampingnya ini adalah istri Kazuo.

“Jadi di mana Kazuo sekarang?” Tanya Louisa penuh semangat.

“Dia sudah meninggal, tepatnya satu bulan yang lalu, tumor otak yang menyerang saluran telinganya semakin ganas dan tidak bisa lagi disembuhkan, hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya,” jawab Reiko dengan air muka yang penuh kesedihan. Louisa terkejut, ia seperti disambar petir, hatinya seperti tercabik-cabik, diremas duka yang begitu menyesakkan dada. Air mata pun tumpah tanpa bisa ia tahan lagi. Ia menutup kedua matanya yang masih mengalirkan air mata yang begitu deras dengan kedua tangannya.

“Ada apa, Louisa?” Tanya Reiko.

“Aku mencintai Kazuo,” jawabnya di sela isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. “Dan aku belum sempat mengungkapkan kepadanya,” lanjut Louisa.

“Aku mengerti, Louisa. Perasaan yang tak sempat diungkapkan memang begitu menyakitkan, apalagi saat tak ada lagi kesempatan untuk kita mengungkapkannya,” Reiko mengusap pundak Louisa mencoba menenangkannya. Tapi tangis Louisa semakin menjadi-jadi. Reiko menunggu hingga Louisa tenang.

Setelah lebih tenang, Reiko melanjutkan, “Jika hanya jaket ini yang tersisa dari Kazuo, simpanlah untukmu. Jika nanti kamu merindukannya, kamu masih punya sepotong kenangan tentang dia.”

Louisa sudah tidak menangis lagi, sepertinya dia sudah bisa mengikhlaskan kepergian Kazuo. Dia menyimpan lagi jaket Kazuo yang menjadi satu-satunya kenangan tersisa darinya ke dalam tas ransel. Ia pun berpamitan pulang kepada Reiko.

****

Sekarang Louisa sudah berada di Indonesia, ia bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Satu hal yang tidak pernah lupa ia bawa kemana pun adalah jaket yang menyimpan kenangan tentang Kazuo, jaket ini selalu memberikan semangat kepada Louisa dalam semua masalah yang ia hadapi. Bagi Louisa, Kazuo layaknya pelangi yang menghadirkan keindahan dan mengajarkan betapa berharganya setiap detik yang kita punya walaupun hanya sebentar, dan akhirnya pelangi yang begitu indah itu harus ia relakan pergi.

Tulisan kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman) dengan Mas Yuliono (@yuliyono).

Iklan

2 komentar

  1. […] Di tulisan dengan tema “HANGAT” ini gue sama mas Ijul survey dulu tentang setting, plot, karakter serta hal-hal penting lainnya. Dan dihasilkanlah tulisan yang gue aja gak percaya pernah nulis cerpen ini bareng Mas Ijul. Selama nulis cerpen ini rasanya gak pernah mau berhenti dan terus ngembangin ceritanya, bisa jadi novel deh kayaknya, haha. Bagi gue tulisan ini adalah masterpiece gue, halah. Yang mau baca, nih judulnya: Jaket Kenangan. […]

  2. […] sebab tidak ada spontanitas di dalamnya. Meskipun bukan kolaborasi murni, tapi tulisan berjudul Jaket Kenangan ini tetap worth to […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: