Sepucuk Surat

Nadia tergesa-gesa memasuki ruang kelas, dia buru-buru menemui Edo, sahabatnya yang sedang duduk di bangku baris ketiga sambil memainkan smartphone-nya.

“Do,  liat tugas Bu Irma, dong. Gue semalem ketiduran, baru selesai setengah nih, Do!” Nadia mengagetkan Edo yang sedang asyik bermain game di smartphone-nya.

Edo tersentak kaget, “Ah, lo Nad, ngagetin aja! Gue juga belum, Nad. Makanya gue nungguin lo, gue pikir lo udah selesai.”

“Yaaah, gimana dong?” Nadia terduduk lesu di bangkunya.

“Eh, nih gue udah tugas Bu Irma,” tiba-tiba Nina yang duduk di belakang mereka menyodorkan sebuah buku dengan tugas dari Bu Irma yang sudah dia selesaikan.

“Beneran Lo udah selesai Nin? Gue pinjem ya!” Tanpa ragu lagi Nadia menyambar buku yang disodorkan Nina, dan secepat kilat Nadia dan Edo menyalin tugas Nina.

***

“Selamat pagi, anak-anak!” Suara Bu Irma mengagetkan Nadia dan Edo, mereka pun semakin cepat menyalin tugas dari buku Nina. “Ayo, kumpulkan tugas minggu lalu,” lanjut Bu Irma sambil meletakkan buku-buku tebal yang dibawanya di atas meja.

Semua siswa maju dan meletakkan buku mereka di meja Bu Irma. Nadia adalah orang terakhir yang maju untuk mengumpulkan tugas. Dia juga membawa serta buku Edo dan buku Nina. Sebelum sempat menaruh buku-buku tersebut di meja Bu Irma, selembar amplop berwarna merah muda jatuh dari salah satu buku yang dibawa Nadia. Seisi kelas pun bersorak melihat amplop yang sepertinya berisi surat cinta itu. Bu Irma yang melihat kejadian ini segera menyuruh Nadia untuk mengambil amplop itu.

“Bacain! Bacain!” Seisi kelas bersorak serentak meminta Nadia membaca isi amplop tersebut.

“Nadia, ayo dibacakan suratnya,” pinta Bu Irma.

“Tapi, Bu…”

“Sudah bacakan saja, Nad, permintaan teman-temanmu, tuh,” belum sempat Nadia menjelaskan, Bu Irma sudah memotong kata-kata Nadia.

Kemudian Nadia membuka amplop tersebut, dan dia keluarkan kertas yang ada di dalamnya. Kertas itu terlipat rapi. Lalu Nadia membuka kertas itu pelan-pelan. Nadia berdeham sebelum memulai membaca tulisan yang sepertinya surat cinta itu, kemudian ruang kelas menjadi hening.

“Sebenarnya… sudah lama aku memperhatikanmu, dan semakin hari sepertinya aku semakin suka kamu. Aku merasa tak seharusnya perasaan ini aku pendam. Tapi aku juga ragu untuk mengungkapkannya ke kamu. Maafkan aku kalau perasaanku ini mengganggumu, ya. Aku hanya ingin jujur, aku sayang kamu, Nad…” kemudian Nadia terdiam, seisi kelas mulai gaduh mendengar kalimat yang dibacakan Nadia.

Nadia masih terdiam dan bergeming di tengah keriuhan ruang kelas, matanya masih lekat pada kalimat terakhir yang belum selesai dibacakannya. Kemudian dia tegakkan kepalanya, dan matanya menatap ke tengah ruang kelas, lalu dia kembali memastikan tulisan yang tadi dibacanya: with love, Nina.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: