Gelap Dalam Gelap

Every one is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody.
— Mark Twain

Aku sedang duduk di sebuah restoran bersama beberapa teman-temanku sepulang dari kampus. Restoran ini berada di pinggir jalan raya, sehingga setiap orang yang lewat bisa kulihat dari dalam melalui dinding-dinding kaca yang bening dengan beberapa ornamen pemanisnya berupa lingkaran-lingkaran kecil berwarna-warni, sebagian besar berwarna jingga serasi dengan dinding di bagian dalamnya, juga seragam para pelayan restoran yang berwarna jingga dengan garis hijau besar di bagian samping seragam mereka. Aku perhatikan semua teman-temanku sedang berbincang sambil tertawa-tawa, kadang tawa mereka terlalu kencang sehingga membuat pengunjung lain menoleh kepada kami. Tapi aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan hingga tertawa terbahak-bahak seperti itu, pikiranku sedang tidak di sini, pikiranku mengelana jauh mengingat episode buram beberapa bulan lalu yang masih terekam jelas di ingatanku.

Episode yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap episode yang sangat menyenangkan, iya aku sempat sepakat dengan mereka, tapi kata sepakatku seketika memudar kala kuingat sakit yang mungkin akan aku rasakan. Episode buram yang nyatanya tidak buram, tapi aku yang berusaha keras memburamkan episode itu. Bagaimana tidak? Dengan kesadaran yang tidak seutuhnya, aku menjatuhkan pilihan pada orang yang telah dipilih orang lain, aku menetapkan hati pada orang yang telah ditetapkan hatinya oleh orang lain. Rasa itu bagai dua mata pisau yang tajam untukku, hujaman caci pada diri sendiri tak jarang aku dapatkan, hantaman keras pada nurani kini tak jarang lagi aku rasakan. Sergapan banyangmu melesat cepat bahkan pada situasi sore seramai ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana kabar malam-malamku yang diselimuti sepi, mungkin bayanganmu memenjarakan tubuh dan alam imajiku.

Aku tahu sepenuhnya bahwa rasa yang kupertahankan ini benar-benar salah di mata semua orang, terlebih bagi mereka yang selalu mengagungkan logika. Tapi sejak kapan hati dan logika sejalan? Aku terlalu takut memasang telinga mendengarkan setiap kata yang akan terucap yang mungkin tak lebih dari cacian yang bahkan akan semakin membuatku tak berdaya. Itu sebabnya aku hanya mampu menyimpan semua perasaan yang tak seharusnya kusimpan ini di sisi gelap hatiku. Tak seorangpun tahu. Tidak juga mereka yang sedang tertawa di depanku ini.

Biarlah semua orang melihat sisi paling terang dalam diriku tanpa harus mereka tahu sisi tergelap yang aku punya. renyahnya tertawa mereka malam ini pun kubalas dengan tawa, ah sebentar, terlalu sadis jika ini disebut tawa karna nyatanya aku tertawa bukan karna guyonan mereka, tapi lebih tepatnya aku yang sedang menertawakan kebodohan diriku sendiri. Mencintai orang yang sudah ada yang memiliki bukannya itu namanya bunuh diri? Biarlah mereka menganggap tawaku adalah sebagai gayung bersambut atas guyonan mereka tanpa harus mereka tahu atas dasar apa aku tertawa. Kalaulah memang sisi tergelapku hanya bisa diketahui oleh sudut ruang gelap dalam kamarku, biar. Mungkin itulah saat dimana aku merasa menjadi diriku seutuhnya tanpa harus memasang topeng jenaka seperti sekarang.

Teman-temanku semuanya sudah menyelesaikan makan sorenya, sedangkan aku yang memang tidak merasa lapar, hanya menyisakan beberapa mililiter es teh manis di gelas tinggi yang bagian tengahnya lebih ramping.

“Ayo Nay, kita pulang,” suara Dina menyadarkan aku dari lamunanku. Ternyata teman-temanku sudah siap untuk meninggalkan restoran ini.

“Tunggu sebentar,” sahutku sambil membereskan tas tanganku. Mereka sudah hendak keluar dari restoran, dan aku bergegas menyusul mereka.

“Hei Nayla!” Aku terperanjat melihat sosok yang selama ini menghantui pikiran dan hatiku itu. Kami tepat bertemu di depan pintu restoran, sedangkan teman-temanku sudah menuju mobil yang di parkir di samping restoran. Perasaanku benar-benar tercampur-aduk antara rasa senang karena melihat senyumnya yang begitu mendamaikan, bingung karena aku tak tahu harus bersikap seperti apa.

Dengan wajah yang entah seaneh apa, ah beruntungnya tidak ada cermin di sekitarku karena kalau ada mungkin aku bisa lari karena ketakutan melihat anehnya wajahku sendiri. Aku terdiam, 1… 2… 3 detik dalam diamku mata kami bertemu, senyuman menawan tak pernah lepas dia pasang dalam parasnya. Seketika bergeming sebuah doa, Tuhan, hentikanlah waktu sejenak, izinkan aku melalap habis senyum yang dilemparkan olehnya. Lamunanku di sadarkan dengan hentakan keras darinya, “Hoy! Nay, kok diem?” Satu kata yang dapat mewakilkan sikapku pada saat itu: kikuk. Dengan kikuk aku menjawab, “Eh Ar, iya, aduh maaf aku kaget kenapa bisa kebetulan ketemu kamu disini. Hehe, mau makan ya?” Iya iya, kebetulan. Terlalu banyak kebetulan yang menyatukan kami, kami pernah dengan secara kebetulan memasang gambar wallpaper handphone yang sama, dari ribuan wallpaper yang ada di mana-mana kenapa bisa kita memasang wallpaper yang sama? Kebetulan. Iya itu hanya kebetulan.

“Iya nih kebetulan banget, gak mau makan cuma mau minum-minum aja. Kamu udah mau pulang, Nay?” Jawabnya dengan santai.

“Iya, aku udah selesai nih. aaah minum-minum, bilang aja mau janjian ketemu sama pacar, ngaku!” Dengan nada dan gaya yang (sok) santai aku coba menyembunyikan kegugupanku.

“Dasaar kamu, iya nih mau ketamuan disini. Tapi kayaknya dia belum dateng deh,” Aria menjawab godaanku sambil sibuk menyapu pandangan kedalam restoran.

DEG!

Sejujurnya aku menyesal telah melemparkan kalimat itu. Entah apa yang membuat degup jantungku seperti tak mampu lagi berdetak mengetahui mereka akan bertemu di sini. Aaah, aku begitu bodoh. Rasanya aku ingin mengulang waktu beberapa detik saja sebelum aku mengucapkan kalimat yang malah menjadi boomerang bagiku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menyunggingkan senyum yang sesungguhnya penuh kepedihan di kedua sudutnya. Aku tersenyum begitu manis, tapi hatiku menangis, seperti teriris.

Harapanku pada detik itu adalah sadarkanlah teman-temanku secepat mungkin dan memanggilku agar ada alasan yang anggun untuk menghilang dari jangkauannya. Membayangkan wajah kekasihnya saja hatiku meringis, apa lagi kalau sampai dapat kutangkap wajahnya dalam indera pengelihatanku. Memasang senyum di depan teman-temanku saja sudah menghabiskan jutaan usaha yang kukerahkan, apa lagi harus melemparkan senyum pada perempuan yang jadi kepunyaannya dia.

Dan tuhan seperti mendengar pintaku. Dapat kurasakan tangan Dina memegang pundakku. Aku tersenyum lega, kutolehkan kepalaku.

“Hai Nayla! Kamu di sini juga ya?” Untuk kedua kalinya aku terperanjat. Bukan Dina yang menyapaku. Ternyata sesosok manusia yang jauh berada di dalam kehidupan masa laluku, dia mungkin pernah berarti beberapa tahun yang lalu, namun itu dulu. Semua terasa indah saat aku belum mengetahui siapa sebenarnya dia, jantungnya terhenti sejenak, mataku kosong tanpa harap, dan bibirku bergetar di tengah keramaian manusia berlalu lalang.

Dia yang dulu datang di antara keengganan hatiku untuk berpaling dari cinta baru yang tak mungkin ini. Sapaan itu membuat lidah yang sudah kelu menjadi semakin beku, oh Tuhan ampunilah aku dan senyuman palsu yang kuobral hari ini. Dengan sangat terpaksa kutarik dua sentimeter sudut kanan bibir dan dua sentimeter sudut kiri bibirku, aku bisa mengontrol senyumku tapi aku tak pernah bisa mengatur air mukaku.

“Dimas? Ka… kamu ngapain di sini?” Nafasku terengah-engah, rasanya oksigen menipis di sekitar ragaku. Tuhan! pindahkan tubuhku dari situasi ini! Teriak aku dalam hati.

“Dimas? Kamu pasti salah mengenal kami deh, aku Ridwan adik kembarnya Kak Dimas,” seketika aku terperangah bercampur malu, demi memecah keheningan aku mulai berusaha mengakrabkan diri.

“Oh, iya… lama tak bertemu, aku lupa mengenali kalian berdua, gimana kabar kakakmu?”

Seketika Ridwan pun menunduk seraya berkata, “Kakak sudah tenang di sana, beberapa bulan yang lalu dia telah berpulang karena terserang penyakit jantung.”

Seperti dihujam seribu belati, bahkan lebih… aku memang berusaha melupakan sesosok pria yang pernah menyakitiku beberapa masa yang lalu, tapi hati ini seakan bergaung saat mendengar kabar yang memilukan telingaku.

“Dimas? Meninggal? Secepat ini?” Masih dalam ketidakpercayaan yang besar aku berusaha mengontrol laju deru nafas dan detak jantungku.

“Nay, kakakku sudah banyak salah sama kamu, aku atas nama kakak memohon maaf atas semua yang sudah dia lakukan ke kamu, Nay” Ridwan tertunduk.

Tanpa aku sangka Aria yang masih berada dalam lingkaran pembicaraan kami, menyentuh pundakku dan membisikkan, “Nay, ikhlaskan dan maafkanlah dia,” kutarik wajahku hingga tegap dan berusaha menenangkan Ridwan yang sesekali terlihat sayu.

“Rid, tanpa kamu atau kakakmu meminta maaf, aku sudah memafkannya. Yang sabar ya, Ridwan,” aku mengusap pundak Ridwan yang terlihat sedikit berguncang.

Ridwan pamit pergi dari lingkaran percakapan kami, tersisa aku dan harapanku (Aria). Lisa salah satu temanku akhirnya menghadap dengan wajah sempurna tertekuk, setelah sampai di dekatku, Lisa menarik keras tangan dan berbicara padaku, “Naaay, ayo pulang, gue ngantuk!” Lisa salah satu teman yang paling manja di kelasku, tingkah lakunya yang seperti anak kecil membuat kita sepakat memanggilnya acil, singkatan dari anak kecil.

Perpisahan? Aku tidak pernah mahir mengucapkan kalimat perpisahan pada semua orang, apalagi pada Aria, mulutku tidak berkata apa-apa, hanya isyarat tangan yang kulambaikan ke arahnya sambil menunjuk ke arah Lisa. Dia tersenyum, hatiku menjadi vakum.

Langkah demi langkah aku gerakan perlahan, masih tertegun tidak percaya atas kejadian yang beberapa menit aku lewati. Sekilas hatiku berharap, berharap Aria memanggilku dan melontarkan senyum perpisahan, namun… aku yang membuka pintu mobil tersadar bahwa itu hanya lamunan biasa, itu hanya sebuah harapan yang seharusnya tidak ada dalam otakku. Pengalaman ini membuatku seakan lahir kembali, begitu banyak hal yang belum siap aku hadapi harus aku lewati, iya… inilah hidup, inilah dunia, penuh dengan fana yang terkadang berselimut di balik realita.

Selama perjalanan, teman-temanku masih sibuk dengan candaan renyah mereka masing-masing, saling melemparkan guyonan, sahut menyahut tawa lepas. Dan lagi, mereka lagi lagi tidak mengetahui kecamuk dalam hatiku, dan perputaran pikiran dalam otakku. Sore merangkak pergi berganti malam, langit menjadi gelap perlahan serta bulan yang berusaha dengan keras untuk menjadi penerang. Aku merasa pergantian warna langit menjadi penanda selamat datang untuk dunia ku yang seutuhnya.

Sesampainya di rumah, kegiatan rutinku adalah kembali memasuki kamar dan mencari sudut yang paling tidak bisa dijangkau oleh cahaya sedikitpun. Aku yang mencintai gelap bukan berarti aku membenci terang. Gelap menurutku sangat jujur, gelap itu apa adanya, gelap itu tanpa rekayasa. Dalam gelap banyak sisi yang tidak tersebar luas seperti terang, gelap itu dipandang misterius tapi bagiku gelap adalah hal yang sangat romantis. Banyak sisi gelapku yang tak terjamah oleh orang lain, tapi hakikatnya gelap bertemu dengan gelap akan menjadi keserasian yang abadi.

Setidaknya untuk gelapku malam ini teramat banyak bekal yang dapat kurenungi, aku dapat memutar ulang kembali memori masa lalu tentang Dimas dan aku dapat memutar maju menyusun masa depan dengan Aria, harapanku saat ini, dan entah sampai kapan dia akan tetap menjadi harapan.

Gelap, inilah aku. Bantu aku untuk tenang walau hanya untuk sebentar.

Tulisan kolaborasi Putra Zaman (@poetrazaman), Insany Camilia Kamil (@Brightsunn) dan Putra Leonardy (@putraleonardy).

Iklan

2 komentar

  1. […] Putra lain buat nyelesaiin tulisan kami. Dan akhirnya selesai juga tulisan trio itu dengan judul Gelap Dalam Gelap. Monggo […]

  2. […] Tema hari ketiga adalah “GELAP”. Pada hari ketiga ini saya berkolaborasi dengan @Brightsunn dan @putraleonardy melalui Pesan Facebook. Awalnya hanya saya dan @Brightsunn yang berkolaborasi, hingga pada bagian pra-klimaks, tiba-tiba ada pekerjaan yang mengharuskan saya meninggalkan laptop, namun saya masih sempat mengirimkan beberapa paragraf melalui Facebook Mobile, tapi akhirnya saya benar-benar harus fokus pada pekerjaan saya dan saya menyerahkan seluruh kelanjutan kisahnya kepada @Brightsunn. Ternyata dia melanjutkan tulisan tersebut bersama @putraleonardy yang katanya “suka mengacak-acak alur”, tapi menurut saya hal demikian cukup bagus agar pembaca pun disajikan tulisan dengan alur yang mengejutkan. Tulisan kolaborasi bertiga ini diberi judul Gelap dalam Gelap. […]

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: