Di Antara Dua Jam Matahari

Kita bukan tak saling cinta, bukan pula tak saling rindu. Kita hanya korban jarak dan perbedaan waktu yang berkonspirasi. Tak begitu kejam memang, bahkan tak sekali pun konsensus jarak dan waktu itu melunturkan rinduku. Tapi kamu tak sanggup lagi pertahankan rindu di antara dua jam matahari.

Fajarku adalah pagimu, dan senjaku adalah malammu. Saat matahari menyelipkan cahaya pertamanya melalui celahcelah jendela kamarku, kamu sudah bermandikan hangat sinarnya. Saat matahari memulai perjalanannya ke barat kaki langit cakrawalaku, kamu sudah terlelap dan terbuai dalam mimpi indahmu. Tak begitu kejam memang, bahkan tak sekali pun perbedaan letak matahari itu menggoyahkan cintaku yang hanya kepadamu. Tapi kamu tak mampu lagi pertahankan cinta sejauh tiga puluh derajat bujur bumi yang terus menggerogoti tiaptiap sudut hati kita; membisikkan betapa perihnya cinta tanpa bertatap mata. 

Dan akhirnya pertahananmu runtuh. Terpaksa kita korbankan cinta yang begitu dalam, kepada jarak dan kepada waktu. Tak peduli betapa indah masamasa yang kita lewati, tak peduli betapa riuh cinta yang meraungraung di hati, yang mereka tahu hanya raga yang terpisah dua jam matahari.

Dan akhirnya jarak dan waktu yang menang. Kita hanya mampu berserah kepada cinta yang tak lagi bisa kita andalkan. Kita tak punya kuasa melipat jarak ribuan kilometer yang membuat aku tak mampu menatap sepasang mata indahmu. Kita hanya bisa pasrah kepada Sang Pemilik Jarak dan Waktu, berharap suatu hari Dia satukan lagi cinta kita.

Ya, kita kalah, aku kalah, kau kalah, tapi tidak dengan cintaku. Karena tak semudah itu menghapus rasa yang tercipta bukan secara tibatiba. Tetap kujaga cinta yang setiap detiknya kupersembahkan untukmu; tetap kujaga rindu yang selalu menggebu-gebu untukmu; tetap kujaga semua debar yang tercipta kala kita bermain dalam hujan atau terik matahari, akan selalu kujaga semua cerita cinta kita itu. Meski aku tahu, hatiku pasti akan selalu menggemakan namamu dalam tiap hela nafasku. Meski aku tahu, bayanganmu pasti akan selalu hadir dalam tiap mimpi di malammalamku. Tapi yang harus aku hadapi kini, bahwa cinta dan rinduku tak lagi miliki muaranya: kamu.

Untukmu yang nikmati malam dalam senjaku, ingatlah: aku selalu mencintaimu.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: